Hari Peduli Sampah Nasional: Ahad Wisata Ajak Anak Melek Sampah

Hari Peduli Sampah Nasional: Ahad Wisata Ajak Anak Melek Sampah

Hari Peduli sampah nasional 2016

Karena Hari Minggu ini tidak kemana-mana, kami mengajak anak-anak sekitar rumah yang suka mengaji di rumah bermain ke bendungan Ciadeg yang lokasinya sekitar 300 meter saja dari rumah. Jangan membayangkan bendungan seluas Jatiluhur atau Saguling, karena bendungan yang kami sebut adalah hanya bendungan sungai yang lebarnya tak sampai tiga meter. Sungai ini dibendung supaya airnya bisa naik, sehingga bisa dialirkan untuk mengairi sawah yang letaknya agak tinggi dibanding permukaan sungai.

Niat awalnya, kami ngajak anak untuk sekedar bermain, dengar dongeng dari buku yang dibaca, dan menyantap bekal alakadarnya yang kami dan anak-anak bawa masing-masing. Namun saat berjalan menyusuri sungai, melihat ada sampah-sampah plastik yang nyangkut jadi teringat kalau hari ini, Minggu 21 Februari adalah Hari Peduli Sampah Nasional.

Bendungan Ciadeg sebagai pembelajaran anak

Bendungan Ciadeg sebagai pembelajaran anak

Tanpa berniat menggurui, berbekal hasil bacaan serba singkat nyontek dari Google kami pun sekaligus menginformasikan kepada anak-anak yang rata-rata duduk di bangku SD itu informasi seputar Hari Peduli Sampah, apa bahaya buang sampah sembaranan, dan hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi sampah.

Senang saat anak-anak kritis dan objektif. Terus bertanya hingga mendapatkan kepuasan atas jawaban yang diberikan, dan optimis mereka bisa melakukan hal sekecil apapun untuk belajar membantu mengurangi produksi sampah. Ya, meski mereka hanya anak-anak kampung tapi diharapkan tidak kalah semangatnya dengan anak-anak kota. Lagian bukankah kewajiban seluruh penghuni bumi ini untuk ikut menjaga kelestarian alam?

Niat awal mau baca buku dan tafakur alam, akhirnya bergeser jadi bahas sampah dan main air! Hihihi... basah!

Niat awal mau baca buku dan tafakur alam, akhirnya bergeser jadi bahas sampah dan main air! Hihihi… basah!

Sampah saat ini sudah sangat meresahkan. Jangan kata di kota, di kampung kami saja, yang memang tidak ada Tempat Pembuangan Sampah Akhir kebanyakan warga membuang sampah langsung ke sungai. Mending kalau sampah busuk atau organik. Lah sampah plastik pun warga tetap membuangnya ke sungai yang padahal di hilir sana sudah pada tahu kalau airnya masih digunakan banyak penduduk.

Susah memang kalau belum timbul kesadaran dari dirinya sendiri. Apapun masukan dan himbauan, tetap tidak dipedulikan. Padahal mereka para orang tua lho! Karena itu, maka kami sengaja menjadikan anak-anak sekitar rumah sebagai sasaran informasi yang kami lakukan. Biar orang tua mereka sulit diberi arahan, tapi siapa tahu dengan ada anaknya yang melek sampah, orang tuanya perlahan menjadi ikut sadar.

Bendungan yang awalnya banyak disangkuti sampah plastik, kami mengangkatnya sehingga air tak lagi tersumbat. Air pun lancar mengalir ke sawah

Bendungan yang awalnya banyak disangkuti sampah plastik, kami mengangkatnya sehingga air tak lagi tersumbat. Air pun lancar mengalir ke sawah

Khususnya kantong plastik, yang susah terurai dan mengancam kehidupan manusia serta ekosistem sudah tidak bisa dibilang gampang. Gara-gara ada bencana longsor gunungan sampah di Leuwigajah, Cimahi Jawa Barat pada 21 Februari 2005 lalu, maka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ini muncul sebagai hari peringatannya. Jika di beberapa kota serentak mengadakan kerja bakti gotong royong aksi bersih-bersih, maka kami selaku penduduk kampung yang tinggal jauh di kota berkontribusi dengan ikut membersihkan Bendungan Ciadeg sekaligus memberikan informasi kepada anak-anak seputar sampah dan kaitannya.

