Elisa Koraag: Menodong Tips dari Emak Cantik Seputar Literasi, Parenting Sampai Gojek!

Blogger Indonesia pasti sudah tahu dengan blogger perempuan atau emak blogger yang pernah puluhan tahun jadi penyiar radio terkenal di Jakarta. Ialah Elisa Koraag. Saat ini aktivitasnya selain ngeblog dan menjadi admin di beberapa group kumpulan blogger, juga aktif di Komunitas Penulis dan Sastra (Pedas).

Aku lupa kapan pertama kali mengenal atau jumpa Mbak Ica. Ya, aku memanggilnya Mbak atau kakak meski ia asal Manado. Kenapa? Karena sudah seperti kepada kakak saja, pun usia kami hanya terpaut puluhan tahun saja. (wah puluhan saja, cing!) Sebagian blogger lain yang usianya setengah berada di bawah usiaku, memanggil Mba Ica dengan panggilan Bunda. Apapun panggilannya, Mba Ica orangnya easy going. Mau gabung sama emak-emak oke, kumpul sama anak muda pun tidak problemo.

Mba Ica dan aku jelang nobar film Thailand, Heart Attack di Grand Indonesia

Mba Ica dan aku jelang nobar film Thailand, Heart Attack di Grand Indonesia

Meski aku lupa kapan pertama kali mengenalnya, takjubnya ternyata Mba Ica masih mengingat kuat kapan ia pertama kali mengenaliku secara langsung. Ya, sebelumnya aku kan menghabiskan satu dasa warsa dari masa hidupku dengan kuli jadi babu di luar negeri. Blogger di Indonesia tahunya tulisanku saja, tanpa pernah tahu aku karena aku tidak pernah ikut kopdar. Baru saat aku finish kontrack dan pulang kampung, bisa mengikuti acara blogger secara offline.

Di Bandunglah kata Mba Ica ia pertama kali secara langsung melihat dan bertemu denganku. Saat ada Blogshop Kompasiana dengan penulis Negeri Lima Menara yang saat itu sedang membuming: Ahmad Fuadi. Itu sekitar tahun 2012. Dan aku baru ngeh sekarang, ketika aku menodongnya untuk memberiku lest privat paling spesial. Hadeuh, murid macam apa aku ini yah…

Ketika kami berkesempatan ngobrol ngalor ngidul dari sore sampai malam, lanjut lagi paginya sampai siang dan sampai sorenya lagi itulah, aku seakan teringatkan kalau sebelumnya keluargaku dan keluarga Mba Ica sebenarnya pernah jumpa dan juga ngobrol banyak. Bermunculan kenangan itu satu persatu. Saat bareng di Dunia Fantasi Ancol, saat ngobrol banyak di Seminar Nasional SKK Migas, dan even blogger lainnya.

Mba Ica dan Bloggers

Mba Ica dan Bloggers

Dari kenyataan ini dapat aku simpulkan bahwa ternyata sebenarnya aku si anak kampung dari pelosok ini dan blogger kota lain itu sudah banyak berinteraksi. Hanya karena aku yang bolong-bolong ikut evennya, karena aku yang tidak bisa maksimal dalam berinteraksi di dalamnya maka aku sendiri yang merasa aku ini tidak memiliki siapa-siapa. Tidak mengenal, tidak dikenal. Tidak mempunyai teman dan tidak berteman. Ternyata itu salah.

Maafkan daku ya wahai Blogger Indonesia 

Ica Pakar Literasi

Mau tahu apa menu sarapan bagi seorang pakar dunia literasi? Selain makanan, minuman dan buah-buahan, ternyata sarapan pagi di rumah Mba Ica setelah Bas berangkat sekolah aku juga disuguhi segunung buku, Gaes! Glek!

