Inspirasi Idul Adha: Berbagi untuk Sendiri

Inspirasi Idul Adha: Berbagi untuk Sendiri

youarethesunshinethatmakesmyday-1

Mang Ace rutin lewat di pematang sawah dan melipir ke halaman rumah untuk mencari rumput segar. Kadang pagi setelah matahari cukup sinar mengeringkan rerumputan, kadang sore setelah hujan lama reda. Setiap hari, seminggu kadang lebih dari tujuh kali.

Mang Ace bukan orang berada. Dia petani biasa yang tinggal di rumah kayu bersama anak dan istrinya. Pekerjaannya sebenarnya serabutan. Selain mencari rumput ia juga biasa disuruh orang untuk bekerja kuli bangunan, atau pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan dengan tenaganya.

Tipikal orangnya tidak banyak bicara. Namun ia sangat menghargai waktu. Itu sering saya lihat ketika Mang Ace tengah bekerja di tempat tetangga. Kerennya Mang Ace bisa bekerja secara profesional.

โ€œSaya bagi waktu supaya saya dapat upah, Bu. Upah lelah saya ini saya mau bagikan kepada Ibu dan semua warga kampung. Saya harus gesit supaya tidak ada yang terbuang percuma…โ€

Kata-kata Mang Ace yang sepenuhnya belum saya mengerti itu bergulir begitu saja disertai senyum dan badan membungkuk tanda penuh kesopanan. Padahal waktu istirahat bekerjanya masih cukup panjang. Di saat teman-temannya santai merokok dan leyeh-leyeh Mang Ace memilih bergegas ke mesjid dan setelah itu katanya akan memeriksa domba piaraannya.

Kamis sore ini ketika mengikuti pengajian rutin ibu-ibu di madrasah yang juga tempatnya berfungsi sekaligus sebagai mesjid istri Mang Ace seperti biasa ikut hadir pula. Dengan pakaian yang sederhana, nyaris tidak ada perhiasan emas melekat terlihat di badannya. Beda dengan ibu-ibu lain, selain berpakaian dengan gamis dan kerudung model terbaru, juga memasang segala perhiasan dan aksesoris di sekujur tubuhnya mulai dari kepala hingga kaki kalau terlihat.

Namanya juga ibu-ibu, saat ceramah berlangsung, mereka juga punya kegiatan masing-masing. Membuat obrolan di saat berlangsung pengajian ini kepiawaian ibu-ibu yang patut diapresiasi. Terdengar obrolan mereka tentang dunia binatang. Ups! Maksudnya mereka sekelompok kecil di sampingku tengah membicarakan harga daging, harga domba, sapi, dan berujung pada cerita seputar lebaran haji.

Bu Haji A kurban tahun ini? Sapi pastinya ya?

Ah, tidak Bu. Sedang tidak punya uang. Biaya si sulung kuliah sudah menyedot banyak tabungan.

Oh, Bu Haji B atuh ya yang mau kurban mah? Pasti da bukannya sertifikasi sudah cair?

Katanya sih belum bisa tahun ini. Bilangnya mah masih banyak kebutuhan lain

Bisik-bisik sesama ibu-ibu itu terus berlanjut, saling mengangkat dan saling menjatuhkan sebenarnya. Saling mengira dan mendahului berdasarkan apa yang dilihat. Obrolan mereka tidak lagi terdengar ketika sesepuh pengajian up date informasi terkait Idul Qurban yang insya Allah akan dilaksanakan hari Senin besok.

Sampai Kamis itu di antara sekian banyak warga yang bergelar akademik maupun gelar non akademik tidak ada yang mendaftar untuk menyerahkan hewan kurban. Obrolan ibu-ibu yang sempat terdengar itu memang nyata, tidak ada yang mendahulukan untuk berkurban karena mungkin masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Kurban bisa lain kali jika ada rezeki.

Kecuali Istri Mang Ace yang sederhana dan banyak diam itu disebut oleh sesepuh pengajian. Semua terhenyak dan suasana pengajian mendadak hening. Istri Mang Ace tahun ini mau berkurban? Tidak salah? Saya, dan semua ibu-ibu yang hadir di pengajian telak dibuat kalah olehnya.

Mang Ace sudah mengatakan jika upah lelahnya akan ia bagikan kepada semua warga. Rupanya kurban ini yang ia maksud. Upah lelah selama ini ย mencari rumput untuk hewan domba peliharaannya akan dibagikan kepada semua warga melalui penyembelihan hewan kurban. Mang Ace dan keluarga yang dilihat dari kondisi ekonomi dan kasat mata tidak punya apa-apa namun punya hati yang mulia dan mampu memprioritaskan mana yang harus ia utamakan.

Mungkin rumahnya tak semewah tetangga. Mungkin anaknya tak sekolah setinggi anak tetangga. Mungkin istri dan anak Mang Ace makan hanya dengan lauk tahu tempe. Tapi Mang Ace dan keluarganya ternyata mampu berbagi kemuliaan kepada semua warga di hari kemenangan nanti. Berbagi yang hakikatnya menabung untuk mereka di akhirat kelak. Ini sebuah pelajaran sekaligus tamparan buat saya.

Hatur nuhun, Mang Ace…

Comments

  1. Mang Ace orang yang bisa membuktikan dibalik kesederhanaan, terdapat kekayaan hati yang luar biasa.

  2. teladan kadang memang hadir di depan mata kadang juga dari orang-orang yag kita kenal

  3. Kemuliaan seseorang bukan terlihat dr hartanya jabatannya dan gelar akademisnya

  4. Iya…Mang Ace teh meni menginspirasi ya… banyak yang beralasan ga punya uang padahal punya ini itu, tp Mang Ace mah geuningan… Matematika iman yg berbicara ๐Ÿ™‚

  5. Subhanallah… Mang Ace bikin saya malu. :(((

  6. Nice story. Selalu ada hikmah di balik sebuah kisah ya mbak.

Speak Your Mind

*