Aku Bercermin Pada Para Guru. Kelak Anakku Harus Beda!

Hari ini, 21 November adalah batas akhir pengiriman tulisan lomba blog di Kompasiana dengan tema “Pentingnya Guru Menulis”.

Semalam, aku banyak membaca tulisan para guru yang dengan semangat tinggi mereka menjelaskan, kenapa guru itu harus menulis, apa saja yang mereka dapatkan dari menulis, dan pencapaian apa saja yang mereka alami dari keajaiban menulis.

Luar biasa! Dengan semangat tinggi, mereka “memperlihatkan” inilah aku seorang guru yang sudah berhasil karena menulis. Ada yang sudah jadi guru teladan tingkat kabupaten, guru favorit murid yang suka berbagi buku hasil karangannya, dan ada guru yang jadi redaktur sekaligus kontributor majalah yang cukup terkenal.

Aku merenung. Kok bisa ya mereka, para guru itu begitu cekatan, gemilang ide, dan pandai membagi waktu. Aku menarik nafas… Melihat suami yang tengah terlelap, padahal dia juga seorang guru, meski masih honorer, belum jadi pegawai tetap seperti mereka.

Bagaikan bumi dan langit. Mereka para guru tampak begitu penuh prestasi, banyak relasi dan full cita-cita hidup yang harus mereka raih. Sementara suamiku, hanya bisa mengeluh, menyalahkan, merasa minder, malu dan cepat lelah.

Suami bercita-cita tinggi. Ingin itu, ingin begini, tapi dia tidak mau berusaha keras. Cukup dengan kata tidak bisa, malu, dan merasa orang lain itu berhasil karena banyak dukungan, banyak koneksi, banyak modal, dan sikap menyalahkan orang lain pada umumnya.

Suamiku, jauh beda dengan para guru yang sangat maju itu. Mungkin itulah mengapa suamiku sampai sekarang belum diangkat juga jadi PNS, karena sikap dan kemampuannya memang hanya sebatas itu. Tidak biasa bekerja keras, tidak pernah mendapat didikan terbaik dari keluarga sebagaimana dikatakan mertua kalau sejak kecil dia memang sangat dimanja.

Aku menarik nafas. Biarlah suamiku jadi dirinya sendiri. Toh selama ini dia sepertinya alim. Mungkin juga justru karena terlalu alim itulah jadi lupa akan sosialisasi lingkungan dan masyarakat. Yang pasti anakku jangan sampai demikian. Anakku harus bisa menyesuaikan diri dimanapun berada. Harus bisa menyeimbangkan urusan dunia dan akherat.

Aku tidak mau menantuku nanti merasakan bagaimana perasaanku selama ini…

Speak Your Mind

*