Gambar Usang dari Anak Majikan

Gambar Usang dari Anak Majikan

Sepulangnya dari merantau, banyak kenang-kenangan yang diberi oleh teman, maupun majikan serta keluargnaya yang sampai saat ini masih aku simpan dengan baik. Meski dari harga mungkin bisa dibilang tidak seberapa, tapi jika dilihat dari kegunaannya tentu saja sangat bernilai.

Meski sesungguhnya saat aku memutuskan untuk pulang kampung dan tidak akan kembali untuk bekerja lagi sedikitpun tidak mengharapkan pemberian apapun dari mereka. Apalagi dari teman-teman yang sama-sama susah dan senasib dalam pekerjaan. Dari majikan serta keluarganya pun aku tidak mengharapkan sama sekali.

Tapi ada sebuah hadiah yang diberikan anak majikan yang sejak usia 3 bulan sampai lima tahun aku rawat, selalu membuatku menitikkan air mata manakala melihat dan mengingatnya. Emma, anak majikanku saat bekerja di Taiwan, dia memberikanku sebuah lukisan hasil karyanya sendiri.

Jangan berpikir jika lukisan anak usia 5 tahun mempunyai nilai seni tinggi layaknya lukisan Monalisa atau lukisan setingkat karya pelukis terkenal lainnya. Emma hanya melukis pada selembar kertas HVS berupa coretan tangan dia dengan pensil gambar yang dimilikinya. Lalu apa yang membuatku selalu merasa bahwa lukisan yang diberikan Emma kepadaku itu mempunyai nilai?

Adalah sebentuk pengakuannya. Ya, pengakuan Emma, yang dijabarkan pada lukisannya. Dalam kertas itu, dia menggambar ayahnya, ibunya, kakaknya dan dia sendiri yang tengah menggandeng seseorang. Tahukah siapa yang dia gandeng? Dialah aku! Pengasuhnya…

Keluarga majikanku memang cukup baik. Mereka menganggap aku bukan hanya pembantu semata. Melainkan lebih pada sebagai anggota keluarganya, sebagai sahabatnya, dan sebagai kakaknya. Hasil dari didikannya itu tercermin kepada anak-anak majikan yang juga sangat menghormati serta menghargaiku, meski aku berstatus hanya sebagai pembantu mereka.

Pengakuan Emma dalam gambarnya yang memasukkan aku ke dalam lingkaran keluarganya sangat menyentuh serta membuatku selalu teringat kepadanya. Aku rawat dia siang malam sejak usia 3 bulan sampai menjelang masuk sekolah dasar. Saat itu aku belum menikah, tapi dia sudah seperti anakku sendiri. Teramat berat saat aku akan meninggalkannya. Begitu juga dengan Emma dan Ariel, kakaknya. Mereka terus meneleponku bahkan sampai aku masuk pesawat terbang, Emma terus menangis menanyakan kapan aku akan kembali ke rumah mereka…

Hadiah dari Emma memang tidak ada harganya, tapi sungguh sangat bernilai untukku. Sebagaimana pendapat Mak Susi dalam blognya Hadiah Kecil Berarti Besar. Nilai selembar kertas HVS yang digambari bocah anak TK (bahkan kini gambar tersebut sudah usang dan luntur) sangatlah kecil, namun artinya teramat besar buatku: Emma menempatkan aku dalam hatinya sebagaimana aku ini bagian dari keluarganya.

Tulisan ini dibuat untuk berpartisipasi dan menyemarakkan give away yang diadakan oleh Mak Susi di sini

Hadiah Give Away dari Mak Susi: Hadiah Kecil Berarti Besar

Hadiah Give Away dari Mak Susi: Hadiah Kecil Berarti Besar

Trackbacks

  1. […] aku tengok semua give away yang sudah aku ikutin. Hanya kebetulan pas aku lihat tulisanku tentang Gambar Usang Dari Anak Majikan, teringat kalau pengumumannya tanggal 22 Maret. Nah, berarti sudah kemarin […]

Speak Your Mind

*