Ini Pengalaman (Bukan Cara) Lapor Pajak Sendiri: E-Filing

Gampang-gampang Susah itu Lapor Pajak Sendiri dengan Sistem E-Filing

13084226_10206076034245447_226614260_n

Mulai tahun 2016, ada peraturan baru pembayaran pajak wajib menggunakan e-billing. Imbasnya, setiap orang yang kena wajib pajak, harus melaporkan sendiri pemotongan pajaknya melalui website resmi djponline.pajak.go.id

Sebelumnya, untuk bisa masuk atau mengakses ke website resmi tersebut, para wajib pajak harus meminta dulu nomor efin (electronic filing identification number) yang bisa didapat dari kantor pajak manapun.

Bagi pemula seperti saya, ini cukup bingung dan menyulitkan. Sebelumnya, pajak penghasilan sudah dipotong dan dilaporkan oleh pihak kantor. Istilahnya kita terima beres. Tapi karena peraturan baru itu dimana setiap wajib pajak harus melaporkan sendiri melalui e-filing, maka meski pihak kantor sudah melakukan pemotongan pajak pendapatan, tetap saya sendiri yang harus melaporkannya melalui website.

13115326_10206076036765510_818615797_n

Karena itu, Rabu lalu saya ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cianjur, di Jl. Raya Bandung Km 3. Sesuai informasi dari pihak kantor, saya bilang mau meminta nomor efin. Diarahkan satpam, saya meminta formulir untuk mengisi data. Petugas bilang, saya juga harus menyiapkan pula copy kartu NPWP dan KTP masing-masing 1 lembar yang nantinya diserahkan ke petugas bersama formulir efin itu.

Setelah antri, saya mendapatkan formulir berisi nomor efin. Namun kaget ketika membaca penerimanya kok atas nama suami saya? Saya kembali ke petugas dan menjelaskan kalau mungkin ada kesalahan nomor satu digit terakhir karena itu nomor NPWP suami. Setelah dirubah, saya kembali menerima formulir no efin, dengan penerima atas nama saya sendiri.

Kembali antri lagi untuk “belajar” bagaimana memasukan laporan ke website resminya. Seperti biasa, di website djponline.pajak.go.id kita harus membuat akun lebih dahulu. Memasukkan email dan pasword, yang nantinya ke email kita akan ada link untuk verifikasi. Setelah klik link verifikasi maka kita bisa log in di website dan baru bisa menjelajahi setiap halamannya.

Saya diarahkan untuk mengisi beberapa pernyataan. Hingga di bagian browse upload file SPT, tidak bisa diklik alias mentok! Bingung nih, jangankan saya, si petugasnya aja juga kebingungan. Tanya-tanya ke seniornya, didapat informasi, kalau pajak yang saya tanggung, masuk ke penghasilan suami. Jadi penghasilan saya pajaknya katanya menginduk (ditanggung) oleh suami. Apakah karena ย itu tadi pertama saya terima nomor efin atas nama penerimanya adalah nama suami?

13101476_10206076034525454_912058415_n

Petugas pajak senior menjelaskan, kalau nomor NPWP saya dan suami hanya beda satu digit. Adik kakak antara 0 dan 1. Ya, itu benar. Nah, katanya makanya saya tidak bisa melaporkan SPT karena sudah masuk ke tanggungan suami. Duh, bingung pisan nih saya. Bingung jadi saya harus bilang apa ke orang kantor saya?

“Ibu bilang saja ke orang kantor Ibu, kalau NPWP Ibu menginduk ke suami. Jadi potongan pajak dilakukan oleh suami…” begitu petugas pajak menegaskan.

Okey. Saat itu juga saya sampaikan ke orang kantor. Kini orang kantor yang juga kebingungan. Kok bisa katanya? Lah, saya mana tahu? Petugas pajak saja bilangnya begitu…

Keesokan harinya, Kamis, orang kantor bilang pemotongan pajak saya sudah direvisi. Saya harus ke kantor pajak lagi? Terpaksa meski jauh dua jam kendaraan ke kota saya tinggalin Fahmi untuk kembali mengurus laporan SPT e-filing ini.

