Kucing Ditambah SDM Eror Sama Dengan Kemenangan

Kucing Ditambah SDM Eror Sama Dengan Kemenangan 

Cerita terkait kucing yang paling seru, kocak dan tidak akan terlupa ini terjadi sekitar awal Desember 2009, ketika saya masih bekerja di Taiwan. Saat itu Penerbit Serambi sedang mempromosikan buku/novel tentang kucing berjudul DEWEY.

Bulan November kala tepat setahun saya mempunyai akun di Multiply (untuk seterusnya kita singkat MP saja) Alhamdulillah, walau dalam umur yang masih teramat belia, saya sudah bisa sedikit demi sedikit berbagi pengalaman dan menerima banyak ilmu yang saya kira sangat mahal, tidak bisa saya dapatkan dengan mudah selain dari kawan-kawan di MP yang sangat baik dan berbudi.

Satu hal lagi, yang saya alami selama berinteraksi dengan para MP-ers (orang-orang yang mempunyai akun/blog di MP) dari berbagai tempat itu, saya juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, lucu, unik dan buat saya tertawa sendirian (Hah? Awass lho…!) tidak akan mudah terlupa walau silih berganti pengalaman baru kembali datang dan pergi.

Sebuah kisah menarik, yang membuat saya, dan semua orang yang mengetahui kisah saya ini, mau tidak mau akan tertawa-tawa, terpingkal-pingkal dan mengeluarkan berbagai komentar yang juga bermacam-macam pada akhirnya, membuat kisah ini semakin berwarna-warni.

Tan-tan

Tien-tien

Tahun 2008, saya tidak sengaja kenalan dengan seorang MP-ers. Saya tertarik dengan foto-nya, foto apa gerangan? Foto Kucing dengan topi yang terbuat dari kulit jeruk bali! Nyentrik, bukan?

Lama-lama, setelah hampir tiap kali online saya mengetahui juga siapa gerangan orangnya di balik foto kucing yang menggemaskan itu. Ternyata seorang gadis yang cantik, manis, dan lemah lembut. Tidak disangka nya, dia juga bekerja di Taiwan dan tinggal tidak jauh dari tempat saya kerja di perantauan ini.

Ting Mao, sebut saja nama gadis itu, adalah gadis berumur 20. Dia Tinggal di Nei hu Distric juga, Saya di Section Tiga, dia di Section Dua. Hanya beberapa Line jaraknya, hanya satu stasion MRT terpisahnya.

Dari seringnya berinteraksi di MP, saya menjadi banyak tahu akan jati diri dan liku-liku hidup Ting Mao, termasuk kisah-kisah dan cerita-cerita mengenai mengapa dia memakai foto kucing bertopi kulit jeruk bali; bagaimana dia bisa mendapatkan nama Ting Mao; termasuk silsilah keluarga si kucingnya itu.

Ya, Ting mao memang penyuka kucing. Saya tahu dari obrolannya, baik lewat postingan di MP, obrolan di hape, maupun di efbe. Ting Mao mempunyai dua kucing di rumahnya, namanya Tan-tan dan Tien-tien. Saya sangat kagum dengan kisah kucing-kucingnya itu, sangat menarik hati dan menyenangkan. Bukankah Nabi Muhammad juga menyukai kucing? So, saya pikir tidak ada salahnya saya mengetahui seluk-beluk cerita kucing ini dari teman ini.

Tan-tan adalah kucing tipe pemalas, sedangkan Tien-tien, adiknya, adalah kucing yang menggemaskan, namun pemalu. Ayah mereka, Jojo, sangat tampan, dengan mata tajam dan wajah lebar. Kebiasaan Jojo seperti manusia saja, dia suka duduk, menirukan orang. Gaya tidur nya pun tidak menelungkup melingkarkan ekor di samping badan nya, melainkan terlentang! Ya, posisi tidur Jojo badan menghadap ke atas, ini menurun kepada Tan-tan, anaknya yang terbesar.

