Kisah Jambu dan Fenomena Ahlak Anak

Kisah Jambu dan Fenomena Ahlak Anak

Jambu

Hujan besar, tengah adzan dhuhur pula. Saya yang sedang di ruang tamu melihat segerombolan anak-anak berseragam SMP lewat. Semuanya laki-laki. Satu diantaranya mampir ke halaman kami, berusaha mengambil jambu biji di depan rumah. Saya ketuk kaca depan dan anak itu terkejut. Lalu berlari bersama hujan diikuti hamburan teman-temannya.

Selepas adzan, saya merenung. Bukan mempermasalahkan jambu bijinya. Toh yang tidak sempat kami makan pun banyak hingga busuk dan dimakan tupai.
Yang saya sayangkan pada ahlak dan etika si anak. Sudah duduk di Bangku SMP lho! Pasti sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Pasti tahu bagaimana hukumnya memetik buah milik orang tanpa minta izin…

Yang saya takutkan, saya juga punya anak. Takut kelak anakku berbuat iseng begitu… Naudzubillahimindzalik. Semoga kita terhindar dari pekerjaan yang dilaknat Tuhan.

Perkembangan ahlak anak semuanya berproses. Anak usia akhir SD sampai SMP itu sedang belajar mencari jati diri. Sedang belajar bangga ketika melakukan hal yang menurutnya keren. Bukan berarti kelak mereka jadi buruk terus. Bukan berarti pula orangtua mereka gagal. Prosesnya masih panjang.

Anak seusia SMP masih labil. Peer grup mendominasi mereka. Satu anak bandel menular ke lingkungannya. Curi buah untuk dimakan termasuk dosa bandel, bukan kriminal. Tapi tentu saja sedari awal kita sebagai orang tua harus memberikan ketegasan kepada anak. Jangan diistilahkan “dosa bandel” bukan kriminal lalu si anak seolah diperbolehkan.

Pemahaman saya juga rupanya harus diupgrade. Ada informasi yang menyampaikan kalau buah yang dahannya menjuntai di jalan itu (seolah) sudah jadi milik umum. Kata lain wajar saja jika ada anak atau siapapun yang memetik buah itu saat lewat.

Para ayah para ibu, yuk kita dukung revolusi mental yang tengah dicanangkan pemerintah dengan lebih dulu merevolusi mental kita sendiri, lalu orang terdekat seperti anak. Di rumah boleh jadi anak bersikap baik. Siapa tahu di luar sana anak dapat dibujuk oleh kawan-kawannya. Waspada dan perhatikan dengan siapa anak bergaul akrab. Terutama anak seusia SMP/SMA yang jiwanya secara teori masih labil.

Speak Your Mind

*