Jumpa Kepala BNNK Cianjur: “Okti, Kenapa tidak ke BNN lagi?”

Sempat terkejut saat asyik main dan makan sama anak dan suami di Car Free Day (CFD) Cianjur, Jalan KH. Mohammad Bin Nuh, Minggu 24 Agustus kemarin pas di depan Kantor BNNK tiba-tiba adayang manggil…

Saat itu depan kantor BNNK sedang ada atraksi musik dari anak-anak band Cianjur. Suara bising terdengar dari drum yang dipukul, gitar yang dipetik, juga bass yang dimainkan anak-anak kreatif dan berprestasi (tanpa narkoba) Cianjur. Kalau saja suami tidak suka melihat pertunjukan itu, maunya aku dan Fahmi terus jalan, mainin bola atau melihat-lihat sepanjang jalan.

“Bapak?” sapaku, sambil hormat dan rikuh. Bagaimana tidak, aku baru sadar kalau yang menanggil aku adalah Pak Hendrik, Kepala BNNK Cianjur, sementara aku saat itu lagi belepotan makan jajanan sama anak, juga tanganku kerepotan memegang bola, jajanan dan tas kamera.

“Kenapa lama kok tidak main lagi ke kantor?” tanyanya ramah.

Hehe, aku gugup sendiri ditanya begitu. Ya, hampir tiga bulan sudah aku memang tidak disibukkan lagi dengan kegiatan BNN, baik di Pusat, maupun di Kota/Kabupaten. Pak Hendrik mungkin tidak tahu kalau proyek menulis 10.000 halamannya BNN yang awalnya digadangkan pihak BNN melalui Bapak Gun Gun Siswadi selaku perwakilan dari BNN saat itu bersama Ibu Retno, sudah tidak berlanjut lagi.

Sejujurnya aku kangen sama kegiatan BNN ini. Dan aku juga tetap bisa terus menulis segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan BNN dalam memberantas narkoba yang menyasar generasi muda bangsa ini. Tapi setelah proyek menulis dari BNN Pusat mandeg, otomatis, semangat itu ikut hilang.

Aku tidak lagi meminta informasi apa saja kegiatan BNNK Cianjur dan langsung hunting kegiatannya. Aku juga perlahan tapi pasti mengurangi kegiatan menulis, termasuk ngeblog yang seharusnya bisa tetap berjalan. Semua harapan dan kegiatan itu tiba-tiba saja stop dan tidak lagi berkelanjutan.

Maka pantas Pak Hendrik bertanya demikian. Dan aku harus jawab apa?

“Main ke kami, akan ada banyak kegiatan… Ini kami mengumpulkan anak-anak band, semoga bisa jadi hal yang positif bagi mereka,” ucap Pak Hendrik sambil membetulkan letak topinya. Matahari sudah mulai menyengat meski jam belum sampai di angka sembilan.

Karena anak dan suami menunggu, juga kondisinya tidak cukup santai, aku langsung pamitan kepada Pak Hendrik. Aku sangat berterimakasih banyak kepada beliau, bagaimana pun sudah banyak emmbantuku sehingga aku bisa melahirkan karya-karya tulisku beberapa bulan lalu hingga berhasil menugumpulkan nilai cukup bagus dibanding teman reporter lainnya.

Senang bisa menjadi bagian dari BNNK Cianjur, meski kontribusiku sangatlah kecil.

Speak Your Mind

*