Bandung: Mengingat Kelahiran dan Kematian

Bandung: Mengingat Kelahiran dan Kematian

BANDUNG (1)

Kelahiran dan kematian tidak akan pernah lepas dari kata Bandung. Di kota kembang ini tempat saya dan adik-adik lahir. Di Varis Van Java ini juga adik kami meninggal dan makamnya hilang!

Masa kecil kami –saya dan adik– dhabiskan di Jalan Gumuruh, Binong. Mungkin lebih terkenal dengan Jalan Gatsu (Gatot Subroto) dengan angkutan kota “kojo” nya 01 trayek Kebon Kalapa – Cicaheum.

Pertama ada kegiatan di Bandung setelah hampir sebelas tahun hidup merantau di luar negeri

Pertama ada kegiatan di Bandung setelah hampir sebelas tahun hidup merantau di luar negeri

Tahun delapan puluh sampai sembilan puluhan, tentu saja belum ada Bandung Super Mall (BSM) apalagi Trans Studio beserta Hotel-nya yang super wah. Lokasi yang saat ini digunakan sebagai areal elite itu jaman saya sekolah dasar adalah sebuah tegalan dan pemakaman umum. Kuburan Cibangkong kalau tidak salah namanya.

Kami memang bukan asli orang Bandung. Ayah saya berasal dari Salawu, perbatasan Tasikmalaya dan Garut. Sukaratu Rancak Kampung Naga tepatnya. Sedangkan ibu, berasal dari Cianjur. Kami bisa tinggal di Bandung karena ada majikan nenek dari pihak ayah di Rancak, yang mempunyai tanah di Samping Mesjid At-Taufiek (dekat Jalan Rancamanyar IV, ujung Terusan Martanegara) dan membutuhkan orang untuk mengurusnya.

Jadilah ayah dan ibu merantau di Bandung. Mengurus lahan kebun yang dominan ditanami cengkeh serta buah-buahan. Selain itu ayah juga usaha dengan berdagang. Sampai lahir aku dan adikku Agus yang hanya terpaut usia sekitar satu tahun saja.

Belum ada Blogger Bandung atau Kompasianer Bandung. tapi saya sudah mengenal sebagian dari mereka

Belum ada Blogger Bandung atau Kompasianer Bandung. tapi saya sudah mengenal sebagian dari mereka

Sekolah Dasar aku dan adikku ditamatkan di SDN Kridhawinaya III yang bergabung dengan SDN Kebon Gedang. Total ada tujuh sekolah dalam satu kompleks di Maleer. Kelas pagi dan siang diberlakukan karena bangunan yang tidak bisa menampung seluruh murid.

Namanya anak-anak, banyak kenangan manis yang sampai saat ini selalu dapat aku kenang. Tidak hanya ketika aku berkesempatan main ke Bandung, tapi juga ketika aku berada jauh di luar kota bahkan luar negeri.

Setiap pulang sekolah selalu bermain sepeda bersama teman-teman. Jarambah istilah orang tua menyebutnya karena kami main sampai ke Kiara Condong, ke Lapangan Lodaya, atau ke Yogya di Jalan Sunda yang saat itu sangat terkenal. Bukan mau belanja, tapi sekedar nongkrong saja. Ke Kiara Condong cuma lihat kereta api lewat, ke Lodaya cuma abring-abringan saja, dan ke Yogya pun cuma lihat-lihat saja. Euweuh gawe memang, tapi suka banget!

blogger kompasianer ngariung di Bandung.

blogger kompasianer ngariung di Bandung.

Setiap hari minggu, setelah shalat subuh biasanya kami saling nyampeur teman-teman. Kami berlari bareng-bareng ke Lapangan Lodaya. Pulangnya mampir ke Hero supermarket di Jalan Maskumambang dan jika punya uang kami langsung berenang di kolam renang hotel samping supermarket dekat Rumah Sakit Islam Bandung itu.

Tidak akan habis rasanya jika membahas masa kecilku di Bandung ini. Dan semuanya sangat indah. Sampai aku kelas empat dan adikku kelas tiga, ibuku mengandung anak ketiga. Entah ada masalah apa saat ibu melahirkan, ibu-ibu sekitar rumah di RT 01 Rw 05 membawa ibuku ke Rumah Sakit Islam Bandung. Kami memang termasuk golongan tidak mampu namun tetangga kami terbilang orang berada semua. Mereka yang menguruskan semuanya hingga selesai.

