Surat [Doa] untuk Fahmi

Surat [Doa] untuk Fahmi

Yang bunda banggakan
Muhammad Fahmi Nurul Hilmi Kurniawan

Muhammad Fahmi Nurul Hilmi Kurniawan

Muhammad Fahmi Nurul Hilmi Kurniawan

Adzan subuh masih sekitar sejam lagi, tapi kamu, sudah terbangun dan duduk mengamati setiap gerak gerik bundanya ini.

“Bunnn, salim dulu…” Katamu sembari menyodorkan kedua tangan. Tak dihiraukan nenek yang khawatir kamu akan nangis melihat bunda bersiap berangkat.

Cukup terperangah mendengar kalimat yang diucapkanmu, Nak. Selain terharu, ada rasa sejuk nikmat yang bunda rasakan dalam dada ini. Kamu sudah seperti anak yang sudah besar saja meski usiamu belum sampai 2 tahun. Air mata hampir berlinang saat menyambut tangan mungilmu bersalaman.

Tidak ada lagi rengekan dan jeritan seperti kemarin-kemarin jika bunda meninggalkanmu untuk bekerja. Mungkin pemikiranmu sudah cukup mengerti jika bunda pergi untuk kebaikan bersama keluarga kecil kita, ya Nak?

“Fahmi jangan nakal ya sama nenek. Bunda segera pulang kalau sudah selesai.” Matamu mengerjap, membuat bunda tak ingin berangkat meninggalkanmu, Nak.

Rasanya bunda kerja ingin membawamu saja. Terlebih kini kamu sedang lucu-lucunya dan menggemaskan. Dalam kendaraan yang membawa bunda ke ibu kota, bunda selalu teringat dan memikirkanmu, Nak. Teringat betapa keberadaanmu sangat diharapkan dan untuk itu tidaklah mudah.

Bunda sangat bersyukur kamu bisa tumbuh sehat dan berkembang pesat. Tahukah jika sebelumnya, bunda, ayah, nenek, ateu dan om serta semua sanak famili kita sangat mengkhawatirkanmu! Kenapa? Karena sejak kamu berada dalam rahim bunda, sangat banyak ujian serta masalah yang kamu terima. Tanpa hendak mendahului ketetapan Yang Maha Esa, saat itu pikiran serta harapan kami sangat tipis untuk bisa melihatmu lahir jadi anak sehat dan kuat seperti sekarang ini.

Teringat betapa sedihnya tiga bulan pertama masa hamil muda yang bunda rasakan. Mungkin pembawaan janin seperti kebanyakan orang bilang, atau entah karena bunda terlau capek dan banyak pikiran? Yang pasti, tiga bulan pertama kamu berada di rahim bunda, air mata bunda tak pernah berhenti menetes. Tidak enak makan tidak enak tidur.

Sedikit merasa tenang setelah memasuki bulan ke empat, saat tanda-tanda kehidupan sudah ditiupkan Sang Pencipta kepadamu. Bunda senang akhirnya ayahmu menyempatkan datang menengok dan membacakan ayat suci Al Quran turut menyambut kehadiranmu. Sejak itu kondisi bunda terasa lebih baik. Bersyukur setiap mempunyai keinginan dengan mudahnya dapat terkabul. Termasuk keinginan yang bunda rasa neko-neko.

Bunda yakin kamu akan jadi anak yang kuat, Nak. Sejak kamu ada di rahim bunda, kamu sudah terbiasa dibawa sakit dan menderita. Saat bunda sembuh pun, kamu bunda bawa kemanapun bunda bekerja. Bukankah kita sama-sama merasakan berpeluh menerjang panas dan macet suasana ibukota? Kamu dalam kandungan pun ikut merasakan kebanjiran di kota mangga karena ibu harus bertugas ke sana.

Kamu pernah juga bunda bawa untuk ikut long march dari Bundaran HI ke Istana Negara saat kaum buruh mengadakan aksi demonstrasi tepat di Hari Buruh Nasional, dan selama itu kamu selalu bunda ajak bicara, begitu panjang perjuangan ini, Nak…

Keinginanmu pun lain daripada yang lain. Usia tiga bulan, kamu mendorong bunda ngidam naik Gunung Rinjani. Padahal akhir bulan Agustus sedang kemarau dan savana di Sembalun cukup kuat membakar kulit. Banyak pendaki selama perjalanan kulitnya terbakar menjadi gosong. Betapa khawatirnya keluarga besar kita akan kenekatan ini. Banyak yang mengatakan keputusan bunda untuk memenuhi keinginan ini konyol, Nak.

