Inspirasi dan Pelajaran Hidup dari Pak Ayi Si Tukang Ijuk

Inspirasi dan Pelajaran Hidup dari Pak Ayi Si Tukang Ijuk

EXHIBITION

Pohon Kawung saat masih benih. Sumber wikipedia

Pohon Kawung saat masih benih. Sumber wikipedia

Tahu ijuk? Itu lho, serabut yang dihasilkan dari pohon Enau atau Aren. Di Sunda biasanya dibilang pohon Kawung. Kalau di tempat lain apa ya? Yang pasti palma ini seperti pohon kelapa, dari ujung akar sampai ujung daun, semuanya berguna dan bisa digunakan. Manfaatnya banyak.

Saat ini sih, bukan mau membahas pohon Kawung (Arenga pinnata) tapi lebih kepada Pak Ayi, sosok yang saya temui Sabtu sore kemarin, saat meneduh di sebuah warung di pinggir jalan di daerah Sorogol, Cibeber, Cianjur. Ada apa dengan Pak Ayi yang menurut kami cukup inspiratif ini?

Pak Ayi Dimyat, penjual ijuk dari Kp. Hanyawar, Cibeber Cianjur

Pak Ayi Dimyat, penjual ijuk dari Kp. Hanyawar, Cibeber Cianjur

Pak Ayi ini meski sudah lanjut usia, tapi semangat bekerja dan mencari nafkahnya sangat tinggi. Sebagaimana pada umumnya warga yang tinggal di kampung, tidak banyak yang bisa jadi lahan usaha, selain jadi buruh, berdagang dan atau mengolah lahan yang pada umumnya tidak seberapa luas.

Begitu juga dengan Pak Ayi, ia mencari nafkah hanya dengan menjadi penjual ijuk. Pada batang pohon Kawung itu ada yang diselimuti serabut berwarna hitam yang dikenal dengan ijuk. Jadi ijuk ini bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Dengan tekun Pak Ayi mengumpulkan ijuk-ijuk ini untuk selanjutnya dijual. Hasil penjualan ijuk yang tidak seberapa ini menjadi penghasilannya untuk menafkahi anak istrinya.

Ijuk dari pohon Kawung Sumber foto: wikipedia

Ijuk dari pohon Kawung Sumber foto: wikipedia

Harga satu kilogram ijuk dijualnya kepada pengepul sebesar Rp. 3.000 rupiah saja. Memang sangat murah, mengingat usaha untuk mendapatkan ijuk itu sendiri perlu perjuangan yang sangat panjang dan tidak jarang mengundang bahaya. Pohon Kawung yang tinggi besar berkisar antara tinggi 20 meter dan berdiameter sampai 65 cm ini sangat beresiko saat memanjatnya. Kurang hati-hati tentu sangat membahayakan diri. Namun karena tidak ada lagi jalan usaha baginya, maka meski harus ekstra memeras keringat, Pak Ayi tetap sabar menjalani usaha ini.

Ijuk yang dengan susah payah dicari dari warga yang mempunyai pohon kawung hari demi hari dikumpulkannya. Kadang Ijuk itu harus dibelinya, kadang diikhlaskan oleh pemilik asal tidak merusak pohon atau nira yang tengah disadap. Setelah terkumpul cukup banyak, baru dibereskan, disusun dan diikat supaya memudahkan saat membawa dan mengangkutnya.

Ijuk yang diambil dari pohon dikumpulkan untuk dijual

Ijuk yang diambil dari pohon dikumpulkan untuk dijual

Setelah beberapa hari biasanya pengepul datang membeli ijuk yang sudah siap angkut. Pak Ayi bilang ijuk itu biasanya diangkut ke kota untuk kemudian diolah lagi menjadi bahan lain yang lebih bermanfaat dan punya nilai jual yang tinggi. Seperti halnya daun, ijuk dari pohon kawung pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Bahkan masih menurut Pak Ayi ada ijuk dari Cianjur yang diekspor ke luar negeri!

“Bapak tidak menawar harga ijuk dari Bapak, dinaikkan berapa kek jangan Cuma tiga ribu saja?” tanya saya iseng.

