Cerita Pohon

Cerita Pohon

Cerita

Pohon tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Kejatuhan buah dari pohon, jatuh dari dahan pohon dan kecebur kolam ikan, sampai perang dingin dengan tetangga semua ada kaitannya dengan pohon.

Sejak kecil di Bandung, saya sudah berada di lingkungan kebun yang ditanami berbagai buah-buahan dan pohon cengkeh. Tidak heran sejak kecil saya sudah bisa memanjat pohon.

Kenangan tidak terlupa saat masa sekolah dasar itu manakala kami panen pohon alpukat, kepala saya terkena buah alpukat jatuh sebesar mug! Saya pingsan, sadar sadar kepala sudah diperban. Teman2 ngeledek saya pitak karena kepala saya ada botak sedikit. Rambut saya memang dipotong sedikit supaya memudahkan mengobati bagian yang benjut kemana buah yang jatuh dari pohon alpukat itu.

Masa SMP di Tasikmalaya saya tinggal dan bermain tidak jauh juga dari pohon. Maklum di kampung, sekitar rumah yang ditempati adalah kebun yang banyak ditumbuhi pohon. Salah satunya pohon kersen dekat kolam ikan. Setiap hari saya pasti naik. Ada buah ga ada buah, nangkring di pohon kersen jadi kebiasaan yang mengasikan.

Masih ingat ketika saya kelas tiga, saat ada teman ke rumah saya ajak mereka main di pohon kersen itu. Kami berempat naik bareng bareng. Tanpa kami sadari, dahan kersen tidak kuat menahan beban berat kami berempat. Akhirnya dahan patah, tidak bisa turun secepatnya kami berempat semua kecebur ke dalam kolam. Hahaha… Malu tapi dibuat asik aja. Sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan.

Ketika ke kampung Sukaratu mau masuk listrik, sekitar tahun 1993an, sepanjang jalan dari kampung ke jalan raya semua pohon yang tanahnya mau jadi jalan tiang listrik ditebang. Dari sekian banyak pohon yang ditebang itu yang tahu nama dan jenisnya ialah pohon kelapa. Jika buah dan batangnya diambil oleh pemilik, tidak dengan daunnya.
Kebetulan Nelis teman satu bangku selama tiga tahun di SMP, juga teman satu kampung teman jalan pulang pergi sekolah pandai membuat cangkang ketupat. Selama hampir dua minggu setiap pulang pergi sekolah Nelis dan saya mengambil daun kelapa yang berserakan di jalan. Nelis dengan tekun dan sabar mengajari saya membuat cangkang ketupat dari daun kelapa. Alhamdulillah saya bisa. Hingga kini setiap lebaran saya lah di keluarga yang menjadi tukang buat cangkang ketupat.

Sudah pindah ke Cianjur pohon tak lepas juga dari keseharian saya. Selain pohon buah yang sudah umum ditanam di pekarangan, seperti jambu, pepaya, mangga, rambutan dan belimbing, di halaman seputar rumah kami juga kami punya pohon buah-buahan yang saat ini bisa dibilang langka. Ada asam kranji, huni, campoleh, dipa, salam, sukun dan kaweni.

Gara-gara pepohonan di pekarangan ini hidup kami jadi berwarna. Tetangga ternyata tidak suka kami membiarkan pohon tumbuh lebat. Semua tetangga menyuruh kami menebang pohon di pekarangan kami karena mereka merasa terganggu.

Banyak nyamuk, banyak sampah daun, banyak binatang seperti ulat, tupai, dan laba laba yang mereka bilang sangat menganggu, sampai sinyal parabola tidak bagus karena pepohonan kami, dan alasan lain. Baik secara terang terangan maupun lewat sindiran tetangga tidak menyukai adanya pepohonan yang kami jaga itu.

Gara-gara pohon markisa, kami kurang harmonis dengan tetangga karena tetangga marah marah parabolanya digerayangi pohon markisa kami.
Gara gara pohon sirsak kami dan tetangga belakang rumah sampai sekarang seperti ada gencatan senjata, perang dingin. Tetangga suka tanpa bilang apalagi izin menebas pohon sirsak kami, padahal sirsak dan salam itu berada di tanah kami dan tidak mengganggu ke jalan.

