Kekuatan Gotong Royong Warga di Kampung

Rasakan Dech, Betah di Kampung itu Saat Mengalami Pertolongan dari Seluruh Warga Desa!

kekuatan

Pernah membongkar rumah? Atau paling tidak pernah melihat yang sedang merenovasi bangunan? Biasa-biasa saja kan? Paling kita menyuruh tukang untuk bekerja. Sudah selesai, bayar upah, selesai. Lazimnya di perkotaan, apalagi tiada yang yang aneh, pastinya hanya beberapa orang pegawai kuli bangunan yang bekerja sesuai perintah sang majikan, atau boss pemborong. Menggali, menembok, mengaci, mengecat, dan pekerjaan sejenisnya.

Tapi ada yang beda jika membongkar rumah itu berada di kampung. Khususnya di Pagelaran, Cianjur Selatan. Mungkin untuk orang kampung sendiri hal ini sudah biasa. Saya ceritakan karena saya yakin kebiasaan bongkar rumah yang sudah sulit ditemukan diperkotaan ini bisa jadi penambah wawasan sekaligus informsi baru bagi generasi muda yang sudah lahir dan besar di kota.

Minggu lalu kami mau merobohkan rumah panggung peninggalan orang tua. Rencananya kami akan menggantinya karena rumah warisan itu sudah lapuk dan membahayakan anak-anak yang mengaji di rumah. Ya, papan serta kayu banyak yang sudah lapuk karena dimakan usia, sementara setiap malam hampir sebanyak dua puluhan orang anak-anak mengaji datang. Demi keselamatan mereka, niat kami untuk merombak rumah akhirnya dimudahkan Allah SWT (Amin…)

Pada awalnya kami bingung. Anggaran hanya mampu membayar dua atau tiga orang tukang untuk bekerja membongkar dan angkut-angkut. Sementara bisa dipastikan selepas dhuhur, hujan selalu turun. Dengan kata lain perlu orang banyak untuk membongkar sekaligus. Jika tidak resikonya pekerjaan akan terganggu cuaca, bahan bangunan akan semakin rusaj kena hujan dan resiko lainnya.

Pasrah, dengan siap menerima semua resiko kami tetap membongkar rumah dengan mengandalkan dua orang tukang saja. Dibantu sebisanya oleh ibuku, sepupuku dan suami pastinya.

Siapa kira, tetangga depan rumah yang pertama kali melihat kami menganggkut barang-barang ke rumah kontrakan sementara kami tinggal hingga rumah selesai dibangun datang membantu. Bukan hanya anaknya yang memang jadi murid mengaji suami, tetapi juga ayah dan neneknya ikut datang membantu!

Tidak lama lagi, tetangga lain ikut datang dan bertanya apakah kami mau pindah? Setelah saya jelaskan tetangga itu pun menyingsingkan lengan baju dan siap membantu. Makin lama makin banyak tetangga yang datang hingga semua barang di rumah panggung selesai diangkut hanya dalam waktu beberapa jam saja!

Keesokan paginya, rumah panggung kosong siap dirobohkan. Kami masih mengandalkan dua orang pekerja saja. Tapi siapa sangka, saat dua pekerja itu mulai melucuti genting satu per satu, kembali berdatangan tetangga untuk membantu. Mulai anak-anak yang mengaji di rumah, sampai ke ayah dan kakak-kakak mereka semua yang tidak ada aktivitas penting menyempatkan datang untuk membantu.

Tanpa dikomando, mereka menempatkan diri mereka masing-masing. Berjejer dari arah terdekat pegawai yang melucuti genting, terus berjejejer ke halaman belakang tempat dimana genting akan disimpan. Terharu saya menyaksikannya. Dengan sistem estafet itu, genting rumah yang mencapai ribuan itu bia tersusun rapi di belakang hanya dalam waktu tidak kurang dari dua jam!

Selanjutnya melucuti kayu-kayu usuk, reng dan bilik-bilik bambbu per kamar. Anak-anak, pemuda dan bapak-bapak semua semangat bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Yang membawa alat membantu membongkar kayu penyangga, bambu penopang, dan bilik yang berpaku. Para pemuda, mengambilkan bahan-bahan yang kuruannya besar dan berat ke tempat penyimpanan di pinggir. Jika terlalu berat, mereka menggotongnya sambil bercanda penyemangat kerja. Anak-anaknya tidak mau ketinggalan, mereka mengambilkan potongan kayu-kayu kecil, mengumpulkan dan menyusunnya di pinggir.

Giliran membongkar papan, anak-anak semakin banyak mengerubuni. Kenapa? Baru tahu kalau mereka senang bisa mencari dan mengambil uang-uang receh yang selalu jatuh ke kolong rumah kami saat mereka mengaji. Sampai rumah kami dibongkar, siapapun yang merasa uang recehnya jatuh ke kolong belum bisa mengambilnya lagi. Tidak heran setelah tanah kolong bersih dan rata, banyak anak yang tertawa gembira karena senang bisa mengumpulkan koin-koin yang berjatuhan itu. Ada yang dapat beberapa ribua, bahkan dua orang pekerja berhasil mengumpulkan koin hingga enam ribu dan lima ribu rupiah.

Wah, tidak menyangka ya kalau rumah panggung tua yang kami tempati selama ini ternyata menyimmpn banyak harta karun. Hihi…

Sebelum adzan dhuhur berkumandang, merobohkan rumah yang sempat kami kira perlu waktu beberapa hari ini justru sudah selesai. Seakan tidak percaya, saya benar-benar terharu melihatnya. Terharu dengan kerjasama dan gotong royong warga yang masih sangat kental dan dijunjung tinggi, terharu juga mengingat orang tua yang andai beliau masih ada, mungkin bahagia melihat dirinya sangat dibanggakan warga sekitar.

Apakah mereka yang membantu bongkar rumah sekian banyak itu dibayar? Tidak. Warga kampung datang katanya memang untuk membantu. Dan sudah jadi tradisi jika ada warga yang membongkar rumah, semua serentak bergotong royong ikut membantu.

Sebagai rasa terimakasih kami, saya hanya menyediakan beberapa cemilan, minuman dan makan siang ramai-ramai alakadarnya dengan menu teramat sederhana. Makannya pun antri karena kondisi mepet tanpa persiapan dan mereka duduk dimana saja, bersama debu dan bongkaran-bongkaran kayu serta bilik bambu yang menumpuk di halaman. Meski sempat malu tidak bisa menjamu mereka, tetapi melihat keikhlasan dari sorot mata serta raut muka justru malah menjadikan saya merasa semakin senang tinggal di kampung yang masih memegang teguh jiwa sosial serta semangat kegotong-royongan.

Bagaimana dengan tempatmu? Masih adakah jiwa sosial serta gotong royong itu? Yuk mulai dari diri sendiri kita tingkatkan jiwa sosial dan kebiasaan membantu sesama…

Comments

  1. daerahku masih ada mbak, alhamdulillah saling bantu kalau sesama warga 🙂

Speak Your Mind

*