Indosuara: Riwayatmu Kini…

Indosuara: Riwayatmu Kini…

13238966_448876351988632_5259423334262855862_n

Jika Indosuara adalah seorang bayi, maka aku ada mendampinginya sejak ia dilahirkan. Sebagai media cetak berupa tabloid berbahasa Indonesia nomor satu ada dan terbit serta beredar di Taiwan, aku mendampinginya sejak ia masih tipis, hanya beberapa lembar sampai ia menjelma menjadi balita yang terus menggendut dan jadi rebutan para penggemar.

Indosuara menjadi tempat aku melampiaskan semua ide dan pengalaman. Meski ragaku terkekang dalam rumah majikan, namun bersama Indosuara jiwa serta pemikiranku selalu bebas mengawang-awang. Beberapa kali kebersamaan aku dan Indosuara berbuah honorarium yang cukup memuaskan. Hingga Editor dan Redaksi meminangku untuk menjadi bagian dari keluarga besarnya.

Tiga tahun bersama mengarungi dalamnya lautan kata. Menjaring sekian juta kalimat yang dirangkai dalam kolom-kolom artikel yang cukup menghibur para tenaga kerja. Memancing semangat para buruh migran supaya terus maju menerjang ombak godaan hingga sampai di tujuan dalam dermaga finish kontrak.

Tiba saatnya perpisahan. Teramat berat dan aku sama sekali tidak bisa memilih antara kembali atau melepas. Sampai Tuhan membukakan jalan dan memberi solusi yang bisa diterima olehku maupun oleh sang bapak boss. Aku masih diminta bergabung mejadi keluarga besar Indosuara meski tinggal dan menetap di kampung halaman, bukan di Jakarta.

Geliat menjadi kuli tinta di teriknya panas ibu kota menjadi penghias hari-hariku selanjutnya. Berangkat sebelum subuh, kembali hingga lewat tengah malam, bahkan sampai baru kembali di hari berikutnya itu sudah biasa aku alami. Enjoy, karena merasa sesuai passion maka aku menikmati sambil menjalaninya.

Sangat aku syukuri menjalani kegiatan liputan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan. Karena jujur saja, penghasilanku tiap bulan menjadi tumpuan hidup bagi keluarga besarku saat itu. Motivasi diri terus membawaku untuk bisa memberikan prestasi terbaik meski aku bukan sarjana atau ahli di bidangnya. Belajar dan terus belajar untuk terus bisa mengupgrade diri supaya karya lebih baik dan pencapaian semakin tinggi.

Berkeluarga bukan sebuah halangan. Justru menjadi pemicu dan pendorong semakin banyak kumpulan doa. Membentuk sekumpulan harapan hingga menjadi jalan untuk membesarkan buah hati yang didambakan.

Satu windu sudah Indosuara bertahta menjadi majikan yang teramat mengasikan. Liputan demi liputan menghantarkanku berhadapan dengan para pekerja, para pejabat hingga kepala BNP2TKI dari pertama hingga ketiga. Sungguh pencapaian luar biasa untukku si mantan TKW dari desa.

Terimakasih masih terus terpanjat untuk sang bapak bos manakala inflasi mengubah pola kerja dan sistemnya, namun aku masih tetap menjadi bagian tim di Indosuara. Bekerja dari rumah telah mengantarkanku menjadi perempuan yang menjalani emansipasi tetapi tetap menjalankan kodrat dan kewajiban. Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bertahan…

Kecanggihan teknologi semakin memudahkan pekerjaan. Cukup dengan gadget di tangan pekerjaan selalu tepat waktu aku setorkan. Mengangkat profil beberapa teman sudah menambah jalinan silaturahmi dan persaudaraan.

Entah sampai kapan aku dan Indosuara bisa bertahan. Yang pasti harapan dan doa ini selalu dipanjatkan tinggi-tinggi. Tetaplah menjadi bagian dari dinamika kehidupanku wahai Indosuara, meski engkau kini berada tanpa raga…

Speak Your Mind

*