Sarapan pagi bersama setumpuk buku. Aku rasa ini pertama kalinya hanya aku temukan di rumahnya Mba Ica

Sarapan pagi bersama setumpuk buku. Aku rasa ini pertama kalinya hanya aku temukan di rumahnya Mba Ica

Mba Ica mengelola penerbitan sendiri dengan Pedas Publishingnya. Kata Pedas memang diambil dari nama komunitas literasi yang dilahirkan serta diasuhnya sampai saat ini. Blogger yang bernaung di Blogdetik pastinya tidak akan asing dengan kegiatan Sunday Sharing, ya. Nah… di even ciamik yang sudah menginjak kesekian puluh kalinya di Jakarta ini, Mba Ica dan teman-temannya suka menjadi pengisi acara. Beberapa puisi karya Mba Ica dan teman-temannya di Group Pedas dibawakan dengan penuh penghayatan.

Group Pedas meski interaksinya secara online tapi syarat akan ilmu dan aktivitas, lho! Setiap pekan selalu mengadakan semacam lomba untuk anggota-anggotanya. Baik itu cerpen bertema, puisi dengan tema tertentu, flas fiction, dan bahasan lain seputar literasi dan penerbitan. Di akhir bulan, setiap peserta yang mengirimkan karyanya dipilih untuk kemudian kembali dikompetisikan sehingga pada akhirnya terkumpul beberapa karya yang benar-benar berkualitas. Karya terpilih ini yang pada akhirnya dibukukan. Kereen…

Sebagian buku yang diterbitkan Pedas Publishing dari member Group Pedas

Sebagian buku yang diterbitkan Pedas Publishing dari member Group Pedas

Makanya jangan bengong saat menginjakkan kaki di rumah Mba Ica di kawasan Kreo, Ciledug yang nyaman nan penuh kehangatan ini sudah langsung disambut dengan pajangan berbagai buku. Kayanya nih rumah cocok disebut perpustakaan. Eh, ada bedanya, ding! Kalau main ke “perpustakaan” Mba Ica ini, pulangnya dikasih buku hasil karyanya sebagai kenangan. Gratis? Ya iya lah, gratis, gak perlu bayar. Kecuali mau bayar pake karya lagi, yaitu kita baca bukunya, dan setelahnya kita review buku tersebut. Dengan begitu sama-sama saling menguntungkan kan?

Sesungguhnya waktu yang berputar selama 24 jam per harinya ini tidak cukup untuk menggali ilmu kepenulisan dari Mba Ica. Ibarat sebanyak buih di lautan ilmu kepenulisan yang ada di Mba Ica, baru seperempat gelasnya saja yang Mba Ica share ke saya. Jadi memang harus lebih banyak waktu lagi guna terus bisa menggali dan menyelami lautan ilmu kepenulisan ibu dari dua anak yang beranjak dewasa ini.

“Yang pasti segala sesuatu itu perlu proses. Jadi kalau hanya belajar secara instan itu tidak akan maksimal dalam hasilnya. Dengan banyaknya jam terbang, secara sendirinya ilmu dan pengalaman seseorang akan bertambah,” begitu kata Mba Ica dengan bijaknya.

Sebagian karya dan prestasi Mba Ica yang ada di rumahnya

Sebagian karya dan prestasi Mba Ica yang ada di rumahnya

So, wahai para penulis dan khususnya blogger, tetap semangat ya. Bagi kita yang baru seumur jagung punya hobi menulis ini, jangan berekspektasi yang serba wah dahulu. Mendingan terus saja perdalam teknik menulis disertai praktek menulis atau mengisi blog itu sendiri. Nanti dengan sendirinya, “bonus” kerja keras kita itu pasti akan menghampiri. 

Ica Pakar Parenting

Bagi seorang emak muda sepertiku (ehem… muda gitu lho!) Ya, dibanding Mba Ica, aku kan lebih muda darinya. Jika Mba Ica sudah mempunyai seorang anak gadis dan seorang jejaka, sementara aku baru mempunyai seorang batita. Tentunya pengalaman berumahtangga dan mengurus keluarga sudah pasti lebih banyak Mba Ica dibanding aku. Sambil menyelam minum air jadinya. Selain berguru tentang dunia literasi, sekalian saja aku todong Mba Ica supaya mau berbagi tips bagaimana cara mendidik dan menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak yang beranjak remaja.

