CIBIRAN SINIS PELECUT KARIR MENULIS

CIBIRAN SINIS PELECUT KARIR MENULIS

Siapa pun pantas menertawakanku, seorang pemulung rongsokan di kompleks perumahan sekitar kontrakan –anak yang terlahir dari keluarga tidak mampu– bercita-cita menjadi seorang penulis. Ya, bagaimana orang tidak mencemoohku, aku yang sekolah dasar saja banyak dibiayai oleh tetangga berani-beraninya mengucap ingin menjadi penulis. Terasa begitu muluk-muluk, bukan? Apalagi cita-cita menjadi seorang penulis (yang ada dalam benakku saat itu penulis identik dengan para sarjana yang piawai menulis cerpen dan atau cerbung di majalah nasional) sekitar tahun 87-an itu masih terbilang tidak populer.

Keluarga, teman-teman dan tetangga semuanya menertawakan sinis tapi aku keukeuh ingin jadi penulis. Aku sendiri tidak tahu kenapa disaat teman-teman bercita-cita ingin menjadi guru, polisi, dokter, pilot dan sebagainya, aku tetap berkeinginan menjadi seorang penulis. Yang aku rasa, sejak aku bisa membaca dan merasakan fantasiku melayang jauh saat membaca suatu cerita maka sejak itulah aku membayangkan betapa enaknya jadi penulis.

Padahal aku sadar benar, kondisiku saat itu jangankan bisa membeli mesin tik yang menjadi modal mutlak seorang penulis supaya bisa mengirimkan tulisannya ke media. Untuk biaya sekolah dan makan saja, orangtuaku sangat kesusahan. Aku bertekat dalam hati, walau kondisi tidak memungkinkan, keinginan untuk jadi penulis itu tetap ada. Biarlah tidak untuk saat itu, tapi aku yakin suatu saat aku kesampaian menjadi penulis.

Modal untuk menjadi seorang penulis selain mesin tik adalah membaca. Begitu kata Pak Dikdik Waryadi AS, wali kelasku di SDN Kridhawinaya 3 – Maleer, Kodya Bandung. Maka aku yang sudah senang membaca seakan mendapatkan asupan gizi tambahan. Biarlah mesin tik urusan belakang, yang pasti porsi membacaku tiap harinya harus bertambah. Tulisanku kala itu aku simpan di buku tulis merek “Leces” dengan warna sampul biru tua atau biasa orang Sunda bilang bulao.

Aku semakin kuat ingin menjadi penulis setelah aku sadar minat bacaku lebih tinggi dibanding teman-teman. Meski perekonomian keluargaku morat-marit, aku tak pernah melewatkan membaca buku, majalah dan atau apa saja. Buku di sekolah, bacaan pinjam dari teman, sampai mencuri-curi ikut membaca majalah remaja yang sedang populer milik kakak teman-temanku yang kaya-kaya.

Selepas sekolah aku makin giat berkeliling kompleks mengais tempat sampah mengumpulkan barang-barang yang bisa dijual kembali. Uang hasil menjual botol plastik, kardus dan besi-besi tua hasil memulung selalu aku tabung untuk membeli buku dan majalah bekas yang pada tahun 1989 di pasar Kiaracondong – Bandung satunya berharga Rp. 50 sampai Rp. 100. Sebagai pemuas kebutuhan membaca cukuplah buatku majalah-majalah bekas itu. Saking seringnya aku mengunjungi lapak buku dan majalah bekas, penjualnya sampai mengenaliku. Sering aku dikasih kesempatan membaca tanpa harus membayar.

Ayah ibuku perantau di Bandung, berdagang kecil-kecilan sebagai usaha penyambung hidup. Di lingkungan tempat aku tinggal, keluargaku bisa dibilang keluarga yang tidak mampu. Rumahku rumah terjelek yang nyempil di antara rumah lain yang bergarasi dan bertingkat. Tapi entah kenapa keinginan untuk menjadi penulis sangat kuat aku rasakan.

