Aktivis Melek Facebook: Pengalaman Menguak Kasus Pungli/KKN

Aktivis Melek Facebook: Pengalaman Menguak Kasus Pungli/KKN

KKN

Tubuhku bergetar mendengar kabar yang disampaikan teman lewat pesan singkatnya. Disusul panggilan teleponnya beberapa menit kemudian. Bergetar bukan karena aku takut, tetapi merasa tidak percaya bahwa apa yang aku lakukan dan kuanggap sepele itu ternyata mampu membawa dampak yang lumayan besar. Andai temanku tak memberikan informasi, aku tidak akan tahu kalau apa yang telah aku tulis dan kirim ke Group di Facebook bisa meledak hingga pemerintah saja dibuat kalang-kabut dan berang. Luar biasa.

Setelah pembicaraan lewat telepon berakhir, sambil bekerja kubaca kembali kabar singkat dari temanku itu. Katanya aku harus berhati-hati, karena saat sosialisasi pertemuan antara pemerintah Indonesia yang mana diwakili oleh KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) dengan para buruh migrant (BMI) di Taiwan, perwakilan pemerintah itu sudah menuduhku sebagai biang permasalahan. Mereka juga mengatakan sedang mencariku terkait berita yang aku buat tidak hanya sudah tersebar di wilayah Taiwan, tapi juga sudah sampai di Indonesia dan mungkin segala penjuru dunia! Subhanalloh, begitu dahsyatnya kekuatan internet meski hanya lewat situs jejaring sosial.

Aku tersenyum. Senyum puas karena kerja kerasku berhasil. Aku juga tersenyum mendengar pihak pemerintah yang menuduhku sebagai biang permasalahan. Yah, kalau kedoknya sudah terbongkar dan tersebar luas, bisa-bisanya mereka memutar balikan fakta seperti itu.

Menurut temanku yang hadir saat acara sosialisasi KDEI dan para pekerja itu tadi, aku dituduh mereka sebagai buruh perusuh. Dalang pengadu domba. “Siapa itu Okti Li? Kalau bukan dalang yang mengadu domba antara TKI dan pemerintah, mana orangnya? Jangan hanya ngomong di Facebook tapi buktikan kalau orangnya ada. Datang ke kantor dan klarifikasi semua pemberitaannya yang mengacau itu.”

Lagi-lagi aku tersenyum. Puas membayangkan bagaimana berapi-apinya petugas pemerintah itu berbicara di hadapan anggota Ikatan Pekerja Indonesia Taiwan (IPIT), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Taiwan (ATKI) dan semua buruh migrant yang hadir di kantor IPIT yang bertempat di Central Building, Taipei City.

Ternyata, berjuang untuk menegakan kebenaran itu tidak harus dengan berdemo atau turun ke jalan. Lewat kerja sama dan komunikasi yang baik dengan nara sumber, lalu menyebarluaskannya di dunia maya lewat situs jejaring sosial Facebook pun bisa berhasil.

Sebagai buruh migrant di Taiwan yang pada umumnya terkurung dalam rumah majikan, aku memang terbatas sekali untuk melihat dunia di luar sana. Dalam satu bulan belum tentu aku diizinkan libur satu hari karena meski pekerjaan ringan dan santai, namun pekerjaan merawat orang sakit tidak boleh ditinggal. Kadang enam bulan sekali aku baru bisa libur dan bertemu teman.

Karenanya waktu luang sehari-hari aku pergunakan untuk membaca dan menulis. Semakin modern teknologi aku pun berkesempatan berkenalan dengan situs jejaring sosial Facebook. Lewat Facebook ini lah aku meyakinkan diri bisa berbuat kebaikan meski onlinenya hanya dari sisi ranjang pasien yang aku rawat. Facebook menjadi batu loncatanku untuk berinteraksi dan menjelajahi dunia luar.

Aku orangnya cukup kritis. Paling anti diam kalau menemukan fenomena penyalahgunaan atau pelanggaran hak. Terlebih di Taiwan, yang mana hak serta kesejahteraan para pekerja Indonesia banyak sekali dilanggar oleh majikan, agency maupun pihak lain yang terkait. Bentuk pemberontakanku terhadap kejadian itu ialah dengan menuliskannya dan mem-publish-nya di dunia maya. Seolah aku curhat kepada teman-teman di seluruh penjuru dunia. Ada kelegaan tersendiri dalam dadaku setelah aku membuat tulisan dan dibaca orang lain.

