Dagelan Taipei Cianjur: Antara Makanan dan Koran

Dagelan Taipei Cianjur: Antara Makanan dan Koran

dAGELAN

Hari itu benar-benar hari sibuk. Ama (nenek) dan Akong (kakek) dari Taichung datang ke Taipei. Malam nanti akan ada acara makan malam keluarga majikan. Memang tidak banyak orang, bukan sebuah pesta, tapi sudah membuatku capek luar biasa. Sejak pagi belanja, memasak, mengurus anak-anak dan mengantarkannya sekolah, hingga sore ini setelah menu selesai aku harus kembali menjemput anak.

Merasa capek karena aku belum terbiasa. Saat itu baru sekitar dua bulan aku kerja di Nei Hu, Taipei City. Dan yang teramat membuatku tertekan adalah adanya Ama yang seakan terus mengawasiku. Sementara komunikasi sering salah faham karena kendala bahasa. Ama tidak bisa fasih berbahasa Mandarin, bisanya bahasa daerah Thayu. Sedangkan aku belajar mati-matian bahasa Mandarin dan sudah mulai lupa karena tak begitu kepakai. Karena majikan pandai berbahasa Inggris, jadilah percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Inggris termasuk dengan anak-anak.

Singkat cerita saat Ama bilang apa, aku hanya iya-iya aja. “Sh, wo tze tao le...” Kataku sambil angguk-angguk kepala. Pede. Padahal enggak mudeng sama sekali apa yang dimaksudnya. Mungkin Ama sudah kesal nyuruh aku apa, tapi aku hanya diam, bengong. Akhirnya Ama sendiri yang memperagakan, melakukan. Aku hanya nyengir… Sudah ngerti apa yang dilakukan Ama apa, baru aku ambil alih dan melakukannya.

Yang paling tidak bisa menahan tawa saat majikan sudah kumpul semua. Makan malam dimulai. Aku ikut makan bareng meski tidak satu meja. Bukan dibeda-bedakan, tapi karena kursi di meja tidak cukup dan aku memang harus menjaga Emma, anak yang paling kecil. Emma makan bareng kakaknya di depan TV yang berdampingan dengan meja makan. Jadilah aku juga duduk bareng anak-anak.

Ayili, cing pang wo na i ke pao che,” kata Ama memanggilku.

Hao!” Jawabku mengiyakan.

Yakin kalau Ama menyuruhku mengambil koran. Segera aku ambil koran hari itu yang ada di kolong meja dan menyodorkannya ke ibu majikan perempuanku itu.

Ceke pao che, Ama…

Hahaha…! Majikan laki dan majikan perempuan, juga Akong tertawa terbahak-bahak saat melihat aku menyodorkan koran ke Ama. Sementara Ama cemberut dan sedikit menggerutu.

Lai, ken wo ichi chi“, katanya seraya mengajakku mengikutinya ke dapur.

Ceke pao che, pu she pao tze!” Ama bicara padaku sambil menggunakan bahasa isyarat.

“Hahaha!” Kini gilianku yang tertawa terpingkal-pingkal.

Bagaimana tidak tertawa, saat menyadari kalau yang Ama maksud pao che adalah kue sejenis mantao yang siang tadi aku buat. Sementara aku pikir pao tze adalah koran. Salah dengar dan memang sulit bagiku untuk membedakannya. Hihihi, pantas majikan dan Akong menertawakanku.

Itulah susahnya belajar bahasa Mandarin, satu kata itu bisa mengandung lima arti bahkan lebih, tergantung dari tinggi rendahnya nada. Dan itu kelemahanku dalam belajar Bahasa Mandarin, sehingga menyebabkan salah faham dan malu berkepanjangan. Hingga kini komunikasi antara aku dan majikan terus berlanjut. Jika interaksi dengan majikan beserta keluarganya baik di Facebook, atau Instagram, selalu saling sindir di komentar antara makanan dan koran 🙂

Comments

  1. Selalu ada hal yang lucu dari Komunikasi antarbudaya, saya selalu menyukainya. Karena di balik itu semua, setiap orang harus mengenal dan belajar tentang masing-masing kebudayaan orang lain.

Speak Your Mind

*