Keseruan Lebaran di Rumah Kontrakan

Keseruan Lebaran di Rumah Kontrakan

 

 

Keseruan Lebarandi Rumah Kontrakan

Hampir sebulan lebaran kita tinggalkan, tapi euforia-nya masih kental terasa dalam ingatan. Membuka lembaran foto yang jadi kenangan, seakan momen keceriaan dan kebahagiaan itu masih ada. Selamanya. Lebaran selalu identik dengan hari bahagia, hari ceria.

Setiap jelang lebaran kampung tempat kami tinggal di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Cianjur Selatan mendadak semarak dan ramai. Pantas karena sanak saudara yang biasa merantau dan tinggal di kota hampir semuanya pulang kampung untuk merayakan hari kemenangan. Suara bleson (mainan anak kampung terbuat dari selongsong dan diberi cairan spirtus sehingga mengeluarkan bunyi seperti tembakan), karbit (termasuk mainan kampung seperti tembakan juga, hanya lebih dahsyat dari bleson biasanya yang main orang dewasa) dan petasan, gelegar suaranya silih berganti membawa kemeriahan.

Setiap sore jalan aspal kampung yang biasanya sepi-sepi saja ketika itu berubah jadi bising dan ramai oleh kendaraan bermotor. Meski tinggal di wilayah pedesaan, namun kendaraan roda dua dan gadget di tempat kami bukan lagi barang langka. Banyaknya warga yang merantau ke luar negeri sebagai TKI menjadikan gaya hidup dan kebutuhan warga sudah seperti orang kota saja.

Satu-satunya toko serba ada milik pribumi yang lokasinya dekat pom bensin ramai bukan kepalang. Bisa dibilang toserba itu mall-nya warga Pagelaran dan sekitarnya. Tidak heran kalau pengunjungnya selalu penuh. Selain sebagai tempat berbelanja keperluan lebaran, juga jadi tempat nongkrong anak muda. Siang malam, khususnya sepertiga terakhir bulan puasa toserba ini selalu dipadati manusia.

Jembatan besi yang jadi icon Pagelaran, yang biasanya sepi saat jelang lebaran jadi ramai, tempat nongkrong anak muda

Jembatan besi yang jadi icon Pagelaran, yang biasanya sepi saat jelang lebaran jadi ramai, tempat nongkrong anak muda

Suasana malam takbir di satu-satunya toko serba ada di Pagelaran yang berubah jadi "mall"

Suasana malam takbir di satu-satunya toko serba ada di Pagelaran yang berubah jadi “mall”

Beda dengan mereka, Fahmi putra kami yang agak pemalu justru tidak suka hingar bingar. Dia lebih senang mengajak saya ngabuburit ke sawah, ke kebun dan sungai yang jaraknya memang tidak jauh dari rumah. Di Sawah Tengah dan Karang Layung kami bisa menikmati hijaunya daun padi yang menghampar luas. Beberapa bulan ini hujan masih sering datang sehingga petani masih bisa menanam padi.

Di Sungai Cijampang yang airnya masih jernih, kami bisa bermain pasir, memunguti bebatuan alam, dan mendengarkan gemercik air pancuran. Kalau hujan, kami memilih ke kebun yang dekat rumah saja sekadar melihat dan memetik hasil seperti mentimun, sawi atau kecipir.

Jembatan, sungai dan sawah di depan Desa Pagelaran ini tempat favorit Fahmi ngabuburit

Jembatan, sungai dan sawah di depan Desa Pagelaran ini tempat favorit Fahmi ngabuburit

Jika hujan, ngabuburitnya cukup di halaman, sambil melihat dan metik sayur

Jika hujan, ngabuburitnya cukup di halaman, sambil melihat dan metik sayur

Oh iya, Ramadhan dan lebaran kami tahun ini waktunya bersamaan dengan renovasi tempat tinggal. Rumah panggung milik mertua sudah harus dibongkar dan diganti. Jadinya jauh sebelum puasa hingga sekarang, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang jaraknya hanya terhalang empat rumah saja dari rumah lama yang sedang diperbaiki.