Disaat teman-temanku diajak orangtuanya berlibur main ke tempat rekreasi yang tersohor, aku hanya dibawa orangtuaku ke pasar Binong atau Kiaracondong. Tapi sungguh tak ada yang bisa membuatku segembira itu. Majalah bekas yang dibeli selalu selesai kubaca paling lama dua hari. Setelah membaca buku pelajaran selalu ku baca-baca ulang lagi majalah bekas itu sampai ke iklan-iklannya.

Hampir tamat SD, usaha orangtuku mengalami kebangkrutan. Karena aku keukeuh ingin melanjutkan sekolah dan melihat hasil NEM (Nilai Ebtanas Murni) aku tertinggi di Kodya Bandung, atas dukungan tetangga yang mendukung melanjutkanku sekolah, sebagai jalan keluarnya orangtua menyekolahkanku di SMPN Salawu. Aku tinggal bersama nenek di pinggir Kabupaten Tasikmalaya.

Meski tinggal di kampung aku masih menulis. Semua keluh kesah, kata hati, pengalaman dan apapun yang ingin aku tulis saat itu aku tuang dalam buku tulis yang lebih keren –dari buku tulis “Leces”– pemberian sekaligus hadiah kenang-kenangan dari teman-temanku di kota Bandung. Diary, begitu istilahnya saat itu.

Di Salawu aku bisa meminjam buku di perpustakaan sekolah. Karena rumah nenek dan sekolah cukup jauh (kala itu setiap kecamatan hanya mempunyai satu SMPN) aku sering menginap di rumah teman yang lokasinya dekat dengan sekolah. Kebetulan orangtua temanku itu bekerja sebagai penjaga sekolah. Sering tinggal di lingkungan sekolah, akhirnya aku mengenal para guru serta staf tata usaha. Saat ada waktu luang aku sering numpang membaca koran daerah maupun nasional yang menjadi bacaan para guru. Saat itu aku mengetahui jika media tersebut menerima kiriman cerita pendek, puisi serta artikel lainnya.

Berbekal nekat dan merasa semangat menulis kembali menggebu, atas saran teman dan guru Bahasa Indonesiaku Dra. Suntini, aku pun mencoba menulis untuk dikirim ke media. Hitung-hitung belajar, mengasah kemampuan berbekal ilmu yang kudapat secara otodidak. Bermodalkan kertas dan mesin tik minta serta pinjam dari sekolah, aku mengirimkan beberapa karyaku ke harian lokal dan nasional.

Satu bulan, dua bulan, satu tahun hingga aku tak ingat berapa banyak aku telah menulis dan mengirimkannya, tapi tak satu pun karya yang aku kirimkan itu dimuat. Sedih, kecewa, malu, tak lagi bisa aku lukiskan bagaimana perasaanku. Sementara keinginan untuk menjadi penulis dalam hati ini bukannya padam, melainkan justru semakin kuat.

Saat itu belum mengenal istilah internet. Blog dan apapun namanya belum dikenal. Jadi kalau aku menulis dan mengirimkannya ke media, jika tidak dimuat ya sudah karyaku itu hangus alias masuk tempat sampah saja. Tidak ada arsip.

Sebagai pelampiasan segala bentuk kegundahanku manakala tak mendapatkan satu karya pun yang lolos dimuat di surat kabar, aku sering datang ke rumah teman yang kakaknya berlangganan majalah terkenal seperti Aneka, Hai, Gadis, Kawanku, Anita.

Aku rutin datang mengunjungi rumah mereka sekadar nebeng membaca karya-karya terbaru cerpenis cerita remaja terkenal seperti Donatus A Nugroho, Ganda Pekasih, dan penulis lain. Sekadar membandingkan dan menyerap ilmu kepenulisannya. Sepulangnya aku selalu merenung dan mencoba mencari apa kira-kira kesalahan yang masih aku perbuat hingga karya-karyaku satu pun tak ada yang berhasil dimuat di media.

