Cerita Horor: Penyakit Aneh

Cerita Horor: Penyakit Aneh

Kejadian di luar logika tidak hanya dijumpai ketika berpetualang di dalam negeri. Tapi juga ketika merantau di negara orang. Dan percaya atau tidak ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua orang, tapi banyak! Magic ada di belahan bumi manapun…

Jerit tangis sanak keluarga menjadi pengiring ketika jenazah teman saya sampai di kediaman keluarga besarnya. Petang itu dengan dibarengi hujan rintik-rintik peti mati dikerumuni saudara dan tetangga. Kabar kematian. Membuat suasana semakin mencekam.

Tangisan pilu dari ibu kandung teman saya masih tidak berhenti juga. Yah siapapun tidak akan bisa membantah betapa sedih dan kecewanya jika anak kandung yang kita sayang dan bangga-banggakan tiba-tiba pulang dari rantau tinggal nama. Tubuh kaku teman saya yang membujur dalam peti di ruang tengah rumah mereka yang sederhana ibarat simbol pertemuan terkahir antara ikatan batin ibu dan anak. Melas tenan menyaksikannya.

Teman saya ini berangkat merantau ke luar negeri sekitar awal tahun 2018. Teman saya bekerja sebagai pegawai bersih-bersih di sebuah kantor. Selama bekerja semua baik-baik saja. Bahkan teman saya rutin berkomunikasi dengan keluarga di kampung.

Sampai beberapa hari lalu, teman satu profesi teman saya itu memberi kabar jika teman saya dalam kondisi sakit parah. Sudah dibawa ke rumah sakit, namun malah banyak kejadian aneh yang terjadi di sana. Duh, ada apa sih? Keanehan apa?

Teman satu profesi teman saya ini mengatakan setelah pulang kerja teman saya mengaku merasa pusing. Sebelum dibawa ke rumah sakit, teman saya memuntahkan –entah apa– yang jelas bukan makanan yang sebelumnya ia makan. Teman saya mengeluarkan (maaf) cairan aneh seperti lumpur yang tidak bisa ditebak apa…

Teman saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Pemeriksaan dokter mengatakan tidak ada gejala penyakit apapun. Teman saya pun tampak baik-baik saja. Tapi tidak lama setelah petugas rumah sakit keluar teman saya kembali mengeluarkan “sejenis lumpur” kali ini disertai dari hidungnya.

Bisik-bisik teman yang menjaga di ruangan merasakan jika suasana semakin merinding manakala angin kencang terasa meniup mereka padahal mereka berada di dalam  kamar tertutup.

Kembali dokter dipanggil dan seketika itu juga cairan yang keluar dari tubuh teman saya ini berhenti. Dokter memeriksa semua organ tubuh, jantung, paru, lambung sampai rongsen tulang seluruh badan hasilnya baik-baik saja. Teman saya dinyatakan sehat, baik-baik saja. Aneh… Lalu penyakit apa itu?

Meski katanya sehat karena semua temannya kerja, jadi teman saya ini tetap dirawat di rumah sakit. Kalau di mess tidak ada yang merawat atau menjaga. Sementara teman saya itu juga terus kesakitan. Teman-temannya yang prihatin atas kondisi teman saya ini bela-belain gantian jaga. Sepulang kerja bergantian menunggu di rumah sakit.

Selama menunggu itu beberapa malam mereka mengalami hal yang tidak masuk akal. Tidak bisa dikisahkan karena menyangkut urusan orang lain. Hanya bisa dikatakan suasana mencemaskan dan menyeramkan itu yang dirasakan teman-teman.

Entah ada kesalahan apa, atau membuat orang lain iri, kita tak tahu bagaimana kepastiannya. Menjadikan teman saya harus menderita lahir batin. Mengalaminya berbagai hal aneh yang tidak masuk akal padahal sedang berada –bekerja– di luar negeri. Dan semua tahu jika beberapa hari sebelumnya teman saya ini baik-baik saja.

Teman saya hanya bisa bertahan selama sepekan. Di malam ketika tidak ada teman yang menemani karena semua bagian kerja, teman saya mengembuskan napas terakhir.

Meski tidak terdeteksi penyakitnya oleh tim rumah sakit tapi kami sebagai teman-temannya juga keluarga besarnya di kampung mencoba untuk berpikir positif saja atas kepergiannya. Bagaimanapun mungkin ini jalan terakhir yang harus dilalui oleh teman saya. Sebagai teman dan atas nama keluarga segera saat itu juga membantu mengurus semuanya dan memintakan maaf kepada siapapun jika almarhum ada salah dan dosa.

Kami benar-benar kehilangan. Seminggu lalu ia sehat. Bersenda gurau dan bekerja seperti biasa. Kini setelah melalui beberapa kejadian di luar logika manusia (yang tidak bisa detail kami ceritakan) ia tinggal nama dan batu nisannya di kampung halaman sebagai tanda.

Wajar tangis ibunya teman saya masih terdengar dan seolah tidak ada kata lelah untuk berhenti. Siapapun tidak akan rela dengan jalan kepergiannya. Andai ia harus pergi karena “terpaksa” atau “dipaksa” dibawa pergi oleh entah siapa semoga yang “memaksa” segera mendapat hidayah.

Comments

  1. Ini cerita realiti?
    Biasanya kalo menurut kepercayaan disini, kalau sudah nyeberang laut hal hal seperti itu bisa hilang dengan sendirinya..

    • tetehokti says:

      Iya ini nyata pengalaman saya dan teman2. Teman saya meninggal di luar negeri kata orang sih karena guna2 gitu…

Speak Your Mind

*