Rumah lama tinggal kenangan

Rumah lama tinggal kenangan

Rumah baru belum jadi, sementara ngontrak dulu :)

Rumah baru belum jadi, sementara ngontrak dulu 🙂

Karena pindah tempat tinggal, maka otomatis banyak perubahan yang kami rasakan. Beberapa hal yang biasa kami lakukan jelang maupun saat lebaran terpaksa kami tinggalkan demi bisa menyesuaikan diri dengan kondisi. Saat di rumah sendiri, anak-anak mengaji yang biasanya datang dari magrib sampai isya, digeser menjadi setelah asar. Puasa kemarin bisa dibilang anak mengaji meliburkan diri, entah kenapa. Mungkin karena rumah kontrakan kami sempit dan suasana nya tak senyaman saat masih di rumah dulu.

Suasana anak-anak didik saat mengaji

Suasana anak-anak didik saat mengaji

Lebaran identik juga dengan masakan enak dan lezat. Tradisi ini tidak hanya ada di rumah mewah, rumah sederhana dan di bawah sederhana pun pasti ikut merayakan dan mempersiapkannya. Paling tidak ada ikan, daging dan kue-kue (baik modern maupun tradisional) sebagai sajian pada hari kemenangan yang dirayakan sekali dalam setahun ini.

Karena pada hari kedua lebaran kami berniat menginap di rumah nenek Fahmi dari pihak ayah, juga tidak banyak perabotan yang kami bawa di rumah kontrakan ini, maka saya dan suami sepakat lebaran tahun ini kami tidak akan masak. Kami belajar menerima keadaan untuk bisa menahan diri demi tercapainya cita-cita memperbaiki rumah. Diakui atau tidak, membangun rumah sudah menyedot tabungan kami besar-besaran. Lebaran ini kami memilih untuk hemat dan sederhana. Kue dan hidangan ala kadarnya untuk hari lebaran kami, sudah positif akan diantar dari adik saya dan ibu di Sukanagara.

Selain itu, tradisi berkirim hantaran dari tetangga (khususnya orang tua anak-anak mengaji di rumah) kami pikir tak akan ada karena selama bulan puasa anak yang mengaji pun tidak ada. Tapi dugaan kami itu ternyata salah! Tetangga pada hari Senin (sebelum hasil sidang isbat Kemenag diumumkan) sudah ada yang berkirim hantaran. Hidangan rendang, sambal goreng kentang, tumis mie/bihun dan lainnya dikirim orang tua anak mengaji menggunakan rantang dan diantarkan oleh anaknya.

Hantaran dari orang tua anak didik

Hantaran dari orang tua anak didik

Rantang berisi hidangan lebaran dari orang tua santri

Rantang berisi hidangan lebaran dari orang tua santri

Ya Allah, saya dan suami sempat bingung dan malu. Dengan apa kami membalasnya? Karena kebiasaan di kampung, orang yang berkirim biasanya dikirim balik. Tanda saling berbagi dan mencicipi atas rezeki serta rahmat yang didapat saat hari kemenangan. Akhirnya suami memberi ide untuk membalas kiriman tetangga dalam bentuk mentahan. Jadilah hari Selasa sehari sebelum lebaran kami berbelanja sembako. Ya, belanja sembako, bukan hunting diskon baju lebaran ya, hehe!

Kami membalas hantaran tetangga dengan makanan mentah seperti orang yang punya hajatan di kampung saat berbagi kepada tetangga. Mentahan itu terdiri dari mie instant, ikan kaleng, minyak goreng, kecap, minuman, dan kue kering.

