Apakah Sepeda Motor Pilihan dari Hasil “Mengenang Perjalanan Panjang”?

Sudah hampir seminggu ini aku memikirkan apakah lebih baik memilih pulang pergi naik kendaraan bermotor yang sesekali bisa bareng suami untuk bisa kerja dan tetap memomong Fahmi. Padahal, sebelumnya aku selalu naik kendaraan umum dan memilih menitipkan Fahmi di Sukanagara bersama neneknya.

Masalahnya satu bulan terakhir ini merebak pemberitaan soal pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di beberapa tempat yang membuat banyak terjadi imbasnya terhadap rakyat menengah ke bawah yang cukup meluas.

Di beberapa tempat bahkan BBM itu tidak ada, kalaupun ada, harganya mahal. Ini membuat jasa angkutan umum menaikan tarif ongkosnya. Dan aku yang selama ini sering bepergian menggunakan kendaraan umum salah satu yang termasuk kena imbasnya juga.

Selain ongkos yang (saat ini) naiknya gila-gilaan, naik kendaraan umum juga sebenarnya memerlukan banyak waktu, tidak seperti naik sepeda motor yang bisa salip menyalip sehingga kemungkinan kecil stuck kejebak macetnya. Perjalanan pendek bisa menjadi perjalanan panjang jika aku menggunakan kendaraan umum.

Aku jadi selalu membanding-bandingkan pengalaman waktu sebelumnya, bagaimana panjangnya perjalananku, disertai halangan, rintangan, sampai keajaiban-keajaiban yang aku temui sejak berangkat dari rumah hingga sampai ke rumah lagi.

Saat aku mau menghadiri acara seminar perburuhan UNIMIG, misalnya. Aku lupa bagaimana runutnya perjalananku, karenanya aku copas saja dari postingan sebelumnya (hehe!) Yang pasti betapa s enangnya saat melewati perjalanan panjang yang biasanya hampir 24 jam, dengan keajaiban bisa dilalui dengan waktu 17 jam saja…

Seperti kisahku itu:

P1220790

Akhirnya bisa rebahan juga di rumah sebelum isya. Terimakasih Ya Allah untuk semua yang telah aku lalui dari sekitar pukul tiga dini hari tadi, sampai aku bisa kembali dan bisa istirahat dengan nyaman di rumah pukul delapan malammya. Begitu banyak kejadian yang telah aku lalui tidak seperti biasanya.

Seperti biasa, jam tiga naik mobil Kang Oyan menuju Jebrod. Bukannya tidur karena sebelumnya hanya memejamkan mata satu jam saja, yang ada malah ada ide buat menulis dan melihat email masuk. Sampai Jebrod jam setengah enam, tapi tumben belum ada bus Parung Indah, apa sudah berangkat?

Tadinya aku mau duduk di depan toko, eh, busnya ternyata baru saja datang. Aku langsung saja naik dan menyamankan diri di dalam dari dinginnya pagi.
P1220768
Untung sekali rasanya aku naik bus Parung Indah ini. Saat di Ciloto ada kecelakaan truk tabrakan dan masuk jurang, bus yang aku tumpangi ada sekitar enam mobil di belakang yang kecelakaan itu. Saat masih sedikit mobil yang antri, bus Parung Indah segera lewat. Kalau tidak, atau aku naik bus di belakangnya, wah… bisa-bisa aku kejebak macet dan kesiangan ikut seminar UNIMIG.

Sampai Ciawi aku ganti naik APTB. Alhamdulillah, ada jurusan Grogol dan aku masih bisa duduk. Meski macet di Cawang, tapi setidaknya jam setengah sepuluh aku sudah sampai di lokasi acara.

Mbak Yuherina Gusman sebagai panitia sekaligus pembicara ternyata sedang hamil, wah… selamat ya  saat di dalam, tidak disangka aku jumpa Mas Nursalim dari Migrant Institute. Wah! Surprise banget rasanya. Apalagi Mba Lia dan Keishan juga datang. Jadi rame. Acara seminar UNIMIG berlangsung dengan seru.

Setelah bubar acara, kami langsung makan siang di restoran Kenanga. Makan nasi dan lauknya dengan lahap, makan ice cream plus buah segar. Alhamdulillah.

Suasana seminar UNIMIG

Suasana seminar UNIMIG

Karena Mas Nur bawa sepeda motor, pulangnya aku nebeng sampai ke Pasar Rebo, lumayan kan irit waktu sekaligus irit ongkos meski deg-degan juga karena aku tidak memakai helm.

Naik bus jam 2 siang, sampai Jebrod jam 5 sore. Untung tidak hujan, aku terus berjalan sambil mencegat mobil sampai dapat di depan SMK Pertanian.

Bisa dibilang lancar aktivitas hari ini, ikut seminar tidak kesiangan (padahal biasanya kalau ada acara mulai jam 9, aku pasti kesiangan terus). Tapi kali ini tidak! Pulangnya juga bisa tepat waktu karena ada pertolongan Mas Nur yang mau memboncengkan aku.

Semoga kedepannya setiap ada acara, atau kegiatan, aku bisa menjalaninya dengan lancar sesuai keinginan dan tidak kesiangan lagi. Semua ini tidak luput dari doa orang tua, anak suami dan karena ketentuan-Nya.

— == — == — == — ==

Jika mengenang perjalanan itu, semangat untuk terus aktif beraktifitas (meski meninggalkan anak) rasanya begitu besar dan semakin besar. Harapan untuk terus bisa melakukan perjalanan sependek mungkin dengan hasil kerja yang maksimal semakin nyata.

Dan saat sekarang tarif ongkos naik tidak merata di berbagai moda transportasi antar kota maupun daerah (alasannya karena BBM langka dan mahal) pilihan untuk naik kendaraan roda dua semakin mencuat. Tidak lepas dari memikirkan segala resikonya pula tentu saja. (0l)

Speak Your Mind

*