Fenomena Harga Pasar Tradisional

Fenomena Harga Pasar Tradisional

Pasar

Heboh harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turun (walau hanya beberapa persen) tidak menyebabkan harga sembako ikut turun. Alih-alih menyesuaikan harga, yang ada di Pasar Pagelaran, Cianjur harga sayuran justru malah melesat naik!

Hari ini, Jumat adalah hari pasar di Kecamatan Pagelaran, Cianjur Selatan. Beda sama pasar lain di kota, kalau di Pagelaran ini pasar “buka” hanya dua hari dalam seminggu, yaitu hari Jumat dan Selasa saja. Di lain hari itu, tidak ada pasar, kecuali ke kecamatan lain yang juga pasarnya buka selang hari dengan pasar setempat. Misalkan di Pagelaran pasar ada Selasa dan Jumat, maka di tetangga Kecamatan Tanggeung pasarnya adalah Senin dan Kamis. Di Campaka adanya pasar hari Minggu dan Rabu. Kecuali di Sukanagara, pasar setiap hari karena sdah ada pasar permanen.

Dengan kondisi seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana warga harus pintar-pintar dalam berbelanja dan mengatur keuangan. Sebab kurang-kurangnya cermat, bisa kebobolan dan atau mungkin kekurangan bahan yang akan dipasak, sehingga mengusahakan ke pasar lain dan ini tentu akan menambah lagi pengeluaran.

Saat BBM turun harga, begitu juga gembar gembor turunnya harga ongkos angkutan di perkotaan; karena di wilayah kami di desa, harga ongkos sama saja, tidak ada perubahan, harga sayur dan bumbu di Pasar Tradisional Pagelaran justru malah melambung naik. Duh, membawa uang seratus ribu rupiah rasanya tidak cukup untuk membeli sayur dan buah untuk persediaan dua sampai tiga hari ke depan. Sementara pendapatan belanja dari suami ya gitu-gitu saja, karena gaji suami pun tidak naik signifikan.

Sempat tertegun saat membeli tomat, setengah kg dikasih uang sepuluh ribu mengembalikannya dua ribu rupiah. Tercengang saat penjual bilang, tomat saat ini satu kg nya Rp.16.000 Oalah… mahal amat? Dan kenapa begitu drastis naiknya dari harga satu kilo tujuh ribu saja, kini naiknya tinggi sekali. Sempat bingung, tapi tetap saja jadi membeli karena suami doyan anget makan pake sambel. Dan tomat jadi penunjang sambal kesukaan keluarga.

Harga Jengkol saat ini satu Kg antara 35-40 ribu. Ini juga membuat galau, menimbang-nimbang jadi beli atau tidak ya? Mengingat hari Jumat adalah “Hari Ngaliwet” buat kami, dan ngaliwet rasanya tidak afdol tanpa goreng jengkol (dan atau gantian dengan pete kalau ada) akhirnya membeli juga meski cuma setengah Kg saja. Uangnya kan harus berbagi dengan sayuran lain.

Harga mentimun masih terbilang stabil, kemarin dua ribu satu kilo, sekarang naik jadi tiga ribu. Begitu juga dengan harga pare. Tetap enam ribu per kilo nya. Cabe merah keriting masih seperti kemarin, kalau beli per kilo sekitar 30-40 ribu. Tapi kalau beli satu atau dua ons, maka “dibulatkan” oleh pedagang jadi Rp. 5000 per ons. Yah, daripada tidak dapat, mengikhlaskan saja seribu perak buat si emangnya.

Yang membuat terkejut lagi ialah harga buah lokal kokosan. Ceritanya tadi ketemu penjual kokosan yang sepertinya baru jualan di pasar Pagelaran. Seorang kakek yang baru saya lihat dengan tanggungan karung di sisinya, serta hamparan buah duku lokal dan kokosan di depannya. Biasa saya beli kokosan di penjual lain, harga antara 8 ribu sampai 10 ribu. Tanpa bertanya dulu, saya memilih kokosan hingga kira-kira ada satu Kg beratnya. Uang selembar sepuluh ribu saya berikan setelah kokosan ditimbang si penjual.

Kembaliannya ada 6 ribu rupiah!

Sabaraha sakilona, Pak?” tanya saya heran. Uang kembalian masih saya pegang.

Opat rebu, Neng! Murah lah!” jawabnya.

