Bekpekeran Asal: Modal Kenalan dan Kenekatan

Bekpekeran Asal: Modal Kenalan dan Kenekatan

www.tehokti.com (1)

Definisi bekpeker yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti. Yang aku tahu dan sudah kualami adalah bepergian untuk jalan-jalan itu ternyata tidak selalu identik dengan biaya mahal. Kita bisa jalan sendiri tanpa bantuan agen wisata dengan biaya minimal namun kita dapat menikmati perjalanannya secara maksimal.

Meski dulu dianggap orang kere alias tidak punya cukup biaya untuk berwisata, siapa sangka kini bekpeker justru menjadi trend dan gaya hidup orang kota. Tidak mustahil itu terjadi karena memang perjalanan secara backpacking itu mudah, seru, asyik, dan manfaatnya banyak.

Kenapa jalan ala bekpeker itu seru? Bayangin aja, melancong ke tempat baru dengan perbekalan seadanya, paling tidak aku harus tebal muka. Aku selalu mengusahakan untuk berinteraksi dengan orang yang aku temui. Khususnya warga sekitar tempat aku numpang nginap. Awalnya malu, tapi kini aku sudah biasa.

Kadang jumpa kawan seperjalanan, meski awalnya ragu karena baru kenal tapi lama-lama rasanya seperti sehidup semati saja.


Apa yang dialami dan kekonyolan yang dilakukan semuanya selalu terkenang dan menjadi pembelajaran hidup. Saat pulang aku akan bangga telah berhasil melewati semua proses itu. Meski kadang perjalanan tak selancar yang diharapkan.

Bekpekeran itu pasti asyik karena setiap jalan selalu saja menemukan hal-hal baru yang tidak akan kutemui jika tidak jalan ala bekpeker. Apalagi kalau jalan bekpekerannya rombongan, kebayang perjalanannya bakal makin seru, gokil dan asyik.

Awal mula aku “menobatkan diri” sebagai seorang bekpeker sejak tahun 2010 saat aku pulang dari rantau. Sekian banyak teman serta kenalanku yang aku kenal dalam perantauan, baik yang ketemu langsung maupun sebatas di dunia maya memintaku untuk main datang ke rumah mereka di kampung halamannya setibanya aku di tanah air.

Saat itu aku masih menganggur dan merasa masih punya bekal sekadar untuk jalan-jalan. Jadi sama sekali tak keberatan memenuhi undangan sekaligus permintaan beberapa teman di luar kota dan luar provinsi.

Saking seringnya jalan, lama-lama aku jadi merasa ketagihan dan terus tertantang untuk mendatangi kota dimana teman-temanku berada. Padahal tabungan semakin menipis. Siasatnya aku cari kenalan di kota tujuan dengan harapan bisa meminimkan budget. Setibanya di kota tujuan, setelah silaturahmi dengan orang yang dituju aku diajak dan diantar mengunjungi lokasi wisata setempat. Jadinya sekali dayung dua pulau terlalui. Awalnya sowan ke tempat teman lanjutnya ada bonus menikmati aneka wahana wisata setempat.

Bisa dibilang modalku bisa masuk ke dunia bekpekeran adalah karena ada kenalan dan adanya teman. Jika tidak punya kenalan atau teman di satu tempat yang akan dituju, aku cari kenalan/ teman dulu di jejaring sosial atau milis bekpeker. Selebihnya adalah modal nekat tingkat tinggi saja.

Mungkin itu hal yang mendasariku kenapa semakin keranjingan menjadi petualang bekpeker. Murah meriah. Ga perlu mikirin budget gede atau mau nginep dimana. Seiring dengan bumingnya istilah bekpeker dan banyak diberitakan mengenai petualangan di media-media. Bangga sekali saat kondisi keuangan minim, dengan perbekalan pas-pasan bahkan tak cukup dan waktu mepet tapi aku tetap bisa jalan untuk mengeksplor dunia seluas-luasnya!

Aku harus berterimakasih kepada teman-teman yang pada akhirnya tidak saja teman yang aku kenal saat kerja di perantauan, namun juga teman yang aku kenal dari dunia maya. Mereka yang siap menerima kedatanganku dengan penuh kehangatan dan siap menjadi tumpangan sekaligus guide selama aku tinggal di kotanya.

Saking seringnya jalan, aku sudah terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum jalan. Apa saja yang harus dibawa. Tentu saja karena perjalanan bekpeker jelas beda dengan perjalanan biasa.

Pertama aku selalu merencanakan perjalanan dengan matang. Sangat aku perhitungkan kira-kira apa saja yang akan aku alami di kota tujuan nanti. Memperbanyak informasi tentang kota tujuan dengan cara tanya langsung ke teman yang tinggal di kota tersebut maupun sekadar baca-baca di internet seputar informasi yang berkaitan. Rasa siap dan percaya diri akan timbul jika pengetahuan tentang seputar perjalanan ke kota tujuan dirasa cukup.

Selanjutnya aku bicarakan kepada keluarga atau teman tentang niatku akan pergi ke kota tujuan. Ini penting karena menurutku doa serta dukungan moral dari keluarga adalah modal utama. Secara garis besar aku jelaskan kepada mereka berapa lama dan kemana aku akan jalan.

Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga kesehatan sendiri. Sebelum berangkat atau dalam perjalanan, tubuh diusahakan hatus tetap vit. Perjalanan bekpekerku identik dengan kendaraan (maaf) kelas bawah alias serba ekonomi. Kadang naik mobil tumpangan yang asal kebawa sampai tujuan. Dalam artian fasilitas sangat minim. Kurang tidur, kena angin, terik matahari, bahkan kehujanan dalam perjalanan sering aku alami. Karena itu perlu menjaga stamina dan kondisi diri.

Pergi sebentar maupun berminggu-minggu peralatan yang aku bawa hanya yang bersifat wajib saja. Dokumen pribadi beserta kamera, baju ganti, alat mandi dan alat ibadah. Kecuali jika bekpekerannya rombongan, kadang membawa peralatan lain yang dibawa secara gotong royong.

Yang penting aku bisa memperhitungkan antara jenis perjalanan dan perbekalan/peralatan hingga kita bisa meminimalisnya atau share dengan teman. Dengan belajar teknik packing yang benar, beban akan terasa berkurang. Apa saja yang diperlukan catat supaya tak lupa atau tertinggal.

Jalan ala bekpeker sebenarnya mendidik kita supaya terlatih dalam beberapa hal. Tanggungjawab, semangat kepemimpinan, belajar memanajemen waktu, keuangan, belajar bijak, dan masih banyak manfaat lainnya. Yang sifatnya pemalu bisa dengan perlahan mengikisnya menjadi pemberani dan berjiwa petualang. Jadi, siapa tahu bisa jadi penyemangat Kompasianer yang ingin mencoba serunya backpacking, tapi belum berani memulai.

Speak Your Mind

*