Bekpekeran Jalan Kampung Menuju Sosialisasi P4GN Narkoba Ciranjang

Sesuai informasi dari BNNK Cianjur, kalau Senin, 28 April 2014 ada agenda sosialisasi BNNK Cianjur di SMP PGRI Ciranjang pukul 09.00 sampai 11.00 WIB. Dengan diantar suami, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk datang ke acara.

Rencana berangkat pukul enam pagi dari rumah batal karena Fahmi, anak kami rewel. Sakit demamnya sudah reda, hanya batuknya masih sering terdengar. Selain itu dia jadi manja banget, pengennya digendong-gendong, disayang-sayang jadinya perlu waktu lebih lama menemaninya sebelum kami tinggalkan. Akhirnya pukul setengah delapan kami baru bisa keluar rumah.

“Kesiangan gak nih?” Tanya suamiku sudah khawatir. Jarak Sukanagara Cianjur saja bisa mencapai waktu dua jam. Apalagi ditambah ke Ciranjang. Sementara menurut jadwal, acara sosialisasi P4GN itu dimulai jam sembilan.

Jalan agak bagus, saat angkot lewat harus mencari jalan yang tidak bergelombang

Jalan agak bagus, saat angkot lewat harus mencari jalan yang tidak bergelombang

“Yah, jalan aja… Kesiangan atau enggak, terima aja,” jawabku asal. Ya abis mau gimana lagi, coba?

Ketika mau masuk Cibeber, aku ingat kalau dari perempatan Mesjid Besar Cibeber itu ada plang bertuliskan jalan alternatif ke Ciranjang. “Kalau pakai jalan itu gimana?” Tiba-tiba saja aku seperti ada ide.

“Iya, ayo.” Jawab suami sepakat. “Lagian ini sepeda motor kan kaca spionnya lepas, kalau jalan ke kota khawatir juga.”

Akhirnya, kami sepakat memotong jalan dari Cibeber. Sekalian coba-coba saja. Ingin tahu karena belum pernah memakai jalan itu sebelumnya. Dengan modal nekat dan tanya-tanya ke warga di jalan, kami menelusuri jalan yang rusak itu penuh semangat.

Lama-lama, jalannya makin rusak parah. Bahkan sampai di jembatan (tepatnya perbatasan) antara Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Bojong Picung jalan yang rusak itu parah sekali. Kondisi jalan yang nanjak, tapi bebatuannya lepas jadi kendaraan lewat seakan mundur terbawa kerikil, bukannya naik/maju.

Angkutan kota dari Cibeber pun hanya mengangkut penumpang sampai situ. Tapi sebaliknya, kondisi jembatannya justru mulus dan tidak ada lubang sama sekali di atas aspalnya.

Dari jembatan itu di atas jalan sudah menunggu angkutan kota warna lain, dengan jurusan Bojong Picung – Ciranjang.
Jadi bagi penumpang yang dari Cibeber mau ke Ciranjang harus transit di situ.

Selain rusak tak beraspal, kondisi jalan diperparah dengan genangan air yang membuat jalanan becek, kotor. Menurut seorang pedagang es cendol yang kami beli katanya sepanjang 7 kilo meter menuju Ciranjang jalannya memang rusak parah begitu.

IMG00468-20140428-0900Akhirnya selama dalam perjalanan aku dan suami jadi merutuki bupati dan pemda Cianjur. Kerjanya apa? Dana pembangunan dikemanakan? Jalan sebagai sarana infrastruktur terpenting dibiarkan rusak begitu. Kami kira hanya ke daerah Cianjur Selatan jalan yang tidak diperbaiki itu, tapi ternyata di Cianjur timur dan barat pun sama saja, kondisi jalannya sangat menyedihkan.

“Kalau tahu jalannya jelek begini, tadi mending pilih jalan Jebrod langsung ke Ciranjang ya? Nanti pulangnya kita lewat Jebrod saja ah, ya?” Suami menggerutu. Aku hanya mengiyakan saja. Panas matahari yang menyengat serasa menusuk-nusuk di sekujur kulit tubuh.

Sampai di Pasar Ciranjang, pikiran sedikit lega. Walau alamat yang dituju belum ketemu tapi paling tidak jalan baik sudah di depan mata. Serasa keluar dari dunia yang meyesakkan, saking senangnya keluar dari jalan yang berlubang, rusak dan membuat badan remuk serasa dilempar-lempar ini.

Sesuai info dari Kang Susman, kalau lokasi SMP PGRI sebelah kiri maka kami terus berjalan, melihat sebelah kiri. Tapi tiba-tiba di depan SMPN 1 Ciranjang kami melihat segerombolan polisi sedang mengadakan razia.

Kontan kami segera memasangkan kaca spion di sebelah kanan. Entah karena ketakutan, bukannya terpasang dengan baik, malah longgar dan gak bisa dipasang sama sekali! Aduh! Serba salah serba ketakutan jadinya.

Saat ada lima orang anak berseragam SMP lewat, aku tanya lokasi SMP PGRI kepada mereka. Informasinya sebentar lagi, setelah lewat kolam renang. Tapi karena ada polisi yang sedang menggelar razia itu, kami jadi tertahan di situ.

air selokan meluap ke jalan, jalan semakin cepat rusak...

air selokan meluap ke jalan, jalan semakin cepat rusak…

Suamiku sebenarnya ada SIM, STNK juga, hanya dia ketakutan karena tidak pasang spion sebelah kanan. Benarkah tidak pasang spion bisa ditilang? Aku lihat banyak yang gak pakai spion gak apa-apa tuh…!

“Kalau mau ke SMP PGRI, biar gak ketemu polisi itu pakai jalan lingkar aja, itu masuk dari sana, nanti keluar dari sana, gak ketemu polisi, jalannya leter U…” ujar anak-anak itu memberi solusi.

Wah, kami senang sekali dan langsung mengikuti saran mereka. Membalik arahkan sepeda motor, lalu masuk ke jalan kecil, menelusuri sawah dan rumah warga. Benar saja, akhirnya keluar di ujung sana, melewati polisi yang sedang merazia.

Jalan dekat SMPN 1 Bojong Picung lebih parah, sudah rusak, ditumpuk berngkal, jadi kendaraan malah susah lewat...

Jalan dekat SMPN 1 Bojong Picung lebih parah, sudah rusak, ditumpuk berngkal, jadi kendaraan malah susah lewat…

Dalam hati aku ingin tertawa juga. Kok bisa apes banget sih rasanya hari ini? Sudah kesiangan karena kejebak jalan jelek, niatnya mau cepat-cepat nyatanya malah kecegat razia polisi juga. Ampuuun! Sampai harus aksruk-aksrukan ke sawah segala, hahaha!(0l)

Speak Your Mind

*