Sambil mengucap ijab kabul saya pun menerimanya. Tapi dalam benak saya terus kepikiran. Si Kakek itu apa tidak rugi menjual kokosan hampir setengah harga para penjual lain? Atau si kakek tidak tahu harga pasar? Iseng saya nanya ke penjual lain yang menjual kokosan di lapaknya, katanya per kilo 7 ribu! Padahal itu kokosan sudah layu dan tidak seindah kokosan yang dijual si kakek. Nah, benar masih tinggian dari harga yang dipatok si kakek kan? Ada rasa kasihan yang menyelinap di hati jika mengingat si kakek ini. Tapi gak bisa berbuat karena semua itu baru kepikiran setelah sampai di rumah. Entah ketemu lagi atau tidak dengan si kakek penjual kokosan itu pada hari pasar Selasa minggu depan?

Berikut yang saya beli di pasar Pagelaran tadi pagi:

Kokosan, buah lokal yang hampir punah

Kokosan, buah lokal yang hampir punah

Cabe merah keriting harga masih stabil

Cabe merah keriting harga masih stabil

Pare masih terjangkau. Apa karena jarang yang suka kali ya hingga yang beli sedikit? Hihi...

Pare masih terjangkau. Apa karena jarang yang suka kali ya hingga yang beli sedikit? Hihi…

Harga jengkol masih di atas rata-rata

Harga jengkol masih di atas rata-rata

Harga tomat yang bikin terperanjat. Apel sama jeruk saja kalah!

Harga tomat yang bikin terperanjat. Apel sama jeruk saja kalah!

Ngaliwet Jumat ini ganti suasana pake pindang kerat, ikan peda merahnya istirahat dulu :)

Ngaliwet Jumat ini ganti suasana pake pindang kerat, ikan peda merahnya istirahat dulu 🙂 harga seribu satu buah. beli lima ribu dapat lebih satu kerat

Mentimun rutin dibeli setiap hari pasar. Buat lalap, juga buat rujak

Mentimun rutin dibeli setiap hari pasar. Buat lalap, juga buat rujak

Satu buah apel ini empat ribu rupiah.

Satu buah apel ini empat ribu rupiah.

Jeruk per Kg Rp12.000  hitung-hitung seribu per buah karena satu Kg ada 12 biji

Jeruk per Kg Rp12.000 hitung-hitung seribu per buah karena satu Kg ada 12 biji

Begitulah harga pasar tradisional di kampung. Seratus ribu rupiah itu tidak cukup untuk belanja kebutuhan dapur. Apalagi bagi mereka yang tinggal dan belanja di kota ya?

Comments

  1. Hmmm, harga bahan pangan di Pasar Kranggan, Jogja juga sedang naik. Yang lumayan mencekik buatku harga brokoli. Biasanya beli Rp5.000, sekarang bisa Rp9.000. Katanya sih karena banyak hujan, jadi tanaman pada busuk. Entah lah.

    Aku sih uang Rp20.000 cukup untuk lauk makan sekitar 8 hari. Hitungannya tempe satu lonjor Rp5.500, brokoli Rp9.000, wortel Rp5.000, sisanya bumbu dapur. Makan pakai tempe + sop sayur sederhana gitu lah, hehehe.

    • Okti Li says:

      Di Pagelaran Cianjur ini brokoli malah susah dapat. Kalau ada berapa coba? Lima belas ribu sama bonggolnya! Satu buah yg dipasak cuma seupritnya. Anak juga gak begitu suka makannya. Jadinya lebih memilih buncis muda aja. Satu kilo delapan ribu, itu udah bisa masak dua kali…

      Iya, hujan terus buat sayuran cepat rusak. Jadinya harga melambung.
      Buat kami orang kampung yang tidak banyak penghasilan serba bingung. Makan daging mahal, sayuran pun berat hati membelinya.
      Dulu biasanya ikan asin identik sama makanan orang miskin, tapi tahukah kalau ikan asin perkilonya justru dua kali lipat dari harga daging ayam?

      Hikz! Mau makan makanan bergizi to ya ribet amat. Mau sehat itu susah…

  2. Walaah tomat mahal amat teh? Saya nggak kerasa kalo harga tomat mahal soalnya kalo belanja di Pasar Lembang, Ciledug pasti dikasih bonusnya tomat cuma memang belanja terakhir tumben dikasih bonusnya bawang putih bukan tomat. Ternyata eh ternyata harga tomat lagi naik toh.

  3. Beruntung saya sekarang tinggal di desa. Harga masih murah.
    Saya suka foto2nya.
    Salam hangat dari Jombang

  4. Kalo aku sih Di Jakarta harga cenderung stabil ya, walau daerah lain udah naiik, tapi di Jakarta biasanya 1-2 hari baru ikut naik juga.
    apalagi kalau belanjanya di swalayan]

    Salam kenal ya teteh

Speak Your Mind

*