Alhasil meski kami tidak masak namun malam Rabu, malam takbiran itu di meja kami terhidang ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, kerupuk, kue-kue dan buah-buahan. Semuanya serba kiriman. Meski kondisi kami bisa dibilang sedang morat-marit, Allah melalui orang-orang baik di sekitar telah membagikan kebahagiaan-Nya. Kami tidak sendiri.

Meski tidak masak, menu lebaran bisa kami nikmati dengan senang hati

Meski tidak masak, menu lebaran bisa kami nikmati dengan senang hati

Tidak hanya itu, Allah masih memberikan rezeki tidak terduga buat kami. Selain anak-anak mengaji berdatangan untuk mengeluarkan zakat fitrah (di kampung anak-anak didorong orang tua untuk membayar zakat fitrah masih ke guru mengaji) anak didik mengaji suami yang sudah dewasa dan merantau ke kota, malam itu ada yang mudik dan menyempatkan datang ke rumah kontrakan kami. Selain untuk bersilaturahmi anak didik ini juga membawa bingkisan. Ini tentu saja bukan gratifikasi loh ya! Tapi buat kami yang jarang-jarang dapat kiriman dari anak didik tentu saja ibarat mendapat durian runtuh kejutan .

Sebagian bingkisan dari anak didik yang mudik

Sebagian bingkisan dari anak didik yang mudik

Setiap lebaran –khususnya setelah berumah tangga– kami tidak mudik karena keluarga besar kami baik dari pihak saya maupun suami sama-sama berada di satu kota kabupaten. Hari H kami gunakan untuk bersilaturahmi berkeliling kampung. Bertemu warga dan saudara yang sebagian wajahnya tampak asing karena sebelumnya mereka merantau dan tinggal di kota.

Setelah keliling kampung kami berangkat ke Sukanagara, tetangga kecamatan tempat ibu saya tinggal. Jarak sekitar setengah jam dengan kendaraan ini membuat kami tak harus banyak melakukan persiapan. Tanpa macet tanpa polusi jalanan, sebelum adan dzuhur pun kami sudah bisa kembali.

Kami (bukan) mudik. Hanya mau silaturahmi ke rumah orang tua :)

Kami (bukan) mudik. Hanya mau silaturahmi ke rumah orang tua 🙂

Selalu ada yang berubah baik sebelum, saat atau setelah lebaran setiap tahunnya. Yang bisa dibilang terlihat jelas bedanya buat kami adalah setiap habis lebaran selalu ada “pergantian” anak didik mengaji. Baik itu datangnya anak didik baru, atau keluarnya anak didik lama. Anak didik baru biasanya adik-adik dari anak didik lama. Kebanyakan kami sudah mengenalnya karena kehidupan di kampung, satu sama lain antar tetangga masih saling mengenali. Sedangkan anak didik mengaji lama yang keluar, itu biasanya karena si anak melanjutkan sekolah ke kota, atau si anak merasa sudah cukup belajar di kami.

Hari Senin 18 Juli adalah hari pertama pengajian di rumah (kontrakan) kami dimulai. Alhamdulillah tidak ada anak didik yang “keluar” tetapi ada beberapa anak didik baru yang masuk. Usianya rata-rata seumuran dengan Fahmi. Senang tidak terkira melihat balita tampak lucu mengenakan kopiah dan jilbab.

Tidak disangka, ada anak didik yang baru pulang dari Mekkah (orang tuanya bekerja dan sudah bermukim di sana. Lebaran ini mereka mudik ke Mekkah) membawa oleh-oleh (lagi) buat kami. Ada kurma, sorban, dan lainnya.

Alhamdulillah. “Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?” (QS Ar-Rahmaan: 13) Lebaran tahun ini memang penuh berkah dan rezeki tidak terduga. Syukur tidak henti kami panjatkan. Semoga lebaran teman-teman semua pun demikian. Mempunyai nilai positif dan pelajaran hidup yang bermanfaat. Amin.

Oh iya, informasi untuk muslimah semua, bahwasanya Diaryhijaber punya even seru nih!

