Kisah Si Penulis Jempol

Kisah Si Penulis Jempol

Gak nyangka aku bisa menulis (mengetik) dan membagikannya di dunia maya seperti sekarang ini. Padahal dulu aku sempat berpikir semua ini hanya berupa khayalan saja untukku. Selain karena kecanggihan teknologi, semua ini berkat Yang Maha Kuasa atas jalan-Nya memberikan kemudahan untukku untuk melakukan semua ini.

Jika aku telusuri lagi bagaimana berdarah-darahnya aku berjuang demi bisa menjadi (kata orang) seorang penulis, sepertinya memang tidak mudah. Tapi semua perjuangan itu justru kini seperti jadi kenangan berharga yang tidak akan bisa semua orang merasakan.

Dulu, aku pikir untuk menjadi seorang penulis harus mempunyai mesin tik (jaman tahun 90 an belum ada komputer atau gadget seperti sekarang) kalau tidak, ya tulis tangan serapih mungkin sehingga redaksi koran atau majalah tidak pusing membaca naskah saat menyeleksi tulisan kita.

Demi bisa memiliki mesin tik yang bagi aku saat itu adalah sebuah barang mewah maka aku berangkat menjadi TKW ke Singapura. Sambil berkutat dengan pekerjaan yang seakan tidak ada hentinya, aku menyempatkan diri untuk terus belajar menulis.

Masih ingat bulan Februari 2001 betapa senangnya saat aku menjadi juara satu lomba menulis surat yang diselenggarakan oleh stasiun Radio Key FM di Batam. Hadiah uang sebbesar Rp. 750 ribu saat itu sangat besar nominalnya untukku. Tapi sayang hadiah itu harus hangus gara-gara majikan tidak memberikan paspor untuk aku fotocopy sebagai persyaratan pengambilan hadiah yang nanti akan dikirimkan panitia. Majikan melarang keras memberikan identitas pribadiku meski fotocopy nya saja dengan alasan takut aku kabur.

Finish bekerja di Singapura, aku kembali merantau di negara Jacky Chan. Kali ini kebebasan libur aku dapatkan sepenuhnya. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Aku bergabung dengan serikat pekerja IMWU dan Kotkiho. Hobiku menulis pun dengan leluasa aku jalani karena pihak IMWU dan Kotkiho mengijinkan aku menggunakan komputer di kantor jika libur kerja.

Sambil bekerja sambil belajar. Aku berkesempatan ikut belajar jarak jauh jurnalistik dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tulisan-tulisanku pun satu persatu ada yang dimuat di surat kabar berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong.

Selama bekerja di Hongkong, banyak sekali ilmu kepenulisan yang aku dapat. Perpustakaan Nasional yang berada di Causeway Bay, depan Victoria Park tempat para TKW berlibur jadi tempat favoritku untuk membaca, menulis dan berdiskusi. Saat itu, belum ada Komunitas Forum Lingkar Pena. Kita belajar otodidak saja. Belajar dari pengalaman senior utamanya.

Perantauan selanjutnya adalah Taiwan. Bersyukur majikanku suka baca dan selalu memperbolehkan aku membaca buku apa saja yang ada di rumahnya. Setiap libur, aku dan anak-anaknya selalu dibawa ke perpustakaan. Saat itu tahun 2008 aku baru mulai mengenal internet. Dengan sabar majikan mangajariku dan memperbolehkan menggunakan komputer untuk membuat tulisan.

Majikanku sangat senang saat aku selama 2 tahun berturut-turut berhasil menjadi juara dalam Lomba Menulis Cerpen Tenaga Kerja Asing Taiwan. Majikan terus menyemangatiku untuk terus berkarya sambil bekerja. Kadang anak majikan juga mengajariku bagaimana menulis menggunakan komputer yang benar. Maklum sebelumnya aku kan gaptek dan kuper dengan alat-alat canggih dan modern milik majikan.

Di kontrak kedua bekerja, tidak disangka jobku bertambah merawat kakek yang lumpuh total. Aku harus bolak-balik antara rumah majikan dan rumah kakek. Kelelahan selalu mendera setiap malam. Boro-boro menulis, waktu makan dan tidur saja selalu berkurang. Hanya sesekali aku update blog di Multiply. Saat itu Multiply masih ada.

Tak berapa lama jejaring sosial jadi buming. Teman-teman ramai dengan bahasan sekolah menulis cerpen, jurnalistik, menerbitkan buku antologi, dan sebagainya. Semangat untuk menulisku bangkit lagi. Bermodalkan hape aku ikut belajar dan menargetkan menulis sebuah novel.

Dalam perjalanan dari rumah majikan ke rumah kakek, aku gunakan untuk menulis (ngetik) di notes hape. Sambil menunggu bis, aku nulis. Sambil menunggu kakek, aku nulis, menunggu anak majikan les, aku juga sempatkan menulis pokoknya tiada hari tanpa kutak-katik hape, untuk menulis. Sampai jempolku ini bengkak dan kapalan!

Kisah jempolku yang bengkak dan kapalan demi bisa melahirkan sebuah karya cerpen dan novel ini dimuat di majalah bulanannya Penerbit Leutika Prio, Yogyakarta. Sejak itu teman-teman komunitas yang menerbitkan buku indie di Leutika Prio menyebutku sebagai si penulis jempol.

Sebelum aku memilih pulang ke kampung, di Taiwan bersama teman-teman para mahasiswa kita sempat menggagas mendirikan Forum Lingkar Pena Taiwan. Bersyukur niat itu terlaksana dan sampai saat ini FLP Taiwan masih aktif dan terus berkembang baik organisasinya maupun kegiatan-kegiatannya.

Selesai kontrak kerja dari Taiwan, alhamdulillah modal untuk menulis berupa sebuah komputer jinjing berhasil aku bawa pulang. Betapa senangnya benda yang sangat diimpi-impikan sejak tahun sembilan puluhan itu akhirnya kini aku miliki. Tidak hanya itu, bonus dari menulis di berbagai ajang kepenulisan pun aku dapat. Semuanya benar-benar sangat menunjang sebagai sarana untukku untuk terus menulis.

Senang dan teramat bersyukur Tuhan membukakan jalan untukku bisa terus menulis membaca dan berbagi. Jika bukan karena menulis, mungkin sampai saat ini aku hanya seorang perempuan desa biasa yang sulit untuk berkembang dan memajukan diri, apalagi memajukan keluarga, lingkungan dan bangsanya. Itu sangat jauh sekali. (ol)

Kisah di atas saya buat untuk ikut berpartisipasi dan meramaikan ajang Giveawaynya Mbak Hilda Ikka
Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong
Semoga bisa memberikan hikmah dan pembelajaran 🙂

banner giveaway 2

Comments

  1. Terdaftar! Terima kasih Mbak Okti sudah berpartisipasi ^^

    Salut banget dah! Meski pada waktu itu berstatus tenaga kerja di luar negeri, namun semangat menulisnya perlu diacungi jempol! 🙂

Speak Your Mind

*