Awalnya tips Mba Ica dalam mendidik anak-anak dan tips menjadi orangtua baik untuk anak usia remaja itu adalah ilmu yang akan aku simpan sendiri saja. Baru akan aku pakai atau praktekkan, jika kelak Fahmi, anak batitaku beranjak remaja seumuran Bastiaan dan Vanessa saat ini. Tapi dipikir lagi kenapa aku harus pelit sementara si empunya saja sudah baik hati mau berbagi?

Yo wes, sekalian aku jembrengkan saja ilmu parenting dari Mba Ica di sini. Aku yakin bakal lebih banyak manfaat, bukan buat aku saja, tapi juga buat emak-emak semuanya. Lanjuuut…

Mba Ica dan keluarga

Mba Ica dan keluarga

Tiap tahap pertumbuhan anak tidak sama, otomatis dihadapi dengan cara yang berbeda pula. Saat anak balita, orangtua dituntut berperan penuh mengasuh memberikan pengetahuan dan pengalaman langsung. Mba Ica dan suami tak segan-segan berhenti di suatu tempat demi memenuhi rasa ingin tahu jika si anak bertanya.

Misalnya saat melewati perumahan yang sedang dibangun, mereka berhenti karena si sulung bertanya sambil menunjukan gundukan tanah merah.

“Apakah itu gunung?” Tanya Bas.

Bas saat itu usianya sekitar 5 tahun. Mba Ica dan suami berhenti dan mendekati gundukan tanah merah. Papanya Bas menjelaskan kalau itu hanya setumpuk tanah hasil galian. Papanya membawa si sulung meraba, menginjak dan menaiki gundukan tanah merah, berjalan berkeliling perumahan, mengenalkan semen, batu bata, batako, pasir dan para tukang.

Untuk membentengi anak-anak dari lagu-lagu dewasa, mulut Mba Ica sudah seperti kaset rusak saja loh, pemirsa. Saat usia Bas belum 5 tahun, ia sudah menguasai lagu anak-anak lebih dari 20. Semua lagu anak itu Bas mengenal dari mulut mamanya.

Dari Papanya, Bas belajar menggambar berbagai binatang. Hingga Bas sangat mencintai binatang. Bahkan di usianya yang baru 7 tahun, ia bisa menaklukan anjig-anjing hutan di tepi hutan di daerah Sukabumi. Beberapa ekor anjing berhadapan dengan Bas. Mereka sama -sama tengkurep. Bas bercerita dan anjing yang jumlahnya lebih dari 4 terdiam menatap Bas. Padahal semua orang kampung memperingakan untuk berhati-hati.

Begitu juga dengan si bungsu Vanessa yang selalu Mba Ica ajarkan untuk berani tampil dan berbuat benar. Sejak balita Van sangat luwes berhadapan dengan orang lain.

Kini ketika Bas dan Van remaja, Mba Ica dan suami masih memegang kendali penuh terhadap anak-anaknya. Sebagai orangtua perlu menekankan pemahaman dan tanggung jawab. Bahwa semua perbuatan dan pemikiran mereka ada resiko yang harus ditanggung.

Uang jajan dan transport yang biasa diberikan harian, kini diminta mingguan. Bahkan si sulung yang kini duduk dikelas 1 SMA meminta diberikan bulanan. Mba Ica dan papanya membahas dari semua sisi. Bagaimana jika uang habis sebelum sampai pada bulan berikutnya? Bagaimana jika malah menjadi boros?

Ica dan keluarga

Ternyata semua berjalan apa adanya. Jika uang terpakai, mereka harus menjelaskan terpakai untuk apa? Lalu bagaimana untuk transport hingga bulan berikutnya? Bas dan Van bisa memegang kepercayaan yang diberikan orangtua. Mereka mengatur dan saling membantu. Ketika Bas kehabisan uang, ia pinjam pada adiknya. Mereka siap dengan resikonya. Walau Mba Ica dan suami tak segan memberi tambahan uang di tengah minggu, jika mereka memberi sikap terpuji. Misalnya nilai baik, dan atau membantu menyapu/mencuci piring tanpa diperintah.

Kuncinya, adalah sebagai orangtua menurut Mba Ica tetap harus memberi ruang kepada anak untuk mereka bisa mengeksplor kemandirian dan kemampuan diri. Keterbukaan komunikasi dan mensuport kegiatan termasuk pemikiran anak, membuat orangtua bagaikan kawannya.

