Jurig Punduk

Jurig Punduk (Hantu Punduk)

JURIG PUNDUK

Kejadian 20 tahun yang lalu saat aku masih di bangku SMP. Saat itu tinggal bersama nenek, kakek dan paman di sebuah kampung yang berbatasan dengan Kampung Naga, kampung tradisi yang menjaga kearifan lokalnya seperti Suku Baduy di Banten.

Saat itu di Rancak, jalan provinsi yang menghubungkan antara Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut ada kecelakaan orang menyebrang terlindas truk besar. Korban meninggal seketika dengan kondisi yang mengerikan. Saat aku pulang sekolah turun dari angkutan umum, di jalan masih tampak bercak-bercak darah dan pecahan kaca.

Sejak itu setiap malam kampung sunyi sepi. Tidak ada orang yang berani keluar rumah. Selepas isya langsung mengunci diri di tempat masing-masing. Terlebih saat beberapa malam terlewati ada kabar yang sangat menggegerkan, seorang warga kampung Sindangwangi yang baru pulang bekerja dari Bandung melihat penampakan orang si korban kecelakaan terlindas truk besar di Rancak yang sebenarnya telah tiada. Padahal malam saat ia melihatnya itu justru malam ketujuh tahlilan di rumah orang yang meninggal itu.

Orang Sindangwangi tidak tahu kalau yang dilihat dan jalan bareng bahkan ngobrol dengannya itu sudah tiada karena kecelakaan. Hingga ia tidak curiga dan terus ngobrol sambil berjalan pulang menuju kampung yang saat itu belum banyak ojek seperti sekarang.

Di pertigaan mereka berpisah. Orang Sindangwangi meneruskan langkahnya pulang ke rumah. Istrinya yang membukakan pintu tak mengira apa-apa. Baru setelah suaminya iatirahat dia bercerita kalau si anu tetangga di kampungnya itu sudah tiada karena kecelakaan yang mengenaskan.

Suaminya terperanjat dan melotot gemetaran. Ia yakin kalau orang yang diceritakan istrinya sudah meninggal itu baru saja ngobrol dan jalan bareng dari jalan raya setelah turun dari bis menuju kampung. Mendengar pengakuan suaminya begitu kini giliran istrinya yang kejang ketakutan dan pingsan. Kampung pun jadi geger. Hantu gentayangan santer jadi bahan pembicaraan. Sejak itu kondisi kampung semakin mencekam. Katanya jurig punduk gentayangan. Muncul istilah jurig punduk karena kata yang melihat korban yang meninggal karena terlindas truk itu kepalanya hancur terpisah dari badannya. Sampai punduk (pundak tulang leher) saja yang utuh ada.

Aku percaya tidak percaya. Tapi maklum masih anak-anak yang masih ikut-ikutan, saat teman-teman tidak mengaji karena alasan takut jurig punduk akupun ikut-ikutan tidak mengaji. Tak peduli kakek dan nenek menyuruhku, aku malah berselimut di kamar, tidur lebih awal.

Kamarku berada di tengah dengan jendela berpintu dua. Belakang rumah nenek adalah jalan gang kecil menuju ke ujung kampung di Bag-bagan. Ada pohon cengkih yang sangat besar dan tinggi jadi pemandangan yang terlihat langsung jika jendela kamarku dibuka.

Tengah malam itu aku terbangun dan susah tidur lagi. Suara serangga malam jelas terdengar. Aku makin takut ketika teringat pembicaraan warga kampung mengenai penampakan yang dialami orang Sindangwangi. Semakin membalut diri dengan selimut namun kantuk semakin jauh. Aku hanya diam saja. Ngahephep.

Pelan tapi pasti aku mendengar seperti sesuatu yang diseret. Srettt…srettt…
Aku pikir mungkin suara serangga, tapi jelas bukan. Lalu apa? Tapi karena takut aku ya diam saja. Di kamar sebelah yang hanya terhalang dinding bilik bambu terdengat dengkur lirih kakek dan nenekku.

Srettt… srettt…

Suara itu terus terdengar. Makin lama makin jelas dan dekat. Aku penasaran. Tak tahu dapat kekuatan dari mana kok tiba-tiba berani dan mengendap menuju jendela. Dari balik gordennya yang aku singkapkan sedikit demi sedikit aku mengintip.

Srettt… srettt…
Suara ada tapi suara apa?

Aku makin memperbesar menyibak kain gorden. Pohon cengkeh yang menjulang tampak dalam gelap. Tapi di bawahnya aku seperti melihat sesuatu yang hidup. Apa ya? Tidak jelas karena gelap. Cahaya hanya ada samar-samar dari halaman rumah Bi Sukma yang berada di seberangnya jalan gang.

Mataku terus tertuju ke bawah pohon cengkih itu. Ada bagian kaki dan tangan samar-samar. Ada badannya. Tapi mana kepalanya? Kok tidak ada kepalanya? Tubuh itu hanya sampai pundak saja!

Aku merasa takut tapi tak juga beranjak, begitu juga tangan masih tetap menyibak kain gorden. Mata tetap mengintip karena penasaran itu mahluk apa??

Srettt… srettt…
Tubuh itu menggeser kakinya di tanah. Angin meliukkan dahan pohon cengkih sehingga cahaya memantul menerangi tubuhnya. Aku gemetaran tapi tetap terdiam manakala mata melihat dengan jelas kalau mahluk itu tidak berkepala!

Jurig punduk. Ucapku dalam hati. Nenek dan orang tua di kampung beberapa kali membicarakan tentang mahluk yang pernah kedapatan tampak oleh warga. Entah bagsa jin atau setan mana yang pasti aku sendiri melihatnya tanpa kepala. Hanya sampai pundak dan gelap.

Aku masih ingat saat badanku ambruk ke lantai papan. Tapi selanjutnya aku tidak tahu apa yang aku alami. Hanya kata nenek, aku kena demam dan ngigau. Beberapa hari aku seperti tidak sadar diri. Setelah teman sekolah menjenguk dan memberikan sumbangan untuk berobat ke dokter di Singaparna, berbarengan dengan pengobatan alternatif yang diusahakan kakek baru aku sadar dan demamku turun.

Tidak aku ceritakan kepada siapapun tentang apa yang aku lihat akan jurig punduk itu. Hingga aku lulus sekolah, dan pindah ke Cianjur.

Comments

  1. Saya waktu kecil sering bangad lihat penampakan begini. Apalagi dulu rumah yang di beli orangtua katanya angker. Kiri dan kanan banyak tumbuh kopi, sedangkan belakang adalah pohon bambu yang banyak dan terlihat menyeramkan kalau malam hari.

    • Okti Li says:

      Wah, pengalamannya pasti lebih seru dan menakutkan lagi ya Mas? Share aja biar kita tahu juga 🙂

  2. Horoooor, kalau aku yang ngalamin pasti juga gitu deh, aku tuh penakut.
    Jadi tahu kalau jurig itu artinya hantu.

  3. Wah, ngeri juga ya melihat gituan.
    Saya belum pernah sih, tapi nggak ingin lihat juga hahaha
    Salam hangat dari Jombang

Speak Your Mind

*