13090254_10206076034645457_2115496122_n

Sama seperti kemarin prosesnya, meminta nomor efin dan antri yang lebih panjaaang lagi. Maklum hari jumat dan menjelang tanggal 30 dimana tanggal itu katanya hari terakhir pelaporan e-filing. Pak Arkan petugas pajak bilang kalau sebenarnya awalnya paling lambat itu akhir Maret, hanya karena ada gangguan server, maka diundur batas akhir hingga akhir April.

“Kalau lewat tanggal itu apakaha ada sanksi atau denda?” tanya saya

“Iya, ada. Denda sekitar Rp. 100 ribu,” jawab Pak Arkan.

13089943_10206076035285473_1960517688_n

Saya pun dapat nomor efin. Setelah saya teliti, nomornya tetap sama dengan nomor efin yang kemarin saya terima dari Bu Efa. Iya sama. Karena nomor NPWP saya juga pastinya sama alias itu yang dipakai untuk acuan. Aduh, kalau sudah tahu sama, kenapa juga harus bolak-balik yah? Pucing nih pala bebe jadinya…

Saya coba log in dan masuk di website. Saya isikan semua data dan pilihan. Sampai di halaman harus mengupload file SPT, ternyata ada yang harus dengan format CSV saja. Sementara s aya nerima bukti potongan dari kantor filenya PDF. Memang di website pajak itu juga ada kolom upload file versi PDF, tetapi yang wajib (pakai tanda * segala warna merah) adalah mengupload dengan file CSV itu tadi.

Nyari info di dukun gugel dapat dech cara conver dari PDF ke CSV. berhasil saya kini punya file bentuk CSV dan PDF. Saya pun upload kedua-duanya di kolom masing-masing.

Sudah mulai lega tetapi ternyata perjuangan belum selesai sodarah-sodarah. Saat saya klik tombol start upload, malah muncul pemberitahuan kalau katanya nomor NPWP SPT tidak sama dengan nomor NPWP login.

SPT

Lah? Jadi ini gimana?

Comments

  1. Kalau saya, pilih mengisi formulir. Data nyontek dari file .pdf kantor. Angka-angka juga nyontek. cuman yang pokok-pokok saja kok… Alhamdulillah, beres… padahal injury time juga ngisinya… hahhaha

  2. saya belum lapor hehehe

    • Saya juga kalo disuruh milih mending tidak lapor Pak. Ribet buat yg ga tahu prosedurnya…

      • Nah, ini poinnya. Makanya saya terus ogah bikin SPT, sekalipun ada versi online. Dulu buat SPT ternyata LB alias lebih bayar, jadi SSP yang setiap bulan saya bayar malah boleh saya minta kembali dari kantor pajak karena sejatinya saya nggak wajib bayar pajak karena penghasilan saya setelah dihitung-hitung kewajiban pajaknya NIHIL.

        Waktu itu petugas pajaknya silang pendapat sendiri. Ada yg kasih saran supaya SPT-nya diusahakan nihil saja, jangan LB karena (katanya) bakal ribet urusannya. Saya revisi deh SPT. Eh, pas balik lagi yg nerima petugas berbeda, dapet saran berbeda: tulis apa adanya. Nanti ngurus LB gampang.

        Saya bingung donk? Masa iya harus 3-4 kali bolak-balik kantor perwakilan pajak cuma buat dengerin saran beda-beda dari petugas pajak?

        • tetehokti says:

          Makasih share pengalamannya Pak
          saya juga dibuat bingung dan capek, jadi malas ujungnya. Hikz!

  3. Terus kelanjutan gimana Teh? Saya sudah lapor pajak kamis lalu sudah lega ๐Ÿ™‚

  4. SPT saya juga menginduk ke suami. Jadi saya sampai sekarang belum lapor. Semoga nggak kena denda

Speak Your Mind

*