Saat kelas tiga SMP, ayahku meninggal dunia. Aku mengandalkan uang beasiswa yang tak seberapa untuk menamatkan sekolah. Walau ibuku lepas tangan tak mampu membiayai lagi sekolahku tapi aku tetap bersikeras ingin melanjutkan sekolah. Banyak yang mendukungku karena lagi-lagi NEM ku mendapat nilai tertinggi. Selain hadiah, aku juga mendapatkan sumbangan bahkan SMAN 2 Tasikmalaya yang menjadi sekolah favorit siap menerimaku.

Tanpa diduga dalam waktu yang hampir bersamaan nenek meninggal dunia. Terpaksa aku tinggal bersama ibuku yang semenjak ayah meninggal sudah pindah ke kampung di Cianjur Selatan. Dengan modal nekat dan uang pendaftaran hasil dari pemberian/sumbangan, aku masuk SMA di Sukanagara.

Beberapa minggu aku di sekolah baru, temanku di Tasikmalaya memberi kabar lewat sepucuk surat, kalau ia membaca salah satu tulisanku yang dimuat di koran harian daerah. Subhanalloh, bahagianya tak terkirakan. Betapa senangnya mendapat kabar seperti itu. Semangat untuk menulis pun kembali menggebu.

Sayangnya, di sekolah baruku tidak berlangganan media cetak. Ruang tata usahanya juga dijaga ketat. Jangankan untuk nebeng mengetik dan meminta kertas, pintunya saja selalu terkunci tepat dengan waktu bubar kelas. Akhirnya aku kembali menulis di buku tulis dan diary. Sementara itu membaca pun semakin erat dengan jiwaku. Bagiku membaca sama pentingnya seperti bernafas, maka bahan bacaan apa pun itu tak pernah aku lewatkan, bagaimanapun caranya.

Otakku rasanya buntu memikirkan bagaimana caranya bisa memiliki sebuah mesin tik. Aku bersekolah hanya mengandalkan uang hasil penjualan sepetak warisan dari almarhum bapak dan beasiswa sekolah yang ala kadarnya. Jangankan membeli mesin tik, untuk uang bulanan sekolah saja aku mengandalkan beasiswa yang besarnya Rp. 100 ribu untuk jangka waktu tiga bulan.

Selepas SLTA, akhir tahun 1999 karena perekonomian keluargaku tersandung biaya, aku langsung bekerja ke luar negeri. Pikirku dengan gaji besar aku pasti mampu membeli mesin tik yang aku idam-idamkan. Selama bekerja di luar negeri kesempatan untuk memperdalam bahasa asing tak aku sia-siakan. Saat ada informasi mengenai sistem belajar menulis jurnalistik jarak jauh dari LPWI (Lembaga Pendidikan Wartawan Indonesia) dan belajar menulis online lainnya yang kian hari kian marak di internet aku pun dengan senang hati mendaftar. Menjadi siswa yang berprofesi sebagai TKW di luar negeri.

Majikan membebaniku setiap hari dengan pekerjaan seabrek-abrek tak pernah henti. Tapi semua itu sedikit pun tidak membuat semangat menulisku padam. Justru keterbatasan itu telah mendidikku menjadi pekerja keras. Merasakan sendiri bagaimana berdarah-darahnya menjadi penulis dengan waktu dan prasarana yang minim.

Setiap hari, jangankan untuk memabuka laptop, waktu istirahat dan ibadah saja kalau aku tidak pandai mengaturnya dipastikan bablas saja. Tapi karena niat dan keinginan untuk menulis terus hidup bahkan semakin menggebu, bagaimanapun caranya, aku tempuh.

Solusinya, ya sambil bekerja sambil menulis. Saat menanti angkutan umum dan dalam kendaraan, aku menulis. Di sela waktu senggang merawat pasien jompo, aku tetap menulis. Di kamar mandi, saat mengantri beli makan siang, saat menunggu bubaran les atau sekolah anak majikan, pokoknya setiap ada kesempatan daripada bengong aku tetap menulis. Walaupun cuma satu kalimat. Aku mencuri-curi waktu untuk menulis apa saja di sela-sela pekerjaan saat ide datang dengan memanfaatkan fasilitas notes di ponsel.