Termasuk saat Ade Ipank, aktivis ATKI tengah berkunjung ke Taiwan dan menemukan keganjilan mengenai biaya perpanjangan dan atau pembuatan buku baru paspor di Kantor KDEI, Nei Hu-Taipei City. Aktivis ATKI itu menceritakan secara detail kalau sebenarnya perpanjangan paspor itu gratis alias tidak dipungut bayaran dan untuk penggantian buku hanya dikenakan biaya NT 300. Padahal semenjak aku datang di Taiwan awal tahun 2006 lalu biaya perpanjangan paspor yang dikenakan pihak KDEI itu tu lebih dari NT300 bahkan bervariasi. Minimal NT 2.000 bahkan untuk pekerja yang tinggal di luar kota Taipei banyak yang membayar lebih, bisa mencapai NT 10.000. Jadi, menurut aktivis ATKI itu biaya yang dikenakan di atas NT 300 itu sudah termasuk pungli yang mengarah ke KKN.

Tanpa pikir panjang, apa yang disampaikan oleh aktivis ATKI kepadaku itu semuanya secara detail aku tulis ulang. Lalu aku publish di catatan Facebookku dan aku kirim ke Group We Want Day Off dan Tolak Overcharging (Biaya Penempatan Berlebihan) Taiwan yang sudah aku buat beberapa waktu sebelumnya.

Kedua Group di Facebook itu memang sengaja aku buat sebagai alat perjuangan menyerukan penindasan yang dialami kami, para pekerja Indonesia di Taiwan. Tentu saja sebagian besar anggota dari Group itu adalah para pekerja di Taiwan, para mahasiswa Indonesia di Taiwan yang selalu aktif dan peduli terhadap permasalahan perburuhan serta beberapa orang pengantin asing (Wanita Indonesia yang menikah dengan pria Taiwan).

Maka bisa dibayangkan bagaimana gemparnya dunia perburuhan di Taiwan saat tulisanku tentang kebobrokan sistem perpanjangan dan atau pergantian buku paspor di Taiwan itu banyak dibaca orang. Banyak yang mengecam dan geram terhadap oknum di Kantor KDEI. Sebaliknya ada pula pihak yang pro terhadap KDEI dan mereka menentang habis-habisan tulisanku itu.

Menyikapi pertikaian itu aku pun semakin gencar mencari sumber serta kesaksian dari teman-teman sesama pekerja. Kesaksian teman-teman yang dimintai biaya di atas NT 300 untuk pergantian buku paspor aku publish lagi. Maka semakin tersudutlah oknum di KDEI. Keadaan di luar sana sepertinya semakin memaanas.

Berharap bisa menemukan solusi secara damai, maka pihak IPIT mengundang perwakilan KDEI untuk memberikan klarifikasi soal biaya pembuatan serta perpanjangan paspor yang transparan dan sebenarnya. Semua pihak yang dianggap berkepentingan diundang untuk hadir, termasuk dari pihak media cetak serta elektronik. Sayangnya, karena aku tak mendapat izin libur dari majikan, aku tak bisa datang saat pertemuan antara perwakilan KDEI dan kaum pekerja Indonesia di Taiwan itu berlangsung.
Karena ketidakhadiranku itu maka perwakilan KDEI yang hadir saat itu mempertanyakan keberadaanku apakah aku ini benar-benar ada sebagai buruh di Taiwan atau hanya pengacau yang mengadu domba antara perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan dengan para pekerja.

“Jangan takut. Kita hanya memberitahukan teman-teman lewat Facebook tentang apa yang terjadi dan itu benar-benar nyata terjadi. Tidak ada yang salah dengan tulisanmu. Jangan tanggapi gertakan atau ancaman dari mereka.” Ujar seniorku di ATKI menenangkan.

Karenanya ancaman dan kata-kata yang tidak enak didengar yang ditujukan kepadaku tak aku hiraukan. Aku malah semakin tertantang untuk terus menulis dan menyerukan kebenaran.

Di Group Facebook aku terus memberikan advokasi mengenai aturan ketenagakerjaan khususnya di Taiwan kepada para pekerja yang masih awam soal hak serta peraturan ketenagakerjaan. Semua itu aku lakukan tentu atas bimbingan serta arahan dari para aktivis buruh yang sudah lebih banyak ilmu serta pengalamannya.

Dalam keterbatasanku sebagai buruh migrant di Taiwan, saat waktu luang aku gunakan untuk online dan mencari akun Facebook para aktivis buruh yang ada di Hongkong, Singapura, Korea, Jepang, Abu Dhabi dan Belanda. Aku terus bertanya kepada mereka dan meminta ilmu serta pengalamannya.

