Kemenangan Blogger Kampung yang Terlepas

Kemenangan Blogger Kampung yang Terlepas

Saat kemenangan lomba blog sudah di depan mata, harus lenyap gara-gara telat info dan tidak bisa ngejar waktu karena domisili di pelosok susah transportasi menuju ibu kota. Sakitnya itu tiada taranya…

Sedih sih iya, tapi percayalah, saat aku menulis ini, semua sedih itu sudah berlalu seiring dengan semakin besarnya rasa syukur yang aku ucapkan, dengan semua nikmat dalam bentuk lain yang sudah aku terima dan rasakan.

Pontang-panting menulis menjabarkan ide yang bersarang di kepala saat ada lomba tentang Sumber Daya Manusia (SDM) dengan Migas di Kompasiana.com. Sebagai mantan buruh, aktivis buruh dan pemerhati buruh, tentu saja SDM yang aku sorot ialah tiada lain para buruh itu sendiri (TKI).

Berhasil, tulisanku ini masuk nominasi sepuluh besar. Dengan kata lain aku berhak ke acara SCM Summit 2015 nya di Jakarta. Sesuai dengan ketentuan di info lombanya, kalau para finalis itu harus “meliput” acara SCM Summit 2015 dan membuat tulisan reportasenya serta mempublishnya dengan batas waktu paling lambat tanggal 15 April 2015.

Tadi sore, admin yang baik hati menginformasikan semua itu lewat telepon kepadaku. Aku tentu saja senang, sekaligus sedih. Karena dengan ketentuan seperti diinfokan di atas, sudah tentu aku tak akan bisa memenuhinya.

Bayangkan saja, kalau hari ini dan besok aku harus menulis reportase dari acara Summit yang berlokasi di Jakarta, sementara sore ini juga aku masih berada di Pagelaran, mana bisa aku mengejar waktu untuk bisa sampai di Jakarta? Belum jarak Pagelaran ke Kampung Rambutan itu kalau tidak macet paling cepat menghabiskan waktu enam jam. Belum menitipkan Fahmi ke Sukanagara dan itu membutuhkan waktu tidak sebentar.

Aku hanya bisa pasrah, melepaskan rezeki di depan mata itu hanya karena kondisi serta nasibku yang berdomisili di pelosok. Ya, meski belum tentu aku menang, tapi paling tidak dari sepuluh orang saingan, masa sih aku tidak bisa mengejar mereka? Dengan tidak bisa hadir ke SCM Summit untuk meliput acaranya, itu sama saja dengan aku mengundurkan diri dan gugur menjadi bagian dari kesepuluh finalis lomba blog SCM Summit tersebut.

whaaa… sedihe…

Hadiah pertama senilai delapan juta dan hadiah terkecil sekitaran satu juta itu terpaksa harus aku lepas dengan cuma-cuma. Sedih, benar-benar sedih rasanya. Sempat meratapi kenapa infonya tidak disampaikan sejak awal? Tapi mana mungkin aku juga menyalahkan orang lain?

Pelampiasanku, akhirnya seperti biasa, hanya bisa curhat dan bergalau ria di dunia maya. Tak apa hadiah di depan mata itu harus kulepas begitu saja. Semoga masih ada jalan lain yang membawa rezeki berkah, amin…

Itu pengalamanku menyedihkan di dunia blogging, adakah pengalaman bloggingmu yang menyedihkan juga?

Comments

  1. Semoga ada kesuksesan yang menanti waktu lain.. Dia maha mengatur.

  2. Semoga dapat ganti yang lebih besar dan bikin bahagia berkali-kali lipat, ya, Mak. Rejeki udah ada yang ngatur 🙂 *hug*

    • Hikz! Mak sari, terimakasih banyak….
      (berlari menubruk dan memeluk mak Sari….) iya, terimakasih banyak nasihatnya Mak. Saya harap juga demikian, amin 🙂

  3. Semoga suatu saat dapat ganti yang lebih baik ya teh <3

  4. hihihihi nyesek ya teh?? 😀
    yudi pernah, tapi beda kasus, itu juga dulu… pas jaman masih ngempi 😀

    • Hehehe… sakitnya tuh di sini, Yud…
      Tapi sekarang sudah enggak kok! 🙂 sudah bisa menerima kekalahan 🙂

Speak Your Mind

*