Induk kucing-kucing yang menggemaskan itu, adalah Nini. Ada kisah yang menarik saat Nini dahulu pertama melahirkan. Seperti yang dikisahkan Ting Mao kepadaku. Saat Nini melahirkan delapan ekor bayi kucing, Ting mao lah yang menjadi bidan nya! Ya, Ting Mao lah yang memotong semua tali pusar kedelapan bayi kucing itu! Luar biasa!

Beberapa hari setelah melahirkan, pada suatu malam yang dingin, Ting Mao mendapati seekor bayi kucing yang lemas, mungkin dia tidak kebagian air susu dari induknya. Karena tidak tahu harus bagaimana menyelamatkannya, maka Ting mao berniat membawa bayi kucing itu ke dokter hewan terdekat.

Tidak berpikir kalau di tempatnya itu tidak ada seorangpun yang bisa dipinjami kendaraan, Ting Mao dengan cepat-cepat membungkus bayi kucing itu dengan sweater kesayangan nya. Setelah memastikan bayi-bayi kucing yang lain cukup aman bersama Nini, induknya, Ting Mao pun membawa bayi kucing itu ke luar.

Sedihnya, Ting mao baru sadar kalau saat itu cuaca sedang buruk. Angin di penghujung Desember yang membekukan persendian (kala itu musim dingin, dan cuaca juga sedang turun drastis) membuat orang-orang malas keluar rumah. Termasuk para sopir taxi.

Ya, siapapun pasti memilih diam di rumah menghangatkan badan di balik selimut sambil menonton TV, membaca buku ditemani secangkir minuman penghangat tubuh, atau tidur, dari pada keluyuran di luar dengan suhu yang menggigit tulang dan menggemeretuk kan gigi-gigi geraham.

Dengan sedih Ting Mao menggendong bayi kucing itu menyusuri sepanjang jalan, berharap ada kendaraan yang bisa ditumpangi. Sepi.. dan sepi… sampai akhirnya ada sebuah taxi lewat. Ting Mao sangat gembira dan segera melambaikan tangan menyetop taxi itu.

“Maaf Non, taxi nya sudah tidak bisa di pakai, saya mau pulang” Kata si sopir membuka kaca jendela depan.

“Adduh! Tolong Pak! Saya buru-buru mau ke dokter, kalau tidak bisa mati….” Ting Mao sedikit memaksa.

“Nona mau ke dokter? Siapa yang sakit? Ayo saya antar… ke Dokter mana Non?” Sopir taxi akhirnya
membukakan pintu.

Ting Mao tidak bicara, cepat-cepat memasuki taxi. Kehangatan mulai dirasakannya, segera dibukanya gendongan bayi kucing di pangkuan nya. Sambil mengatur nafas, Ting Mao akhirnya menjawab juga.

“Antar saya ke dokter hewan terdekat ya Pak, kucing saya hampir mati…”

“Apa? Kucing?” Sopir taxsi tidak saja melihat dari kaca spion depan, tapi juga menengok kan wajahnya ke belakang ketika Ting Mao bilang kucingnya yang mau mati. Tengah malam dengan cuaca dingin yang buruk begini, bela-belain hanya karena seekor kucing? Mungkin itu pikiran sopir, keheranan yang luar biasa.

“Iya, tolong bawa saya ke dokter hewan terdekat…” Pinta Ting Mao. Sopir taxi tidak bicara. Dia melihat keluar jendela, tampak pohon-pohon meliukkan daun-daunnya tertiup angin yang cukup kencang. Cuaca memang sedang buruk, batin Ting Mao. Pantas sopir enggan membawa nya, terlebih karena seekor kucing, Akh! Tapi kucing ini sangat berharga. Kucing juga kan mahluk hidup yang perlu dilindungi. Batin Ting Mao berdebat sendiri dalam perjalanan.

“Sudah tutup Nona, ini dokter hewan yang saya tahu.” Ucapan sopir cukup mengejutkan Ting Mao.

“Aduh, tolong bawa saya ke dokter yang lain ya Pak, saya bayar berapa pun ongkosnya.” Pinta Ting Mao sudah tidak malu lagi merengek seperti anak kecil.