Kami harap anak-anak tidak hanya pada saat ada peringatan saja ikut menjaga kebersihan dari sampah ini, tetapi diharapkan akan menjadi agenda mereka sepanjang hidupnya. Ya, minimal sampai tahun 2020, tahun dimana dicanangkannya Indonesia Bebas Sampah 2020.

Basah mungutin sampah, akhirnya mandi sekalian!

Basah mungutin sampah, akhirnya mandi sekalian!

Melihat berita di televisi, bersamaan dengan HPSN ini sebanyak 22 kota-kota besar menerapkan sistem kantong plastik berbayar termasuk DKI Jakarta. Dengan membeli plastik, diharapkan kita bisa lebih bijak untuk menggunakan plastik berprinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle.

Kami sih asyik-asyik saja dengan program ini bahkan mendukung banget! Sejak tahun 2000 mengenal sistem bawa tas sendiri kalau belanja ini saya alami saat bekerja di Singapura. Karena terbiasa dan terasa banget manfaatnya maka saya sangat mendambakan suatu saat hal serupa bisa dialami di Indonesia. Dan ternyata kali ini baru kesampaian. Begitu pula saat tinggal di Hong Kong dan Taiwan. Mereka negara maju sudah menerapkan sistem pengurangan penggunaan kantong plastik ini dan berhasil. Jika Indonesia mau maju dan berhasil, paling tidak ya salah satu langkah kecilnya ialah ikut mengurangi pemakaian sampah kantong plastik ini.

Semoga sepanjang hidupnya mereka bisa menjaga bumi dari sampah plastik...

Semoga sepanjang hidupnya mereka bisa menjaga bumi dari sampah plastik…

Anak-anak banyak bertanya. Kami tetap menjawab meski pertanyaannya kadang asal dan nyeleneh. Termasuk saat ada anak yang bertanya kalau buang sampah tahun ini, sementara sampah baru terurai sampai seribu tahun, dan keburu kiamat berarti tidak apa-apa dong buang sampah juga? Kan dunianya juga berakhir, termasuk sampahnya…

Hihihi… kami tertawa mendengar pertanyaannya itu. Tapi meski begitu tetap saja kami haruskan mereka membuang sampah pada tempatnya. Bukankah kebersihan itu sebagian daripada iman? Kalau masih buang sampah sembarangan, berarti tidak beriman, bagaimana mau masuk surga saat kiamat nanti kalau matinya imannya tidak kumplit?

Jadi kita harus gimana dong? Nah, pertanyaan anak itu kini mulai melunak. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan anak-anak untuk bisa membantu berkurangnya sampah jadi jawaban kami untuknya. Diantaranya menggunakan botol minum pribadi yang bisa diisi ulang; ini bisa mengurangi sampah botol plastik. Terus mengingatkan ibu-ibu mereka untuk membawa tas khusus apabila akan berbelanja. Jadi tidak boros dalam kantung plastik yang nantinya bisa menjadi sampah.

Ahad Wisata: Wisata alam penuh pembelajaran

Ahad Wisata: Wisata alam penuh pembelajaran

Hal lain yang bisa dilakukan anak ialah jajan jajanan yang tidak menggunakan pembungkus plastik. Kalaupun harus dibungkus, pilih yang menggunakan kertas. Lalu masak makanan yang masih segar sehingga tidak harus dibungkus lebih dahulu. Tentu masak kangkung dari pasar tradisional beda dengan membeli makanan dari swalayan yang biasanya sudah dikemas lagi dengan rapih. Sampah dari belanja mie basah di pasar beda dengan sampah membeli mie instan yang banyak bungkusnya kan?

Yang terakhir kami sampaikan kepada anak-anak adalah untuk terus menjalankan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) jadi meski kita tidak bisa menghindar dari yang namanya sampah, tapi dengan adanya daur ulang, paling tidak bisa lebih memanfaatkan sampah dan sedikit banyak membantu program pemerintah.

Speak Your Mind

*