Bagaimana Cara Orang Tua Membentuk Karakter Baik Pada Anak?

Bagaimana Cara Orang Tua Membentuk Karakter Baik Pada Anak?

Hindari Obesitaspekerjaan (Tak disadari) Ibu rumah tangga

Karakter baik pada anak salah satunya bisa dibentuk sejak dini melalui membaca buku. Sejak dini membiasakan membacakan buku cerita pada anak paling tidak akan mendapat banyak manfaat seperti kata Mbak Vanda Nur Arieyani melalui sharing ilmunya di kicauan Twitter Kumpulan Emak-emak Blogger.

Jadi ingat pengalaman membacakan buku untuk anak. Baik itu sudah punya anak sendiri yaitu Fahmi. Maupun sebelum mempunyai anak sendiri alias saat masih melajang dan bekerja di luar negeri. Termasuk sekarang ketika anak sendiri sudah bisa mengajak teman-temannya untuk bersama-sama mendengarkan cerita dari sebuah buku yang saya bacakan di Pondok Mengaji Al Hidayah.

Bisa membacakan buku kepada anak sejak dini ini memang luar biasa sekali dampaknya. Selain bisa menjadi penguat kedekatan antara orang tua dan anak, dengan membaca buku juga ternyata bisa membantu membentuk karakter baik pada anak, lho!

Saat menerima Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad SAW karya Mbak Astri Damayanti tak tergambarkan bagaimana girangnya Fahmi. Meski belum bisa baca, tetapi dengan melihat tampilan buku serta ilustrasinya dia sudah bisa membayangkan bahkan berimajinasi tinggi.

13517782_1665014496848471_640138516_o

Beberapa hari membacakan cerita untuknya, diam-diam ternyata Fahmi menerapkan apa yang kami bahas ketika membaca kisah itu kepada teman-teman sepermainannya.

“Jangan jalan-jalan kalau lagi makan. Ayo Dan duduk , Nabi juga kalau makan duduk, kok!”

Begitu celotehnya kepada teman sepermainannya di teras rumah. Saya yang mendengar dari balik jendela teramat bersyukur. Semoga masih banyak manfaat-manfaat lain yang bisa didapat anak. Khususnya dalam membentuk karakter baiknya.

Kisah para nabi memang menceritakan kebaikan dan teladan manusia pada umumnya. Namun bukan berarti krisis moral yang terjadi pada anak karena si anak tidak sempat membaca/mendengar kisah-kisah nabi itu. Banyak faktor yang membuat moral anak-anak mengalami krisis. Bukan hanya karena kisah teladan tidak sampai kepada mereka.

Penyebab krisis moral terbesar yang terjadi pada anak-anak menurut saya adalah justru para orang tuanya sendiri. Diikuti, lingkungan –termasuk sekolah– yang kesemuanya itu bersumber dari satu titik yaitu: pola asuh.

Hindari Obesitaspekerjaan (Tak disadari) Ibu rumah tangga (1)

Jangan anggap peran orang tua terhadap anak itu kecil. justru orang tua berperan paling besar. Tidak saat anak sudah bisa bersosialisasi, melainkan sejak anak masih dalam kandungan! Kebiasaan orang tua baik yang buruk maupun yang bagus sangat menentukan bagaimana karakter anak akan terbentuk. Kebiasaan baik dan kebiasaan buruk orang tua menjadi hal pertama yang dilihat, didengar, dipelajari, dan diikuti oleh anak sampai anak dewasa kelak.

Begitu juga dengan lingkungan dan sekolah. Salah pergaulan anak bisa terjerumus meski didikan orang tua sudah ketat dan disiplin. Jangan salahkan anak, karena sifat anak memang mencari tahu dan wajar anak mencari dan mencoba.

Kembali kepada orang tua, bagaimana supaya menjadi orang tua yang bukan hanya menjadi tempat anak meminta uang serta makan, tetapi juga berperan sebagai teman, sahabat, tempat anak mengadu, tempat anak percaya dan merasa terlindungi. Saya rasa itu yang sulit dan tidak semua orang tua mampu memerankannya.

Mendapati krisis moral pada anak tidak perlu memarahi anak, tetapi segeralah intropeksi diri. Selaku orang tua, selaku guru atau apapun peran kita terhadap si anak yang tengah mengalami krisis moral tersebut. Jika anak mengalami gangguan baik dalam karakter maupun moralnya, dipastikan ada yang salah gangguan juga pada pola asuh yang diterimanya.

Comments

  1. Setuju Teh, pola asuh anak itu banyak terpengaruh dari orang tua juga. Karena saat anak-anak mereka kan peniru ulung, kalau mau anaknya berprilaku baik mau gak mau orang tua dituntut untuk bersikap baik. Gitu kan ya Teh.

    • tetehokti says:

      benar Mbak 🙂
      suka kasihan sama ortu yang nuntut ini itu sama anaknya, tetapi ia sendiri (ayah dan ibu) malah jarang ada di rumah dan sama sekali gak kasih perhatian sama anaknya 🙁

  2. bener banget, anak pasti meniru kedua orang tuanya, kalo sering ngebentak, dia juga akan begitu, soal kebiasaan membacakan buku ini juga mak, banyak sekali manfaatnya…, anak pertama cepat membaca karena sering dibacaain dongeng…

  3. Anak-anak.. itu cepet niru.. jadi walau becanda sama suami aku liat2 dulu.., kadang marahan becanda.. aku pura2 nendang kasur..eh.. anakku usia belum 2 tahun ikutan..wee..langsung sadar..

  4. setuju sekali ama postingan nya mbak, semua bermula dari orang tua sebagai sumber pendidikan anak yang utama. children see children do… kunci utamanya ya polah asuh dari orang tua dan lingkungannya. salam kenal

  5. wah makasih mba sharenya ..
    Saya mom to be ..

    salam kenal ya ..
    vivitvinifera.blogspot.com

  6. Jadi orang tua itu kudu pinter, sayangnya ngga ada sekolah orang tua. Ilmu parenting juga harus dipilah-pilah, karena ngga semua cocok dengan kultur di Indonesia.
    Well, semoga para ibu dan ayah makin melek dengan cara mengasuh anak yang baik. Agar anak tidak salah jalan.
    Nice post, Teh… : )

  7. Jadi orangtua memang tidak mudah, harus selalu belajar dan update ilmu utk mendidik, mengasuh dan membimbing anak2

  8. “Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Kita, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati kita” – Robert Fulghum

    itu yang selalu saya tanamkan dalam paradigma saya untuk bisa mengasuh anak 🙂

  9. Setuju, Teh. Mengenalkan buku sejak dini pada anak memang penting banget. Buku pun kadang bisa menjadi penasihat yang didengar sama anak ya, haha…

  10. Yuph, pola asuh dan pola didik memang mempengaruhi karakter anak-anak nantinya. Anak saya juga senang membaca, tiap mau tidur harus dibacain satu buku dulu, kalau nggak ya nggak merem2… hehe

Speak Your Mind

*