“Nona, ini sudah lewat tengah malam, cuaca pun tidak baik, mana ada dokter hewan yang buka pada saat seperti ini?” Sopir memberikan masukan.

Ting Mao semakin bingung. “Hem, gini aja deh Pak, tolong antarkan saya ke kantor polisi terdekat, saya mau minta bantuan darinya saja…”
Sopir taxi langsung tancap gas mengantarkan Ting Mao.

Akhirnya dengan bantuan polisi yang berhasil mengecek dokter hewan yang bersedia menerima “pasien” menjelang dini hari, Ting Mao berhasil memeriksakan kesehatan si bayi kucing.

“Bayi kucing ini hanya lemas karena kekurangan air minum susu induk nya.” Jelas dokter hewan menenangkan.

“Mungkin dari delapan bayi yang menyusu, si induk kucing kehabisan air susu nya dan bayi kucing ini yang tidak kebagian” Seloroh dokter membuat Ting Mao tersenyum juga.

“Mulai besok bisa memberikan susu tambahan kepada bayi-bayi kucingnya, nanti saya kasih resepnya ya…” Ting Mao hanya mengangguk dan berterimakasih.

Tan-tan sebelum digundul

Sejak di beri susu tambahan, si bayi kucing yang malang itu tumbuh sehat dan lincah. Ting Mao memberi nama kucing itu Tien-tien. Dari delapan anak kucing, hanya ada dua ekor yang di rawat oleh nya. Tien-tien dan salah satu kakak Tien-tien yang bernama Tan-tan.

Dulu Nini memang melahirkan delapan ekor bayi kucing, setelah dewasa, kucing-kucing itu sebagian diberikan kepada teman dan saudara Ting Mao yang mau memelihara kucing sebagai pet kesayangan nya. Maka tinggal lah dua ekor yang dipiara oleh Ting Mao. Yaitu Tan-tan dan Tien-tien.

Sementara Jojo dan Nini, mereka dipiara oleh saudara Ting Mao yang sudah menikah dan tinggal di lain rumah. Toh kalaupun Jojo serta Nini dibiarkan tinggal bareng dengan Tan-tan dan Tien-tien, sepertinya tidak akan aman! Nini sering menghajar Tan-tan, mungkin tahu Tan-tan pemalas, makanya di buatnya Tan-tan bergerak, walau sekadar berlari untuk menyelamatkan diri dari terjangan Nini.

Tien-tien

Pokoknya, saking sering nya Ting Mao share kisah mengenai kucing-kucing nya itu, saya sampai hafal seperti hal nya saya sendiri yang mengurus mereka. Kisah kucing ini sepertinya sudah berada di luar kepala saya 😀

Sampai suatu saat, saya membaca sebuah perlombaan menulis kisah tentang Kucing.
Seperti ini pengumumannya :

Kucing memang makhluk yang sangat menggemaskan. Tak heran jika banyak orang dari berbagai kalangan; kaya-miskin, tua-muda, laki-laki dan perempuan kerap menjadikan kucing sebagai sahabat mereka.

Apakah Anda memiliki kisah nyata yang menarik mengenai kucing? Jika iya jangan ragu berbagi pada kami. Kirim cerita nyata yang unik dan menarik tentang kucing melalui email ke promo @ *******. co.id. Cantumkan “*****” pada kolom subjek dan jangan lupa sertakan poto kucing kesayangan Anda.
Sertakan data diri Anda berupa nama, no. telpon, dan alamat lengkap paling lambat 2 November 2009.

Menangkan satu paket buku terbitan ******* senilai Rp. 150.000* plus buku ***** bagi 3 orang yang
kisahnya kami nilai paling menarik.

Mengetahui ada perlombaan itu, saya segera menginformasikan nya kepada Ting Mao. Saya pikir ini salah satu kesempatan bagus, untuk mempublikasikan Tan-tan dan Tien-tien di Indonesia. Ting Mao pun setuju kalau kucing nya diikutsertakan dalam perlombaan cerita tentang kucing itu.