Berkat lindunganNya, kita berhasil menaklukkan Puncak Anjani, bersama menikmati ikan bakar yang diambil dari Danau Segara Anaknya, dan sejenak melepas penat sambil mandi air panas dengan bau belerang yang menyengat. Betapa banyak kemudahan yang kita dapat ya, Nak. Padahal secara kasat mata, masa sih hamil muda dengan kondisi tidak vit mampu mendaki Gunung Rinjani saat musim panas pula?

Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja keinginan yang nyleneh saat hamil muda kembali bunda rasakan. Akhirnya kita melakukan rafting bersama di Sungai Ayung, Pulau Bali. Hal mustahil itu kesampaian dengan sehat selamat tak kurang suatu apa, Nak…

Usia enam bulan, keinginan aneh kembali datang. Kali ini kita mendaki Gunung Semeru. Tahukah jika di Tanjakan Cinta yang konon kata para pendaki lain, jika mampu melewatinya dengan lancar tanpa henti dan menengok ke belakang segala harapan dan doa pendaki tersebut saat itu akan terkabul? Dan bundamu ini berhasil melewatinya tanpa berhenti dan tanpa menenok ke belakang, Nak!

Tahu apa yang bunda pinta saat itu? Adalah panjatan doa, memon bunda bisa melahirkanmu dengan selamat dan lancar. Mohon kamu bisa tumbuh sehat dan jadi anak sholeh. Itu yang bunda pinta kepada Allah SWT tentunya.

Usia tujuh bulan dalam kandungan, saat itu awal tahun 2013 kita melakukan jiarah ke makam-makam Wali Songo dan meneruskan jiarah ke Pulau Madura. Di setiap makam saat bunda bertawasul, bunda selalu berharap dan membayangkan kelak kamu jadi anak sholeh, membela kebenaran dan jadi panutan ummat.

Hingga memasuki usia 8 bulan, kecelakaan itu menimpa kita. Setiap bulan Februari, bunda selalu teringat peristiwa dimana ayah dan bunda terjatuh dari sepeda motor di jalan raya perbatasan Bandung-Cianjur. Padahal saat itu kamu masih dalam kandungan bunda dengan kondisi yang cukup rawan, Nak. Saat akhir bulan bunda cek USG, dokter Yasa dan dokter Andi menyaakan kalau posisimu justru malah terbalik alias sungsang!

Ya Allah, harapan itu semakin tipis saja rasanya. Ayah dan bunda mulai menghitung-hitung berapa biaya persalinan denga operasi mengingat posisimu tidak normal.

Maha Besar Allah yang telah menyelamatkan kita bersama. Ayah cidera ringan karena helm terlepas dari kepala. Badannya terseret di jalanan hingga tangannya terkilir.

Ibumu ini, yang merasakan bagaimana terlempar dari boncengan, lalu bergulingan dan nyungsep di parit yang empuk oleh rerumputan sedikitpun tidak mengalami cidera. Kepala terlindungi oleh helm yang sudah mengorbankan dirinya sampai kacanya pecah.

Bantal kesayangan dari hamil muda sampai saat ini. Bantal ini menyimpan banyak kenangan.

Bantal kesayangan dari hamil muda sampai saat ini. Bantal ini menyimpan banyak kenangan.

Sementara kamu, Allah SWT melindungimu dengan sempurna. Syariatnya dengan bantal yang selalu bunda bawa kemanapun bunda pergi sejak usiamu 4 bulan di perut bunda, kamu tetap aman tidak terbentur karena entah bagaimana bisa, bantal itu tetap bunda peluk erat. Sampai orang-orang datang menolong, bantal biru bergambar kuda zebra itu masih bunda peluk, melindungi kamu dalam kandungan bunda.

