Gara-gara Telur

Gara-gara Telur

Sepertinya ga mau disalahkan begitu saja. Maka dipanggilnya bala bantuan untuk meringankan beban yang dipikulnya.

Diajaknya tim hore dan suporter untuk membela atas apa yang telah dishare nya beberapa waktu lalu. Sebenarnya sih ga ada kesahalan yang berarti, apalagi kalau kena di orang yang do not care alias gak baperan. Andai kena di saya yang selalu masa bodo atas sikap orang lain selama tidak merugikan mungkin tidak akan serunyam itu jadinya.

Saya yang sebenarnya tidak berteman dan tidak mengetahui asal mula permasalahan jadi penasaran dan kepo menelusuri bagaimana sih awalnya sehingga mereka satu sama lain saking menyerang dan saling membela?

Rupanya, pada awalnya masalah terjadi ketika seseorang menshare berita di media sosial terkait telur palsu. Mungkin meski belum yakin atas kabar itu tapi dia ngeshare lagi disertai opini pribadi yang seolah tahu betul jika telur palsu itu ada dan sudah ada orang yang makan telurnya. Biasalah orang kalau menyebar “katanya” selalu ditambah in ini dan itu. Seolah kebenaran hanya miliknya.

Rupanya belakangan telur palsu itu memang untuk mainan bukan telur untuk konsumsi. Telur mainan yang dalam kemasan punya nama egg slime (kalau ga salah) dihargai Rp. 7000 per butir. Padahal saat ada pasar malam di desa, sekitar 2 tahun lalu Fahmi beli telur mainan itu Rp. 10 ribu lho satunya.

Dan opini pun berkembang lagi. Satu sama lain saling memojokkan lagi. Merasa kurang kuat menghadapi bulian dan nyinyiran akhirnya mengerahkan pasukan dengan mengajak orang-orang yang pro untuk memperkuat barisan. Ramai sampai perdebatan terus meluas dan banyak orang terlibat karena satu sama lain saling mention kawan yang dianggap bisa memberikan bantuan.

Karena itu saya yang tidak tahu apa-apa pada awalnya jadi tahu dan penasaran hingga menelusuri dari awal kenapa sampai timbul perdebatan itu.

Oalah… Ternyata gara-gara telur palsu. Telur mainan yang banyak beredar di media sosial video serta pemberitaanya.

Saya jadi terkekeh sendiri. Mereka orang-orang yang seharusnya digugu dan ditiru jadi percontohan anak-anak malah saling lempar masalah dan mencari bantuan yang bisa meringankan. Gimana mau punya wibawa dihadapan anak anak kalau ada hal sepele saja sudah kelabakan sendiri.

Seandainya dari awal sudah bijak dalam bermedia sosial, mungkin ujungnya tidak akan kemakan ulah sendiri. Media sosial saat ini ibarat pisau bermata tajam. Salah menggunakan bisa melukai diri sendiri.

Akun media sosial meski jelas jelas milik sendiri namun saat ini punya konsekuensi yang tinggi. Salah menggunakan bisa menjebloskan si pemilik ke dalam penjara karena terjerat Undang-undang IT, konten hoax, dan kasus sejenis lainnya.

Belajar dari permasalahan teman, yuk kita belajar menjunjung etika di dunia maya. Caranya bagaimana?

Cara menjunjung etika dunia maya:Ā 

1. Buat status positif yang membangun diri dan menyemangati. Selain enak dibaca orang, semoga jadi doa dan saling menguatkan bagi yang lain.

2. Lebih baik tidak share apa-apa dari pada share info hoax atau kabar yang masih diragukan kebenarannya. Di Sukabumi ribuan pelamar kerja di pabrik lampu tertipu karena termakan info hoax. Kalau kita ikut membagikan info itu, berarti kita ikut menyebar info bohong atau membohongi orang lain, kan?

3. Jangan mudah terpancing untuk menghakimi atau membela atau pro pihak pihak tertentu di dunia maya. Lakukan apapun sewajarnya. Gunakan media sosial untuk hal positif sehingga terhindar dari permasalahan dunia maya yang bisa merembet ke dunia nyata kita.

Masih ada etika di dunia maya lainnya? Boleh ditambahkan ya šŸ™‚

Comments

  1. Aku milih nggak ngeshare biasanya teh, sebelum tahu kebenarannya.

  2. Kadang terlalu latah untuk ngeshare suatu berita yang belum tentu bener ya, Teteh

  3. Betul mba, di dunia maya ini jari2 lah yg lebih tajam daripada pisau. Semoga kita semua terhindar dari hal2 yg negatif ya mba, Aamiin.

  4. Harus hati hati memang dalam bermedia sosial, harus jadi pengguna yang rajin, jika ada info harus rajin cek dulu bener ga, rajin konfirmasi. Kasian yang menderita gara gara berita hoax

  5. Harus hati-hati emang di medsos termasuk komentar jangan memancing orang merasa tertekan, terpojok dll.

  6. Serem juga beranteman karena telur ya. Aku sendiri memilih gak banyak komentar deh. Tapi emang susah ya menahan rasa kepo hehe

  7. kalau saya sich lebih baik biarin saja, takut salah dan disalahkan nanti kalau berita itu tidak benar

  8. Harus diteliti secara mendalam ya mbak, karena ya emang dunia online semua ini harus bisa dipertanggungjawabkan, sebab ada UU yang mengatur. #DuniaFaisol

  9. Dunia maya ini ngeri” sedap ya teh. Harua hati” dalam nemilih dan menentukan mana yg benar san yg tidak

  10. Saking pabaliut na informasi atau ngebet ingin menginfokan jadi weh bikin riweuh

  11. Yes..sebelum share ..cek dulu Kebenarannya..

  12. Yes aku sepakat banget, aku gak mau share sebelum bener-bener jelas, kredibel, dan valid datanya. Mudah-mudahan bisa konsisten ya, kadang gemes kalau liat berita ala-ala l***e t***h hehehe pengen asal share

  13. Aku udah lama terbiasa hanya share yg aman2 saja, lagian gk kuat jg menghadapi pro dan kontra di kolom komen saya mah. šŸ˜€

Speak Your Mind

*