Singkat cerita ibuku pulang dengan selamat setelah melahirkan. Namun tidak dengan adikku yang katanya berjenis kelamin perempuan. Aku masih kecil mungkin, tapi aku dapat melihat bagaimana kesedihan di wajah mereka. Adikku yang kedua itu tidak tertolong. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun…

Dibantu warga setempat, adikku dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gumuruh. Setelah itu kalau bermain sepeda aku dan Agus juga teman-teman lainnya ada Nia, Ari, Angga dan Anggi, Hani dan Desti, juga Mimi dan Upi menyempatkan juga main ke makam dimana adikku dimakamkan. Belum bisa berdoa dengan baik memang, tapi paling tidak melihat apakah ada sampah atau rumput liar di atasnya.

Narsis bareng Ahmad Fuadi Negeri Lima Menara saat masih lajang di Bandung

Narsis bareng Ahmad Fuadi Negeri Lima Menara saat masih lajang di Bandung

Hampir lulus SD, karena tanah yang kami tempati dijual oleh yang punya maka kami pun pindah. Ketika ayah ibu dan Agus pindah ke Cianjur, beberapa bulan sampai aku terima NEM dan kelulusan, aku sementara tinggal bersama tetangga yang baik hati. Yang aku sebut sebagai keluarga angkatku. Selama aku masih di Gumuruh itu, hingga aku dinyatakan lulus dari SD aku masih suka menyempatkan menengok makam adikku di TPU Gumuruh.

Selama kami tinggal di Cianjur, ayah selalu menyempatkan juga menengok makam adik jika tengah ada urusan ke Bandung. Sampai dua tahun kemudian, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya di Cianjur. Otomatis tidak ada lagi yang bisa sering-sering menengok makam adik di TPU Gumuruh.

Singkat cerita sekitar empat tahun kemudian aku baru bisa datang ke Bandung lagi dan berniat berziarah ke makam adik. Namun berkali-kali aku bolak-balik mencari makam adik tetap tidak ketemu. Ingin menangis rasanya. Tapi tidak tahu harus bagaimana. Dan aku pun tidak ada keberanian untuk mengabarkan itu kepada ibuku di Cianjur.

Saat hamil ikut berpartisipasi memeriahkan acara pemilihan Gubernur dan Calon Jabar di Sabuga, Bandung

Saat hamil ikut berpartisipasi memeriahkan acara pemilihan Gubernur dan Calon Jabar di Sabuga, Bandung

Pun setelah aku berkeluarga, banyak urusan pekerjaan dan lainnya ke kota Bandung, aku selalu mengajak suami mampir ke Gumuruh. Kebetulan masih ada Nia dan keluarganya yang masih tinggal di tempat yang dulu. Tetapi makam adikku tetap tidak juga aku temukan. Entah mungkin dibongkar dan diganti oleh makam orang lain, aku sendiri tidak tahu pasti.

Sedih? Pasti. Bagaimana bisa nisan adikku yang sudah ditembok oleh ayah kandungnya sendiri bisa hilang? Kami tidak bisa banyak berbuat, kecuali tetap mengirimkan doa terbaik untuknya. Biar nisannya tidak ketemu, tetapi tetap melekat kuat dalam ingatanku.

Setelah punya anak, tetap keukeuh main ke Bandung dengan alasan ikut kegiatan blogger :)  Ini saat acara Ulang Tahun  Komunitas Emak Blogger sekaligus ultah saya, di Telkomsel Digilife Dago, Bandung

Setelah punya anak, tetap keukeuh main ke Bandung dengan alasan ikut kegiatan blogger 🙂
Ini saat acara Ulang Tahun Komunitas Emak Blogger sekaligus ultah saya, di Telkomsel Digilife Dago, Bandung

Bandung makin hari makin sibuk berbenah diri. Setiap orang berlomba untuk berkunjung dan menikmati suasana indahnya. Aku adalah sebagian dari mereka yang ikut memadati Bandung sekedar untuk mengingat kelahiran serta kematian. Fokusku tetap ke TPU Gumuruh meski ada paman dan bibi di Holis, sepupu di Cikadut, atau kawan-kawan blogger Bandung yang menyebar di berbagai wilayahnya. (ol)

Nia Haryanto GA

Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung

Comments

  1. Wah seru ya teh kisah ngeblognya n kenangan tgl di bandung,,utk adiknya teh okti yg penting doanya jgn putus teh utk ketenangn alm adiknya teteh disana 🙂

  2. Aduh… kok aku jadi sedih ya bacanya. Inget masa kecilku juga. Jarambaaaah. 😀
    Nuhun sudah ikutan GA saya, Teh Okti 🙂

    • Okti Li says:

      Sami2 Teh Nia 🙂
      iya, saya dan keluarga pun masih suka tak terasa meneteskan air mata Teh, jangankan ibu saya, saya aja yang gak lihat jelas bagaimana merasa terpukul banget kalo inget makamnya hilang gitu aja…

      Muhun, mugia sukses GA-na nya 🙂
      ukur ngareuah-reuah we ieu mah, hihi…

Speak Your Mind

*