Komunitas: Tempat Belajar Tanpa Batas

Komunitasitu rumahmanusia

Komunitas: Tempat Belajar Tanpa Batas

Sebuah lidi mana mungkin bisa mengumpulkan sekian banyak daun yang berserakan dalam sekejap? Beda dengan seikat lidi yang menjelma menjadi sapu, sampah satu halaman bisa dibersihkan hanya dalam sekian jam. Bahkan kurang.

Begitu gambarannya saat masih merantau bekerja di negara orang. Seorang buruh migran yang tertindas, suaranya kalah nyaring oleh gelegarnya bentakan agency dan majikan. Namun saat suara buruh migran bergabung menjadi satu kesatuan, terlahir dalam komunitas dan perkumpulan, maka aksi dan gerakan menjadi semakin runcing dan mampu menerjang kokohnya barisan majikan sampai kuatnya birokrasi pemerintahan…

Komunitas, menurut wikipedia adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa orang yang saling berbagi lingkungan. Dalam komunitas manusia, orang atau individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Sehingga bisa dikelompokkan sebuah komunitas berdiri berdasarkan apa, seperti kesamaan hobi, kesamaan profesi, kesamaan kegiatan dan sebagainya.

Dengan berkomunitas, terbukti suara-suara buruh migran yang selama ini sering diberitakan selalu teraniyaya menjadi sebuah kekuatan yang semakin bertambah. Dengan berkomunitas, apa yang kita tidak tahu akan didapat informasinya dan apa yang belum kita punya bisa berbagi dengan sesama dalam sebuah komunitas tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga yang suka menulis, saat menjamurnya group-group kepenulisan menjadi jembatan tersendiri untuk membawa saya ke dunia yang lebih luas dan lebar. Bahwa ruang lingkup Cianjur saja tidak akan cukup memenuhi informasi. Masih banyak bagian-bagian dunia lainnya yang terus saling melengkapi dan menambah. Dari mana semua itu didapat? Ya dari komunitas.

Teknologi dan gaya hidup semakin berkembang pesat. Ranah kepenulisan bertambah ke dalam dunia blog. Media dan periklanan produk pun beralih menjadikan blog sebagai sarana promosi. Banyak yang menjadikan hobi ngeblog ini menjadi profesi. Sepertinya mudah dan menggiurkan, padahal tentu saja harus disertai ilmu dan wawasan seputar blog dan periklanan.

Apalah saya yang hanya seorang ibu rumah tangga dari kampung ini? Bagaimana bisa ikut beriklan dan bersaing dengan blogger sesungguhnya? Perasaan pesimis itu sempat hadir sebelum bergabung dan belajar bersama di komunitas-komunitas blogger yang ahli di bidangnya. Semula ngeblog hanya untuk curhat dan narsis, perlahan mulai membenahi mengikuti arahan, masukan serta ilmu dari para blogger yang selalu ikhlas berbagi di komunitas blogger.

Komunitas menjadi rumah kedua bagi manusia. Komunitas menjadi salah satu jalan untuk bersosialisasi, interaksi dan menjadikan hidup kita semakin berarti. Dengan ikut komunitas saya banyak dibantu, banyak didukung sehingga bisa terus mengupgrade diri. Belajar jarak jauh tanpa banyak syarat namun terasa benar banyak mendapat manfaat.

Comments

  1. Kok aku banget ya…blogger ndeso.

  2. Salam Mbak Okti , yup budaya berkomunitas sangat kuat dimanapun berada, selain itu fungsi komunitas juga ya semacam mengidentifikasi diri bahwa diri pribadi bagi profesi dari komunitas itu….Perjuangkan terus Mbak visi misi dan hati-hati dengan orang lain yang punya ambisi yang membuat visi misi Mbak sulit berkembang… Salam

  3. Catcilku says:

    Belajar tanpa batas ya mbak dr komunitas

  4. indonesia banking school says:

    informasinya keren dan bermanfaat…

Speak Your Mind

*