Tetangga usil itu sering saya rekam saat menebang pepohonan kami. Mungkin dikira saya tidak ada, padahal saya dan Anak justru merekam aksinya dengan video hape. Suatu saat bermasalah, akan saya perlihatkan rekaman video saat dia memotong pepohonan kami dengan goloknya itu…

Gara gara pohon kelapa kami, tetangga berkali kali datang ke rumah katanya kelapa hijau milik kami di sudut pekarangan sudah beberapa kali hampir mencelakai orang lewat. Padahal, kelapa itu jauh di dalam pagar kebun kami. Yang ada justru kelapa muda kami itu tak pernah tersisa karena selalu dicuri orang saat kami sedang tidak ada di rumah.

Pokoknya karena pohon-pohon yang kami miliki itu banyak komplen dari tetangga samping dan belakang rumah. Kalau dari depan rumah, yang suka “komplen” adalah petugas PLN. Kantor PLN setingkat kecamatan memang berada di depan rumah kami. PLN suka datang untuk meminta izin menebang pohon di halaman rumah kami manakala ada pohon yang tingginya mencapai kabel listrik tanpa kulit. Sering listrik mati karena adanya pohon pohon yang mengganggu atau mengenai jaringan kabel tak berbaju itu. Nah, PLN aja minta izin saat mau menebang pohon, masa tetangga tidak? Gimana kami tidak kesal?

Tapi karena pohon pohon di halaman kami juga, kami jadi rujukan orang orang hamil di kampung. Apa pasal? Yang ngidam kan biasa suka makan buah masam untuk dibuat rujak atau makan begitu saja. Alhamdulillah di halaman rumah kami tumbuh pohon yang mereka cari, ada markisa masam, sirsak masam, jambu biji masam, huni, kaweni dan dipa yang ternyata jadi favorit para ibu hamil. Jika berbuah, banyak ibu hamil datang untuk meminta buah-buahan yang sudah terbilang langka itu. Baru dech ada orang yang mendukung kami supaya mempertahankan pepohonan itu, hehe… Ya karena kebutuhan ngidam mereka terpenuhi dari pohon pohon milik kami. Makanya mereka bersikap manis. Entah kalau di belakang kami, atau pohon pohon itu sudah tidak berbuah lagi…

Menanam pohon saat ini digalakan pemerintah Indonesia, bahkan dunia juga ikut mendukung gerakan melestarikan dan mencintai bumi dengan tidak merusak alam, menanam pohon sebagai paru-paru kehidupan, dan menggunakan bahan-bahan sebagai pemenuhan kehidupan yang ramah lingkungan. Namun disaat gerakan ini diserukan, adakah rakyat Indonesia, khususnya mereka yang berada di “bagian belakang” mengetahui akan hal ini?

Bukti nyatanya, tetangga saya boro-boro menyadari akan pentingnya menjaga pepohonan, alih-alih ikut mensukseskan gerakan menanam seribu pohon, pohon kami yang ada di pekarangan saja justru mereka tidak sukai dan tanpa sepengetahuan kami mereka tebangi!

Tulisan ini tindak lanjut dari komentar saya di GIVEAWAY #ANAKPOHON di Blognya Eva Sri Rahayu
Semoga ada manfaat…

Comments

  1. Pohon memang byk manfaat ya Teh
    saya suka pada paragraf
    “menjadi rujukan tetangga yang hamil dan ngidam” hehehe
    salam sehat dan sukses
    salam buat Fahmi dan suami

  2. duh ada ada aja tetangga yang usil sama pepohonan di rumah, andai mereka tau pentingnya penghijauan, malah sekarang harus dihijaukan pekarangan rumah

    • Nah, kebetulan ada pakar lingkungan hidup 😉
      ayo Mbak, kasih kami penyuluhan bagaimana pentingnya pepohonan itu, supaya tetangga kami tidak usil lagi
      Kapan ya Mbak ke Cianjur, selain kemarin ke Gunung Padang itu 🙂

Speak Your Mind

*