“Wah, Neng. Susah. Segitu saja sudah lebih dari bersyukur saya mah. Yang penting bisa beli beras, saya sudah senang.” Katanya polos. Namun sorot matanya sedikitpun tak menyirikan rasa susah. Sambil melinting tembakau dengan kertas pahpir, Pak Ayi menunggu hujan reda dan akan terus membereskan ijuk yang tersisa.

Ijuk sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk dijual

Ijuk sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk dijual

Walau hujan mengguyur, Pak Ayi memilih terus menyelesaikan sisa kerjanya

Walau hujan mengguyur, Pak Ayi memilih terus menyelesaikan sisa kerjanya

Dengan hasil dari menjual ijuk kehidupan Pak Ayi terus berlangsung...

Dengan hasil dari menjual ijuk kehidupan Pak Ayi terus berlangsung…

Namun sepertinya hujan masih enggan berhenti. Hingga jelang magrib hujan masih menitikkan airnya disertai angin dan kilatan petir. Tak ingin pulang menyisakan pekerjaan, Pak Ayi nekat menembus hujan segera membereskan ijuk yang tersisa. Terharu kami melihatnya. Demi uang tiga ribu rupiah ia rela berbasah-basahan diguyur hujan.

Saat hujan mereda, Pak Ayi kembali berteduh dan menyeka wajahnya yang basah kuyup. Kembali dikeluarkannya tembakau beserta kertas pahpir. Dilintingnya sebuah rokok, dinyalakan dan dihisapnya asap rokok itu dalam-dalam, seolah mengusir dingin yang dirasakannya akibat sekian lama berada di bawah guyuran hujan.

Ada rasa yang menyelinap ke dalam sanubari saya manakala menyaksikan dan mengetahui bagaimana perjuangan hidup Pak Ayi yang bekerja sebagai tukang ijuk. Sebuah profesi yang hampir punah sepertinya saat sekarang. Ya, bukankah ijuknya juga sudah hampir jarang yang pakai? Semua peralatan yang dipakai beralih ke bahan plastik dan sintetis. Jika saja Pak Ayi masih diberi rezeki untuk usaha, itu tentu nilainya tidak seberapa.

Menunggu pengepul yang mau membeli ijuk Pak Ayi...

Menunggu pengepul yang mau membeli ijuk Pak Ayi…

Itu sebabnya saya dan suami merasa iba mengetahui penghasilannya tak seberapa besar dibanding keringat dan perjuangan mendapatkan ijuknya. Tapi pak Ayi tetap semangat dan penuh syukur. Luar biasa…Semangatnya itu yang harus kita tiru.

Karena rasa tanggung jawabnya ijuk harus selesai dipak sehingga apabila pengepul datang ijuk bisa langsung dijual Pak Ayi sampai rela hujan hujanan. Katanya biar ijuk segera selesai dan cepat terjual supaya dia punya uang buat beli kebutuhan dapur. Pak Ayi tetap bersemangat, Pak Ayi tetap bersyukur sekecil apapun hasil usaha yang didapatnya.

Ijuk diangkut oleh bandar dibawa ke kota untuk selajutnya diolah supaya bernilai jual lagi...

Ijuk diangkut oleh bandar dibawa ke kota untuk selajutnya diolah supaya bernilai jual lagi…

Yang membuat kita miris manakala mereka seperti Pak Ayi ini hanya bisa jual ijuk ke pengepul. Otomatis Pak Ayi mendapat penghasilan tergantung dengan harga yang ditetapkan pengepul tanpa punya daya tawar.

Padahal kalau dibina dengan serius, sebenarnya pelaku usaha kecil seperti Pak Ayi ini bisa dibantu sehingga bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Mungkin saja saya punya kenalan di dunia industri yang bisa merangkul orang-orang semacam pak Ayi ini…

Comments

  1. Gugus Mohammad says:

    Teh okti salam kenal, subhanallah amat sangat menginspirasi..
    Menanggapi tulisan teteh di atas, dan mengutip kalimat-kalimat “Padahal kalau dibina dengan serius, sebenarnya pelaku usaha kecil seperti Pak Ayi ini bisa dibantu sehingga bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Mungkin saja saya punya kenalan di dunia industri yang bisa merangkul orang-orang semacam pak Ayi ini…” saya salah satu exporter ijuk tersebut, mohon bantuanya kalau kita bisa bersinergi. Terimakasih

Speak Your Mind

*