Hutan di Halaman: Dicaci Diam-diam Diminati

Hutan di Halaman

Setiap tiba di rumah, selalu saja ada tetangga yang meminta maaf karena sudah mengambil sesuatu dari halaman rumah, sekaligus meminta izin karena mereka sudah berani mengambil saat kami sedang tidak ada. Tentu saja kami maafkan dan izinkan.

Halaman rumah kami peninggalan mertua di Pagelaran, Cianjur memang tidak dipagar. Meski tidak begitu luas, tapi halaman tersisa baik di depan, samping maupun belakang rumah. Karena jasa ayah mertua yang sangat menyukai tanam pohon buah, maka kini di halaman itu banyak tumbuh berbagai jenis buah yang sudah terbilang cukup langka. Seperti asam kranji, huni, mangga kaweni, buah salam dan kelapa hijau.

Tidak hanya itu, tumbuh juga berbagai tanaman lain seperti jambu biji, jambu air, pisang, sirsak, sukun, tangkil, dan markisa. Juga terdapat beberapa tanaman apotik hidup.

Halaman depan kanan

Halaman depan kanan

Saking banyaknya tumbuhan di halaman, banyak orang yang bilang tempat kami seperti hutan. Ya, tak kami pungkiri kalau di sekitar rumah memang banyak terdapat binatang khas di kebun. Mulai serangga, laba-laba, semut rangrang, kelelawar, tupai, burung hantu, hingga tokek.

Mungkin karena itu banyak tetangga yang mencibir terhadap kami. Pertama kali dibawa suami menempati rumah ini, banyak ibu-ibu yang berbisik. Betah tinggal di lingkungan rumah seperti hutan? Aku hanya tersenyum saja.

Halaman belakang mau disapu

Halaman belakang mau disapu

Sebenarnya aku bukan mengabaikan masukan dari tetangga. Toh aku juga merasa tidak nyaman kalau tumbuhan di halaman tumbuh liar dan tidak terawat atau membahayakan. Aku secara berkala sebisa mungkin merapihkannya, membuang yang sudah tua, atau memotong dahan sebagian.

Tidak jarang tetangga terdekat mencak-mencak merasa terganggu dengan dedaunan yang tertiup angin dan jatuh di halaman mereka. Ada juga tetangga yang langsung memotong sendiri dahan yang menjulur ke tempatnya dengan tidak lebih dulu menginformasikan kepada kami selaku pemilik pohon yang ditebang.

Seperti itulah kondisinya. Di depan kami mereka mencaci, tapi saat berhadap-hadapan baik hati setengah mati. Toh ternyata mereka membutuhkan apa yang ada di halaman rumah kami. Markisa, huni dan buah salam sering diminta oleh tetangga yang sedang ngidam. Kelapa hijau banyak yang perlu buat obat. Begitu juga buah lainnya kalau pas musimnya berbalik tak lagi mempermasalahkan tempat kami yang awalnya kata mereka seperti hutan.

Melihat membakar daun kering

Melihat membakar daun kering

Karena banyak manfaatnya akhirnya sejak mertua tiada kami sepakat untuk tetap mempertahankan sekian banyak tanaman di halaman yang sudah menghutan. Bukan tidak peduli kepada keluhan tetangga, tetapi kami ingin menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup walau dengan langkah kecil.

Saat musim kemarau, warga di kampung kelimpungan karena sumber air mengering. Alhamdulillah tidak dengan sumur di kamar mandi rumah kami. Hingga musim hujan turun lagi, kami tidak usah mandi dan nyuci ke Sungai Cijampang seperti tetangga.

Salam, asam kranji, jambu, mangga, kelapa dan rambutan di halaman

Salam, asam kranji, jambu, mangga, kelapa dan rambutan di halaman

Panglai di halaman

Panglai di halaman

Mungkin ini salah satu keuntungan yang kami dapat karena mempertahankan pepohonan di sekeliling tempat tinggal. Sumber air kami tidak kering, cadangan air meski kecil tetap ada dan terus memancar. Tetangga yang biasa ngedumel, pada musim kemarau tahun 2015 kemarin tidak lagi banyak ulah manakala banyak yang mengherankan kenapa sumur kami tetap berair sementara sumur mereka kering kerontang dan kami jawab itu semua berkat cadangan air dari semua pepohonan di halaman.

Saat pemerintah gencar kampanye tanam pohon, kami malah sudah memetik hasilnya.

Gugur satu tumbuh seribu

Gugur satu tumbuh seribu

Comments

  1. halamannya kaya dan luas ya

    • Alhamdulillah Mbak Astin. Kalau di kampung masih bisa diusahakan punya lahan cukup
      selain orang tua jaman dahulu mementingkan lahan udalam investasi, juga harga lahan di kampung masih terbilang murah dibanding di kota 🙂

  2. waahhh,, hutan disamping rumah yah.. klo aku kebun belakang. karena ada space yang lumayan (tidak besar dan tidak kecil juga) makanya orangtua aku nanemin beraneka ragam tanaman hias, herbal dan pohon. seperti pohon jambu, mangga, jahe, bunga. hitung-hitung ikut andil dalam menjaga lingkungan.

Speak Your Mind

*