Maka tidak menunggu lama, saya menuliskan beberapa halaman mengenai kisah kucing-kucing Ting Mao, semua berdasarkan seperti yang Ting Mao ceritakan ke saya. Pada bagian akhir saya tuliskan pula nama saya, no telepon serta alamat lengkap di Taiwan. Tidak lupa pula saya kirimkan beberapa buah photo cakep Tan-tan dan Tien-tien.

Setelah saya teliti lagi semua cerita nya (takut ada suku kata yang salah atau kelewat gitu, maklum penulis masih amatiran :D) saya masukkan photo di lampiran, dan setelah sejenak berdoa, Bismillah…. saya klik kata send di layar monitor. Maka karya yang saya beri judul kisah Tan-tan dan Tien-tien pun terbang, terbawa melayang hingga sampai di tujuan, dengan bukti adanya delivery report di layar monitor.

Saya langsung kontak Ting Mao di MP, melaporkan kalau hasil cerita tentang kucing-kucingnya sudah dikirim dan tinggal menunggu hasil. Kami pun mengobrol hal-hal lain nya. Tapi sangat terkejut nya saya, ketika masih chat dengan Ting Mao, saya sempat melihat laporan email yang masuk di sudut kanan bawah laptop saya, dengan judul Balasan : Kisah Tan-tan dan Tien-tien

Segera saya chek e-mail yang masuk, kok langsung ada balasan? Pikir saya menduga-duga. Pasti ada yang tidak beres nih dengan tulisanku, sampai langsung dikembalikan. Hati saya takut juga, ini jujur lho!

Tapi alangkah terkejut nya saya, kemudian tertawa-tawa sendiri setelah membaca email balasan dari alamat penyelenggara lomba itu. Mau tahu apa isinya?
Di atas cerita saya tentang kucing itu, terdapat tulisan seperti ini : (Ini asli lho kata-katanya, saya edit kop surat nya saja).

Dari: Promo ******* <promo @ *******.co.id>
Kepada: Okti Li <******* @ ymail.com>
Terkirim: Ming, 1 November, 2009 23:42:44
Judul: Re: Kisah Tan-tan dan Tien-tien

ini mas … niat bener sih dia, si tantan juga lucu 😀
Tapi alamat nya itu looo di Taipei. Ongkos kirimnya berapa nanti 🙁

Saya tertawa-tawa sendirian! Lucu… bener-bener merasa lucu! Sayang Ting Mao sudah tampak off line dari MP nya, tanpa menunggu lama, segera saya balas lagi email itu. Sambil mengetik saya tidak berhenti cekikikan juga.

ga pa2, saya juga punya alamat Jakarta kok
jadi ongkos kirim Anda tidak akan rugi
alamat Jakarta saya : Atas Nama *** **** **
Jln. KH. ****** ****** No. ** Jakarta Pusat *****
Anda tidak harus mengeluarkan ongkos kirim banyak :))
Terimakasih atas info email nya. 

Salam
Okti Li

 

Langsung saya kirim lagi email tersebut. Saya menafsir-nafsir bagaimana kikuk nya dia di seberang sana yang telah lalai dalam bekerja seandainya berhadapan dengan saya, hahaha! Seandainya saya yang melakukan kesalahan pengiriman email tersebut, walah mak…. tidak bisa membayangkan dech! Ampun malunya. Tidak terlukiskan bagaimana warna nya muka ini 😀

Benar saja seperti dugaan saya, beberapa menit kemudian tampak laporan ada balasan lagi dari Re: Kisah Tan-tan dan Tien-tien. Saya langsung membuka nya, lagi-lagi saya cengar-cengir di buatnya setelah membaca isi email balasan itu. Bunyi nya seperti ini :

Dari: Promo ******* <promo @ *******.co.id>
Kepada: Okti Li <******* @ ymail.com>
Terkirim: Sen, 2 November, 2009 00:00:19
Judul: Re: Bls: Kisah Tan-tan dan Tien-tien

Aduuuh mbaaak …. maaf maaf … seharusnya saya forward email dari mbak okti ke redaktur kami, bukannya
membalas ke mbak 🙁
Aduh sekali lagi saya mohon maaaaf.
BTW, salam kenal 😀

Kali ini ada perasaan kasihan saya terhadapnya, tawa pun langsung lenyap, yang terbayang adalah rona bersalah dan ketakutan, ya, bagaimana bila keteledoran dia (si pembalas email) diketahui oleh atasan atau redaktur nya? Pasti dikira nya dia bekerja (menerima email, membaca dan menindak lanjuti email itu) dalam keadaan tidak konsentrasi, mungkin sedang chat dengan teman nya; mungkin sembari menonton film/DVD; atau mungkin sambil ngobrol di Skype; atau mungkin sambil efbe-an?!

