Jungkir Balik Sang Ratu di Istana Panggung

Jungkir Balik Sang Ratu di Istana Panggung

www-tehokti-com-1

 

Akhirnya, sampai juga di rumah panggung yang hampir lima hari kami tinggalkan. Nyamannya itu tak punya tandingan meski di hotel berbintang lima sekalipun. Rumahku surgaku, kebebasan dan kebahagiaan terasa lengkap saat berada di dalamnya. Sejauh mana kaki melangkah, pulang ke rumah sendiri tetap jadi keinginan pertama.

Di antara rumah tetangga, bisa dibilang rumah kami yang paling buruk dan sederhana. Rumah panggung peninggalan mama mertua yang sudah lapuk. Sebagian papan sudah berganti beberapa kali karena patah saat diinjak. Sebagian dinding bilik sudah bolong dan kami tambal sedapatnya. Kalau hujan, bocor di sana sini karena kayu penyangga genting sudah banyak yang rapuh, tak kuat lagi menahan beban sehingga air hujan merembes ke mana-mana.

Namun anehnya, kami teramat betah dan senang menjadi penghuninya. Bukan kami tidak malu tinggal di gubuk yang tinggal menunggu runtuh, tetapi kami lebih mengedepankan rasa syukur dan terima kasih atas semua yang kami miliki itu.

Meski buruk, kami bersyukur masih punya tempat tinggal. Lihat di pinggir jalan perkotaan, begitu banyak mereka yang tidur di emperan toko, gerobak dan bahkan tempat ilegal. Meski selalu bocor dan  tambal sulam, kami merasa hangat berada di dalamnya. Masih bisa merasakan kenikmatan menyantap mie instant dengan cabai super pedas hasil memetik di halaman.

Biar jelek milik sendiri, kami tidak punya utang atau cicilan yang jadi pikiran tiap bulan. Pikiran tenang, plong bebas mau jungkir balik atau nungging setiap waktu. Biar mereka tinggal di rumah dinas yang mentereng, dengan fasilitas mewah tapi suatu saat semua itu harus ditinggalkannya. Kehidupan tampak glamour tapi sebenarnya punya hutang bejibun. Pakaian perlente hanya membungkus otak dan pikiran yang setiap detik sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkaan uang lebih supaya bisa balikin modal, dan bayar utang…

Kehidupan memang saling mengira. Tapi bagi kami keadaan kami yang apa adanya ini lebih dari cukup dan teramat kami syukuri. Alhamdulillah, meski tidak tinggal di kota namun juga tidak pelosok-pelosok amat. Dan ketika sampai di depan rumah, setelah perjalanan sekian hari sekian malam ini betapa bahagianya perasaan tak dapat dilukiskan.

Tidak ada tempat ternyaman selain rumah sendiri. Tempat berkumpul dengan keluarga, tempat bercengkerama, tempat bereksperimen dalam segala hal. Tempat satu-satunya di dunia ini di mana aku sendiri yang menjadi ratu penguasa.

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Comments

  1. Intinya adalah kita bersyukur terhadap semua yang diberi oleh Allah ya Mbak. Setelah kita bersyukur maka tumbuh rasa damai dan cinta terhadap hidup itu sendiri apa adanya. Jadi walau tinggal dirumah sederhana pikiranpun nyaman, begitu pikir anyaman rumah pun pasti nyaman

Speak Your Mind

*