Buka Diri Nikmati Kecanggihan Teknologi dan Rasakan Tantangan ASEAN

Ibarat katak dalam tempurung, tak tahu dunia luar, tentu saja Laos, atau Republik Demokratik Laos yang pada awalnya tidak mau membuka diri untuk berinteraksi dengan negara tetangga –khususnya negara-negara di wilayah Asia Tenggara (ASEAN)– nasibnya terbelakang dibanding negara sekitarnya.

Entah mungkin karena masih ada bau-bau negara komunis yang masih nempel pada negara beribukota Vientiane ini, menjadi penyebab kurang percaya dirinya Laos untuk berbaur dengan negara ASEAN lainnya?

Padahal kalau saja sejak awal Laos tidak tanggung dalam berinteraksi dengan negara-negara tetangga. Mempersilahkan perusahaan asing atau swasta menanamkan modalnya dalam negara. Rasanya negara daratan ini tak akan jauh tertinggal sebagaimana negara anggota ASEAN “bontot” lainnya.

Terbukti setelah melek informasi, dan perlahan mau bekerjasama dengan negara tetangga ASEAN, kehidupan bernegara dan berbangsanya lebih baik dan mengalami kemajuan. Pertumbuhan ekonomi yang awalnya terendah di wilayah ASEAN menjadi naik pesat hingga mencapai rata-rata 6% per tahun.

Meski begitu, dibanding negara ASEAN lainnya dalam berbagai hal tetap saja Laos masih banyak tertinggal.

What to do?

Menyadari cukup banyak potensi yang bisa dikembangkan; dari kekayaan alam yang tersedia di bumi Laos, seperti sektor pariwisata, sektor tambang, telekomunikasi. Sampai pada bantuan-bantuan yang bersifat internasional dari luar negeri maupun badan-badan tertentu. Usaha yang akan dilakukan untuk meningkatkan kerjasama diplomatik dengan negara luar ialah dengan terus membuka diri dan menerapkan sistem tidak ada lagi Laos yang seperti katak dalam tempurung tadi.

Setelah masuk anggota ASEAN rasa percaya dan kepercayaan terhadap negara-negara tetangga anggota ASEAN lainnya semakin dipupuk. Tidak ada perasaan curiga, perasaan terkucilkan, atau minder sama sekali. Dengan demikian akan timbul rasa aman dan nyaman saat melakukan hubungan (kerjasama) d
ninik@lalatpengganggu: Setelah masuk anggota ASEAN rasa percaya dan kepercayaan terhadap negara-negara tetangga anggota ASEAN lainnya semakin dipupuk. Tidak ada perasaan curiga, perasaan terkucilkan, atau minder sama sekali. Dengan demikian akan timbul rasa aman dan nyaman saat melakukan hubungan (kerjasama) diplomatik dalam segala sektor. Termasuk ekspor dan impor hasil bumi maupun barang dan jasa.

Kerjasama dalam bidang perdagangan tidak lagi diikuti dengan rasa was-was atau curiga. Keterbukaan dan kepercayaan menjadi nilai penting dan membantu perkembangan perekonomian yang semakin baik.

Para generasi muda Laos (pelajar maupun mahasiswa) diikutsertakan dalam program pertukaran pelajar, beasiswa, dan penelitian-penelitian dengan negara sesama anggota ASEAN. Nanti setelah selesai diwajibkan untuk mengamalkan ilmu yang didapatnya untuk dipraktekkan di sekolah dan atau lingkungan daerah yang masih banyak tertinggal.

Jadi mereka ikut memajukan bangsa secara perlahan dari dalam. Meski kontribusi mereka bisa saja dianggap sepele, namun justru itu yang akan menjadi senjata untuk memperkuat rasa percaya diri setiap warga negara Laos.

Perketat aturan kepada warga negara Laos yang hendak tinggal di luar negeri hanya karena alasan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai atau untuk menghindari ketidaknyamanan hidup di dalam negeri yang masih jauh tertinggal di banding negara sekitar.

Supaya lebih menyerap ilmu dan teknologi, pemerintah akan membiarkan warga negara Laos dengan bebas mengakses dunia luar melalui berbagai program, baik televisi, komunikasi maupun internet.

Menyensor internet sah-sah saja, namun sebaiknya internet dibuka untuk masyarakat umum. Niat baiknya supaya warga juga bisa melek informasi. Bisa mendapatkan informasi mengenai usaha yang bisa dijalankan, gaya hidup sehat, kerjasama dan perkembangan dunia lainnya. Sedikit banyak mengubah paradigma yang berlaku sebelumnya dimana internet hanya ada untuk melayani turis-turis di kota besar.

#days6

Speak Your Mind

*