Konotasi buruk pasti singgah kepada orang yang lalai dalam menjalankan pekerjaan nya, meskipun tidak menutup kemungkinan dia lalai karena murni ketidak sengajaan.

Saya pikir sih, (Maaf, bukan mau sombong ya) dia sangat tertarik membaca kisah kucing yang saya kirimkan itu, di tambah dia juga pasti terpukau oleh kecantikan photo Tan-tan dan Tien-tien dalam lampiran, (saya memang kirimkan photo yang sangat eksklusif ) maka secara tidak sadar, pikiran nya hendak memfoward email saya itu kepada redakturnya, tapi apa daya malah kata Balas (reply) yang dia klik! Jadilah kesalahan kirim email seperti itu. Setelah sejenak berpikir, saya tekadkan membalas lagi email itu.

sudah saya duga 😀
gpp, semoga aja ini tanda2 kemenangan.
salam kenal kembali
jangan lupa saya juga ada alamat di Indonesia/Jakarta lho ya…

Harga dan penampilan NOVEL DEWEY 2009 di penyelenggara

Entah kemana, Ting Mao beberapa hari tidak menyapa (di MP) saya pun disibukkan dengan berbagai pekerjaan, membuat saya lupa akan peristiwa kesalahan kirim email dari si penyelenggara lomba itu. Sampai pada malam Rabu, saya mendapat email lagi darinya yang memberitahukan kalau saya, menjadi salah satu juara (saya nomor urut pertama dari tiga juara) dalam lomba menulis kisah tentang kucing itu. Alhamdulillah. Saya tersenyum sendiri mengingat kejadian kesalahan kirim email beberapa hari yang lalu.

Lalu setelah membalas email pemberitahuan itu (konfirmasi kepada panitia) saya copast semua email-email yang salah kirim itu beserta balasan-balasan dari saya. Semua, termasuk email pemberitahuan kalau saya termasuk pemenang yang baru saja saya terima itu, saya kirim kembali ke Ting Mao. Pasti Ting Mao akan terkejut, pikirku.

Setengah jam kemudian, ting Mao menelponku. Dia tertawa terbahak-bahak! Sangat terkesan dengan cerita yang aku gambarkan, plus tekekeh-kekeh bila ku ceritakan kembali langsung bagaimana kronologis kejadiannya. Saat cerita lagi semua teman-teman saya pun pada tertawa-tawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita ini. Ada yang bilang kalau tidak salah kirim email, (Berarti saya tidak akan memberikan alamat di Jakarta) mungkin saya tidak akan menang (karena dianggap tinggal di Taiwan, ongkos kirim buku hadiah nya kemahalan)

Jadi patut bersyukur pula kepada salah kirim email itu yang jadi pintu gerbang nya kemenangan. Ingin saya mengucapkan sekedar kata terimakasih kepada dia yang salah kirim email itu. Saya mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Siapa tahu dia yang salah kirim email itu juga ternyata MP-ers (dan bahkan mungkin kontak saya!)

Novel dan harga Dewey terkini di Bukalapak

Novel Dewey menjadi salah satu hadiah buat saya, namun entah kenapa sampai sekarang novel kucing itu tidak pernah dikirim ke saya. Saat itu alasannya stok habis. Saya juga gak nanya ke penerbit/panitia. Sepertinya saya harus nanya ke Teh Triani Retno selaku juara 2 di acara lomba cerita kucing ini.

Itulah cerita seru yang saya alami selama saya nge-MP terkait kucing, semoga cerita ini bisa membuat semua terhibur dan bisa ambil manfaatnya.

Speak Your Mind

*