Jadi jangan heran kalau Mba Ica jumpa Bas dan Van di rumah, mereka bisa akur layaknya teman sebaya, bisa bercanda layaknya dengan sahabat, dan bisa curhat serius bagaimana layaknya anak mengadu kepada emak bapaknya.

Ica Pakar Gojek!

Hahaha…!

Akhirnya pakar sama murid naik gojek bersama (nagober)

Akhirnya pakar sama murid naik gojek bersama (nagober)

Kalau yang ini bukan berarti Mba Ica nyambi jadi tukang ojek online juga yah. Aku sematkan ia pakar gojek, karena dari sanalah aku banyak berguru tentang berbagai informasi seputar layanan ojek online warna hijau yang kontroversional ini.

Sekian lama gojek beroperasi, pertama kali aku naik gojek ya sama Mba Ica ini. Setelah sebelumnya dengan sabar dan detail menjelaskan mulai dari aplikasinya di handphone, cara “memesan”, system pembayaran, sampai “verifikasi” jika si Gojek sudah datang. Teori demi teori sudah dijelaskannya sampai akhirnya diakhiri dengan praktek nagobar alias naik gojek bareng-bareng.

Dengan detail dan sabar, Mba Ica menurunkan ilmu "manggil" gojek kepadaku

Dengan detail dan sabar, Mba Ica menurunkan ilmu “manggil” gojek kepadaku

Blogger Harus Interaksi

Begitulah, jangan menilai orang karena melihat tampilannya saja. Jika digali dan terus digali ternyata ilmu dan wawasan itu bisa didapat dari teman kita sendiri. Meski selintas orang tersebut tampak tidak ada apa-apanya. Berkenalan lebih jauh dengan Mba Ica, bukan hanya ilmu seputar literasi, parenting dan sosialita saja yang bisa dishare olehnya. Tapi lebih dari itu.

Soup ikan khas Manado yang seger bikin aku mau tahu bagaimana resep membuatnya

Soup ikan khas Manado yang seger bikin aku mau tahu bagaimana resep membuatnya

Andai berkesempatan masih ada hal lain yang aku ingin todong dari Mba Ica. Adalah ilmu memasak resep khas dari tanah leluhurnya, Manado. Siapa tidak kenal dengan kemashuran bubur Manado dan kuah asam pedas nan gurihnya? Waduh, baru mendengarnya saja sudah terbayang kelezatannya. Jadi tidak sabar nih, menungu kesempatan selanjutnya untuk jumpa Mba Ica 

Jangan ngaku blogger kalo tidak mengenal lebih banyak sesama blogger. Tulisan ini saya buat memenuhi “tantangannya” Teh Ani Berta di Group Fun Blogging.

Comments

  1. Ini dusta. Pujian yang kelewatan. Astaga Okti, saya mah cuma Nyonya Bawel. Mamanya Vanenbas yg cuma tukang masak dan bebersih rumah. Pakar? Gelar yang salah tempat.

    • ih, dasar Nyonya Bawel… yang jadi sutradara kan saya. Udah diem saja 😀
      yang diakui oleh murid sama gurunya iyakan saja 🙂

  2. setuju banget sama kalimat iniii: “jangan menilai orang karena melihat tampilannya saja. Jika digali dan terus digali ternyata ilmu dan wawasan itu bisa didapat dari teman kita sendiri. Meski selintas orang tersebut tampak tidak ada apa-apanya”
    sukses mbaak 😉

  3. Asyiknyaaa lihat prestasi Mba Icha yang seabreg dalam dunia literasi.
    Senang lihat foto keluarganya yang harmonis 🙂
    Mba Icha ini gak dusta kok …..

  4. Aah aku jd kangen mamih Icha niih. Huhuu

  5. Mbak Okti, boleh minta nomer hp dan alamat mak Ica ? mau main ke rumahnya nih, berguru literasi ke beliau.
    Mak Ica seandainya engkau membaca pesan ini plisss…email ya ke adam140104@yahoo.com thank you…

Speak Your Mind

*