Kadang jempolku sampai memerah dan bengkak karena dalam sehari aku mengetik bisa berjam-jam lamanya, aku tetap tak peduli. Selagi ide masih bersarang, aku sedapatnya terus menuangkan lewat tulisan. Waktu tidur malam hari lebih banyak kupakai begadang, yaitu untuk memindahkan tulisan di notes tadi ke komputer.

Disela kesibukan kerja, aku mengirimkan karya tulisku ke beberapa stasiun radio, media cetak berbahasa Indonesia yang terbit dan beredar di negara tempatku bekerja, juga beberapa media cetak daerah maupun nasional di tanah air. Sampai akhirnya aku ditawari menjadi kontributor dua media cetak yang berbeda.

Di sini cita-cita untuk menjadi seorang penulis dan minat bacaku mendapat jalan dan tempat. Walau aku anak orang yang tak punya –dengan menjadi TKW– di negara orang yang lebih modern ini mesin tik sudah terbilang kuno dan akhirnya aku bisa membeli komputer jinjing sebagai pengantinya. Selain itu aku mendapatkan kebebasan melahap habis bacaan buku umum, koran, majalah dan jika hari libur aku bisa menghabiskan waktu di perpustakaan dan pameran terkenal tingkat nasional hingga internasional.

Senangnya tak terhingga saat tulisanku rutin dimuat dan dibaca banyak orang. Meski baru tingkat kontributor, tapi setidaknya tulisanku telah mempunyai tempat khusus untuk dimuat pada setiap edisinya. Beberapa tahun aku menjalani proses menulis seperti itu. Hingga akhir tahun 2011 ini aku finish kontrak dan kembali ke kampung halaman.

Setelah banyak berinteraksi dengan penulis senior dan membaca modul/ebook/makalah kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi, aku semakin tahu bagaimana dasar membuat tulisan yang baik, menarik, dan mempunyai “nilai jual”. Bukan hanya belajar secara teori, tapi juga praktek langsung terjun ke lapangan.

Sungguh tiada terkira rasa bahagiaku bisa terus-terusan membaca dan menulis. Semakin banyak baca semakin diri ini merasa tak berwawasan tak berilmu, karena itu semakin haus pula mencari bahan bacaan baru.
Aku pun mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Bukan hadiah yang aku kejar, melainkan ajang menulis itu sendiri. Membaca tidak bisa dipisahkan dari menulis, begitu juga sebaliknya. Aku menjadikan lomba kepenulisan sebagai pembelajaran supaya aku terus terpacu untuk produktif menulis. Tidak hanya asal menulis sesuka hati, karena sudah ada aturan serta ketentuannya. Aku terus belajar menjadi penulis yang serba bisa dengan segala tema, tentu saja diiringi dengan modal terbesarku yaitu komputer dan membaca.

Bangga tak terhingga saat namaku mulai ikut terpampang dalam buku cetak meski baru berupa kisah antologi.
Kini, aku yang dulu ditertawakan sinis saat mengatakan bercita-cita menjadi penulis akhirnya dikabulkan Tuhan. Setelah melalui proses panjang yang penuh perjuangan serta kerja keras, sebuah perusahaan media cetak menerimaku sebagai reporter dan jurnalis tetapnya. Alhamdulillah.

Jadi teman, jika aku yang serba kekurangan masih bisa meraih cita-citaku menjadi seorang penulis, lalu alasan apalagi untukmu masih ogah-ogahan dalam meraih cita? Bukankah kebebasan dan fasilitasmu lebih lengkap dibandingku? Tidakkah apa yang aku alami ini menginspirasimu untuk segera take action selagi bisa sekarang juga?[]

Speak Your Mind

*