Acara: Hari Hijaber Nasional

Tanggal: 7 – 8 Agustus 2016

Lokasi: Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng Jakarta Pusat

Siapapun yang pasti muslimah, yang dekat yang tidak punya acara, silahkan datang ya. Silaturahmi bersama hijaber lainnya dari seluruh penjuru Indonesia 🙂

DiaryHijaber

Comments

  1. Pasti seru ya Mbak kemeriahan Ramadan bersama sanak saudara dan tetangga-tetangga. Ternyata kebiasaan mengirim hantaran sama Mba, Ibu saya sering banget setiap malam takbiran baik Idul Fitri atau Idul Adha ke tetangga2 bahkan ke tetangga non muslim, karena buat Ibu mereka juga pasti pengen ikutan makan hidangan khas lebaran.

    Taqabbalallahu Minna waminkum ya Mba

  2. tetehokti says:

    Terimakasih Mbak Ipeh…
    Taqabbalallahu Minna waminkum kembali ya Mbak..

    Iya, sebagian tradisi yang sudah mulai luntur untuk yang mereka tinggal di kota 🙂

  3. Amiin Teh..

    Haduh itu hantarannya pake rantang, ahh asik banget.
    Mau juga donk saling kirim hantaran gituh, masih lekat banget ya tradisinya.
    Etapi alhamdllh, ditempatku juga masih ada kirim2an antar tetangga tapi pake mangkook hahahaa…

    • tetehokti says:

      Amin juga Teh 🙂

      iya, di kampung masih bawa pake rantang. Kebayang, jelang lebaran banyak anak santri mapay jalan sawah (galengan) menjinjing rantang. Terharu melihatnya. Alhamdulillah masih ada rezeki kami. Lebaran ini meski kondisi kami morat-marit tapi tetap bbahagia 😉

  4. Saling berbagi kebahagiaan dengan tetangga dan keluarga itu yang membuat suasana lebaran semakin seru dan syahdu ya Teh? Semoga rumahnya segera selesai direnovasi ya. Salam hangat buat dek Fahmi.. 🙂

    • tetehokti says:

      Amin. Terimakasih
      Maaf lahir dan bathin dari kami sekeluarga.
      Terimakasih kami ucapkan. Sudah menciptakan mainan murah meriah tapi sangat berkualitas. Tumbuh kembang Fahmi dan daya kreasinya terus meningkat dengan mainan kayu mobil balok

      Terimakasih…

  5. Indahnya berlebaran dgn kesederhanaan…mba kok aku ademm bgt baca tulisan dan liat foto2 mak okti disini. Jd pengen main2 ke kampungnya mak okti ^_^

    • tetehokti says:

      Mari main ke kampung kami Mak Cantik moga kerasan dengan suasana ndeso, listrik sering mati dan sinyal lup lep

  6. walaupun sederhana tapu terasa lebih dari indah ya mbak karena bisa ngumpul bersama keluarga dan saudara 🙂

  7. Alhamdulillah senangnya bisa saling memberi dan menerima.
    Saya jg pernah 2 tahun berturut2 lebaran di kontrakan aja, ternyata rame ya meski gak mudik :))

  8. Subahanallah… indahnya saling berbagi di hari bahagia…

  9. Di jakarta tempo dulu jaman aku kecil hingga remaja aku masih ngalamin hingar bingar petasan. Karbitan dan meriam boongan keliling kampung. Tapi semakin kesini semakin banyak aturan… Ih nasib orang gak punya kampung jadi gak berasa lebarannya

  10. mampir ah ke yang punya Cianjur hehe, Pagelaran mah masuknya kota buat saya bila dibandingkan dengan Tanggeung, apalagi kampung Cibadak, beneran kemarin tuh susah sinyal, jadi flight mode terus deh suapa baterainya awet

  11. Terima kasih info tentang ini sangat bermanfaat.
    Semoga website ini terus menyajikan info yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca.

Speak Your Mind

*