Sejak itu, karena posisimu yang sungsang secara mendadak, rasa khawatir dan cemas selalu menghantui bundamu ini. Ayahmu, meski tampak tenang dan tak banyak mengeluh, sebenarnya dia kelimpungan juga mempersiapkan biaya untuk persalinan nanti di rumah sakit. Dua orang dokter spesialis anak dan kandungan yang ternama di kota kabupaten kita merekomendasikan bunda melahirkanmu dengan operasi, supaya tidak ada resiko yang harus kita ambil.

Hanya doa serta doa pada setiap detiknya yang bisa ayah serta bunda panjatkan demi keselamatan kita bersama. Semua keluarga besar kita di Sukanagara tidak ada satu orang pun yang tidak menitikkan air mata mana kala mengetahui betapa banyak kesulitan yang kita hadapi terlebih di saat menjelang bulan kelahiranmu ke alam dunia, posisimu berubah secara tidak disangka.

Pasrah, hanya itu akhirnya yang kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Hari Minggu tanggal 3 bulan 3 tahun 2013 saat bunda menonton pertandingan bola dan memenangkan tim sepakbola jagoan kita yaitu PERSIB dengan skor kemenangannya 5-1, tanda-tanda untuk melahirkan itu muncul. Dengan sigap keluarga membantu semuanya. Bunda dibawa ke UGD RSUD Cianjur karena sesuai rencana, persalinan akan dilakukan dengan operasi.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Allah sungguh Maha Segalanya, Nak. Saat kritis seperti itu, dokter yang menangani kita dengan penuh tanggung jawab membatalkan rencana melahirkan dengan operasi karena menurut analisanya, bunda masih bisa melahirkan dengan normal. Subhanalloh…

Dengan sehat dan selamat, tepat pukul 22.45 akhirnya kamu lahir, Nak. Sungguh kebahagiaan tiada tara untuk kami dan semuanya, bahwa kamu bisa menjadi pelengkap kebahagiaan ayah bunda pada akhirnya.
Kini, tanggal 3 bulan 3 tahun 2015 besok, usiamu beranjak 2 tahun. Bunda bangga sekali meski tidak mendapatkan ASI tapi kamu bisa menjadi anak yang cerdas, sehat dan kuat. Sifat pemalu yang tampak pada dirimu semoga tidak menjadi penghambat untuk meraih semua cita-citamu kelak, ya Nak.

Nak, demikianlah surat yang bunda buat untukmu. Ayah dan bunda beserta keluarga besar tentunya tak akan berhenti untuk berdoa dan berharap kamu jadi anak soleh yang bisa kami banggakan. Amin…

IMG00736-20140904-0649P1190001 - Copy

Fahmi, surat ini bunda buat untukmu, sekaligus untuk ikut berpartisipasi merayakan ulang tahunnya saudaramu, Aiman puteranya Om Ihwan dan Tanteu Ivonie yang sedang berbahagia di kota Malang sana. Kalian berdua, Fahmi dan Aiman semoga jadi anak soleh yang menjadi kebanggan para orang tua ya, Nak… Amin!

Sukanagara, 27 Februari 2015
Salam sayang, ayah dan bundamu…

http://www.keluargabiru.com/2015/02/giveaway-surat-untuk-ananda.html

http://www.keluargabiru.com/2015/02/giveaway-surat-untuk-ananda.html

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Surat Untuk Ananda

Comments

  1. Terimakasih Mbak atas partisipasinya.
    Wah Fahmi keren n hebat,sejak di dalam kandungan udah mbolang ke sana ke mari πŸ˜€

  2. Oh iya, sekedar saran. Untuk penamaan url artikelnya kurang SEO, yang bagus itu url ya sesuai judul artikelnya mbak. Seperti punya saya ini: http://www.keluargabiru.com/2015/03/ultah-berkesan-dengan-edible-cake.html
    Jadi bukan angka kayak milik Mbak gini: http://tetehokti.com/2015/02/26/1133
    Coba Mbak tanya ke IT yang menangani situs Mbak ini, bisa kok disetting.

    • Makasih banyak infonya, Mas…
      memang sejak jaman di multiply saya mah gaptek terus nih, hehe…
      akan saya ganti kalo gitu, nanya2 dulu cara setinggnya gimana πŸ™‚

Speak Your Mind

*