Tidak cukup itu, aku juga mengunjungi beberapa website tentang organisasi perburuhan baik lokal maupun yang berskala internasional, beberapa website milik pemerintah serta blog para aktivis kaum buruh. Aku katakan jika aku tidak bisa keluar karena kondisi pekerjaan. Karena itu aku terang-terangan meminta ilmu serta pengalaman kepada mereka melalui kontak pribadi baik email, pesan inbox maupun lewat seluler.

Bersyukurnya saat itu meski di tanah air situs jejaring sosial Facebook belum begitu popular seperti sekarang, namun di Taiwan sudah bisa diakses dari ponsel. Sebuah kebetulan lagi bahwasanya bisa kita lihat pekerja di Taiwan kebanyakan memiliki ponsel yang sudah canggih dan sudah dilengkapi fasilitas internet. Sejak itu kesibukan onlineku pun semakin bervariasi. Tidak hanya memberikan informasi tentang hak dan peraturan ketenagakerjaan di Taiwan, namun juga tentang bagaimana cara mengaktifkan fasilitas Facebook dari ponsel.

Semakin banyak aku memberikan informasi bagaimana cara membuat akun Facebook di ponsel, semakin lama semakin banyak facebooker BMI Taiwan masuk menjadi anggota Group. Semakin luaslah jangkauan informasi yang bisa aku bagikan kembali. Aku juga mengundang para aktivis supaya menjadi anggota dan pengurus Group. Dengan itu semakin mudah untuk mereka memberikan informasi tentang ketenagakerjaan lewat pesan untuk seluruh anggota Group.

Setiap pekerja yang sudah menjadi anggota Group, dihimbau untuk kembali menyampaikan segala informasi yang telah didapat kepada teman-teman sesama pekerja yang belum menjadi anggota.

“Walau kita bekerja sebagai babu, tapi informasi serta wawasan kita jangan mau kalah apalagi tertinggal. Dengan adanya Facebook kita bisa belajar lebih banyak. Jangan mau dibohongi oleh majikan, agency atau siapapun. Tidak perlu mengganggu waktu kerja, kita bisa menjadi buruh yang pintar dan mengerti akan hak serta peraturan ketenaga-kerjaan.” Begitu pesan dari seorang aktivis dari Hongkong yang membakar semangat para pekerja di Taiwan.

Semakin banyak ilmu dan informasi yang disampaikan oleh para aktivis buruh lewat Facebook yang diakses via ponsel, pekerja di Taiwan pun semakin mengerti dan pintar mengetahui aturan ketenagakerjaan. Termasuk saat informasi pembiayaan perpanjangan paspor meluas, sangkalan dari para oknum serta tuduhan pengadu domba yang disampaikan pihak perwakilan KDEI yang ditujukan kepadaku dengan sendirinya pula dapat langsung ditentang oleh mereka.

Tanpa aku suruh teman-teman justru mendukungku dengan mengupload percakapan antara BMI dengan salah satu oknum pegawai KDEI yang terekam, mengupload photo kwitansi pembayaran perpanjangan paspor dengan harga selangit. Pokoknya teman-teman banyak menambahkan bukti-bukti berupa pengalaman masing-masing saat mengurus perpanjangan dan atau ganti buku paspor di KDEI. Semua itu membuat pihak lawan semakin tersudut dan seolah pihak BMI berada di atas angin.

Akhirnya, perjuangan para pekerja di Taiwan menyerukan kebenaran lewat Facebook membuahkan hasil. Entah karena pemberitaan yang semakin gencar –tidak hanya lewat facebook tapi juga lewat media lainnya– mungkin kepengurusan KDEI di Taiwan khususnya bidang keimigrasian mendapat teguran keras dari pemerintah pusat di Jakarta, Indonesia. Tidak lama setelah keramaian di jejaring sosial Facebook meledak, pihak KDEI mengumumkan adanya sistem baru dalam pengurusan perpanjangan atau pergantian buku paspor denggan harga sesuai undang-undang yang sebenarnya. Gratis untuk perpanjangan paspor dan dikenakan NT 300 untuk pergantian buku paspor.

Tak lama sejak itu pula jajaran staf KDEI dirombak habis-habisan. Banyak oknum yang tidak lagi menjabat sebagai staf KDEI dan posisinya diganti oleh orang baru.

Bersyukur, Facebook bisa membawa manfaat serta barakah untuk pekerja Taiwan yang sebagian besar perempuan. Peran Facebook sangat penting bagi perjuangan para TKW di Taiwan dalam menyerukan kebenaran. Facebook telah ikut membantu perjuangan perempuan Indonesia yang terkurung dan tidak bisa berlibur setiap hari minggu. Karena Facebook BMI Taiwan semakin pintar, faham hukum dan aturan ketenagakerjaan serta ilmu-ilmu lainnya.[]

Speak Your Mind

*