Iman dan Sarang Laba-laba

Iman dan Sarang Laba-laba 

 

 

“Lancah maung! Ibu ada lancah maung…!” Tangan mungil Fahmi nunjuk-nunjuk ke atas kepala. Tubuhnya sedikit meloncat-loncat.

Saya mendongak dan menghentikan menyapu jalan. Eh iya ada sarang laba-laba beserta laba-laba harimau yang disebut Fahmi sebagai lancah maung2.

Pagi itu cahaya matahari lagi hangat dan condong dari belakang. Pantulannya membuat sarang laba-laba tampak jelas. Indah dan sempurna.

Ini tantangan lagi, dalam hati saya bergumam. Segera mengeluarkan ponsel dari saku. Hihi… Meski emak desa, menyapu jalan di samping sungai Cikadu saja bawa hape segala. Nah karena ini lah gunanya. Saat ada momen bagus bisa secepatnya memotret. Kalau gak bawa ponsel, bisa-bisa momen bagus yang ditemukan keburu hilang saat pulang dulu bawa ponsel.

Meski agak jauh saya tidak memakai feature zoom untuk memotret laba-laba dan sarangnya itu. Tapi bener susah banget sih, beberapa kali jepretan hasilnya tidak bagus. Sampai putar sana putar sini, miring kiri miring kanan itu sarang dan laba-laba tetap tidak tampak.

Saya jadi ngedumel sendiri, eh depan Fahmi, ding! Sedikit kecewa kok gak bisa-bisa foto sarang laba-laba bagus kaya punya teman-teman di komunitas foto mikro…

Capek dan lama-lama merasa malu dilihat orang lewat saya menyerah saja. Melanjutkan menyapu jalan sepanjang sungai Cikadu.

“Ibu, ada laba-laba lagi. Bagus ini mah orange…” Terdengar teriakan Fahmi yang selalu nempel dekat emaknya ini.

Saya ikuti arah telunjuk tangannya. Ah iya. Di rumpun bambu pinggir sungai ada sarang laba-laba yang lebih kecil. Posisinya jelas terlihat karena berada di bawah kami.

“Ayo foto, Bu!” Seperti tahu kata hati emaknya saja, hehehe…

Segera saya keluarkan lagi ponsel. Kali ini tidak harus mendongak, melainkan justru harus berjongkok. Entah faktor posisi atau cahaya matahari yang ada di depan kami, kali ini baik laba-laba maupun sarangnya tampak jelas dalam bingkai. Saking antusiasnya berkali-kali saya foto. Jarang-jarang bahkan belum pernah berhasil sama sekali foto sarang laba-laba bisa tampak jelas.

Sarang laba-laba ini sudah memberi pelajaran juga rupanya. Sambil duduk di teras, menemani Fahmi bermain sore harinya saya kepikiran sarang laba-laba pagi tadi itu…

Pernah dengar ceramah Teh Ninih istrinya Aa Gym, yang membahas tentang “perumpamaan iman dan sarang laba-laba”. Iman dalam diri kita grafiknya naik turun. Kadang naik kadang turun. Kadang kuat, kadang lemah. Dan ini bisa mengenai siapa saja, jika manusia bersandar kepada selain Tuhan YME.

Allah SWT mengumpamakan orang-orang yang lemah iman dengan sarang laba-laba. Seekor laba-laba membuat sarangnya membutuhkan waktu lama, pengorbanan yang besar, dan resiko berat. Namun hasilnya sarang rapuh, terkena angin sepoi-sepoi saja bisa rusak.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. al-Ankabut [29]: 41)

Yang bisa saya tafakuri saat berusaha mengambil foto namun keyakinan (iman) saya selalu kurang yakin. Karena sugesti itu saya jadi tidak pernah berhasil mendapat hasil yang bagus. Sikap dan perilaku ini yang harus saya ubah.

Allah bisa memberikan pelajaran bagi kita dengan apa saja, termasuk perumpamaan seekor laba-laba yang membuat sarangnya dengan jerih payah namun begitu rapuh hingga mudah rusak. Iman manusia seperti itu. Rapuhnya iman terjadi karena tidak ingat akan kekuasaan Allah. Menganggap kemampuan diri selalu rendah.

Padahal kesuksesan tidak bisa dihitung dari sebuah keberhasilan. Tetapi sesuatu yang telah memuaskan hati Insya Allah akan menyenangkan.

Tidak perlu iri kenapa orang bisa saya tidak? Nafsu duniawi memang akan terus menggoda manusia agar tidak puas. Padahal jika kita bersyukur dengan apa yang telah didapatkan, justru kebahagiaan dan pencapaian tertinggi lah yang sudah kita raih.

Tidak ada larangan untuk populer atau berhasil tapi jadikanlah semua itu sebagai amanah, sehingga hati senantiasa bersyukur ketika mendapatkan lebih dan tetap bahagia saat diberikan kurang. Syukur saya masih bisa melihat serangga di halaman dan memfotonya. Orang lain kalau mau lihat serangga harus ambil libur dan pergi ke luar kota.

Syukur emak-amak ndeso kaya saya masih bisa foto-foto kaya istri-istri pejabat saja yang gengsi sosialitanya, sebagian tetangga saya malah gak tahu cara foto gimana karena ponsel yang ada kameranya saja tidak punya.

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Comments

  1. Aku suka gambarnya teh. Pake kamera apa ini? *kepo* 😀
    Oh iya, dulu sebelum punya anak aku juga suka ngambil gambar di lingkungan sekitar, tapi sekarang udah jarang banget karena ada yg suka cari perhatian liat emaknya berpose fotographer. Semoga nanti besarnya kooperatif kaya mas Fahmi ya supaya bs foto2 lagi. Hehe

  2. Wih hasil jepretannya bagus mba, tampak jelas laba-laba dan sarangnya.
    Btw makasih buat perumpamaan laba-labanya, yups harus jadi diri sendiri, nggak perlu iri dengan situasi dan kondisi orang lain dan tentunya banyak2 mensyukuri rahmatNya.

  3. Masya Allah, mengena sekali tulisannya kak.. 🙂
    Oya hasil fotonya keren..

  4. Kalau sedang down bawaan nya apa apa males ya mba. Semua gak maksimal, semoga gak lama turunnya

  5. Iri adalah penyakit yg menggerogoti jiwa ya teh, bikin gk ngeh sama nikmat yg udah Allah kasih. Ah, semoga iman yg msh gknada apa2nya dlm diriku ini membuatku senantiasa bersyukur 🙂

  6. syukur emang jadi kuncinya ya teh. saat pemyakit hati datang, semoga selalu bisa dihadang oleh rasa syukur

  7. Emak2 rawan ya mbak kyk gtu. Saya pun suka naik turun 🙁
    Terima kasih postingannya jd reminder buat saya….

Speak Your Mind

*