Malu Bertanya Tertipu Calo Jadinya

Malu Bertanya Tertipu Calo Jadinya

Malu Bertanya

Pernah tertipu oleh calo di terminal Pulo Gadung Jakarta? Saya pernah. Dua tiket bus malam yang saya beli dan ternyata itu bodong alias palsu harus saya relakan raib begitu saja. Saya harus puas membeli lagi tiket yang bener, yang ternyata harganya beberapa kali lipat dibawah harga yang ditawarkan calo yang menipu saya.

Tapi saya justru harus bersyukur, karena dengan kejadian itu, saya jadi mendapatkan pelajaran hidup. Menjadikan saya harus lebih berhati-hati dan sejak saat itu saya selalu bertanya kepada teman-teman yang lebih tahu sebelum melakukan perjalanan.

Meski orang daerah, karena pekerjaan menuntut saya harus banyak melakukan perjalanan ke Jakarta, bahkan ke luar kota hingga luar provinsi. Belum pernah melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kondisi dan keadaan yang sudah banyak berubah membuat saya seolah menjadi orang asing di negeri sendiri.

Oya, saat saya sekolah, sebelum tahun 2000 kondisi Jakarta kan jelas jauh berbeda dengan kondisi yang sekarang. Lalu setelah lulus sekolah, saya merantau ke luar negeri menjadi TKI sekitar sebelas tahun lamanya. Karenanya saat kembali ke kampung halaman, merasa terkaget-kaget dengan berbagai perubahan yang ada.

Dulu belum ada busway, saat saya pulang, busway sudah menjadi ala transportasi umum favorit masyarakat. Dan sedihnya, saya sangat sulit “menghafal” rute busway. Jadi bila ada keperluan ke suatu tempat di Jakarta, saya akan bertanya kepada sekian banyak teman di dunia maya warga Jakarta, yang sudah saya kenal baik untuk mendapatkan informasi yang akurat. Tentu saja karena pengalaman tertipu oleh calo di terminal Pulo Gadung itu sudah menjadi pelajaran penting buat saya.

Beruntung ada beberapa teman yang kenal di dunia maya, lalu menjadi akrab dan bahkan sudah seperti saudara gara-gara seringnya saya bertanya rute-rute busway dan angkutan kota lainnya. Oya, saat itu kan belum ada tukang ojek online seperti saat ini. Pun setelah ada tukang ojek online, karena saya tidak tahu bagaimana cara memesan serta menjalankan aplikasinya, saya pun kembali banyak bertanya kepada teman-teman di dunia maya untuk bisa melakukan panggilan ketika akan bepergian di Jakarta.

Alhamdulillah, karena rajin bertanya, tidak malu terus mengontak orang yang tahu betul akan suatu permasalahan baik di dunia maya maupun orang di sekitar, akhirnya banyak urusan serta pekerjaan saya yang bisa saya tuntaskan tepat waktu. Kalau tidak berani bertanya, tidak bisa dibayangkan bagaimana saya akan banyak menghabiskan waktu sekedar melakukan perjalanan ke sebuah acara kopi darat (kopdar) para blogger. Ini pentingnya untuk tidak malu bertanya, supaya tujuan bisa tercapai dengan maksimal.

Begitu pula dalam halnya pergaulan dan gaya hidup. Saat pertama kali kembali ke tanah air akhir tahun 2011, banyak istilah dan bahasa yang tidak saya mengerti. Istilah “OTW”, “baper”, istilah “kamseupay” dan lain sebagainya betul-betul tidak saya mengerti maksud serta pemakaiannya. Dengan tanpa rasa malu saya pun langsung bertanya kepada mereka yang menggunakan kata-kata tersebut dalam pembicaraan atau tulisan yang dibuat.

Setelah diberitahu arti dan maksud dari berbagai kata serta istilah yang tidak saya mengerti itu akhirnya saya jadi faham. Saat ada orang yang menggunakan istilah atau kata tersebut, saya tidak asing lagi dan bisa menterjemahkan dalam kalimat serta keadaannya. Lain jika saya merasa malu bertanya, tentunya saya tetap tidak mengerti, dan bahkan bisa salah arti yang bisa mengakibatkan kesalahan fatal dalam obrolan atau diskusi.

Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia super yang serba tahu sekalipun expert dalam berbagai ilmu. Bertanya lebih baik daripada sok tahu. Jangan malu karena dengan bertanya sesungguhnya kita sedang belajar untuk mendapatkan ilmu dan informasi.

Memang di kota besar masih ada orang yang cuek dan memberikan informasi gak jelas saat kita bertanya tentang arah atau lokasi. Sikap cuek dan tidak peduli, tidak mau tahu sekitar sehingga malas memberikan informasi yang akurat kepada orang yang bertanya. Itu sering pula saya alami. Karenanya untuk mengantisipasi, jauh sebelumnya kita sudah menyiapkan diri. Termasuk bertanya kepada orang yang tepat.

Saat bertanya tentang sebuah lokasi, biasanya saya memilih bertanya kepada petugas keamanan, atau petugas informasi khusus. Saya mencari mereka untuk mendapatkan informasi akurat daripada bertanya kepada orang lewat meski dekat. Petugas keamanan biasanya tahu lokasi sehingga bisa memberikan arahan yang tepat. Sementara jika orang selewat, selain kebanyakan tidak ingin direpotkan, pun siapa tahu mereka tidak tahu apa yang kita tanyakan karena mereka memang sedang lewat saja, bukan warga setempat yang tahu lokasi serta kondisi yang kita tanyakan itu.

Tidak hanya di tanah air, dengan tidak malu bertanya, saya bisa menjelajahi negeri Singapura, Hong Kong dan Taiwan sendirian saja saat libur kerja. Dengan rajin bertanya, saya bisa mengantar anak sekolah, anak les dan berbelanja kebutuhan keluarga majikan di negara yang serba cepat dan canggih itu. Dengan mau bertanya kehidupan dan pekerjaan saya di luar negeri menjadi lebih baik dan mudah meski dilatari perbedaan bahasa, adat serta budaya.

Dimana saja kita berada, dengan bertanya maka permasalahan akan dengan mudah dipecahkan. Kalau tidak mau bertanya, selain memungkinkan akan tersesat, juga bisa-bisa tertipu oleh calo seperti pengalaman saya.

BNI

Comments

  1. “Tidak hanya di tanah air, dengan tidak malu bertanya, saya bisa menjelajahi negeri Singapura, Hong Kong dan Taiwan sendirian saja saat libur kerja.” inspiratif banget teh 🙂

    *btw soal calo jadi ingat temen cerita mau nonton bonjovi ditipu calo. ambles uangnya nyaris 1 jt gara2 tiket aspal. maunya liat bonjovi di gbk malah cuma bisa mandangin dari luar stadion. miris gara2 malu bertanya

  2. Dengan bertanya apa yang kita tak tahu jadi tahu…

  3. Prinsip jangan malu bertanya itu harus

  4. Pernah juga tertipu sama calo tahun 2004. Waktu itu mau ke Surabaya, tiket nomal harganya cuma 35ribu, gara2 calo jadi 65rb…hampir dua kali lipatnya.

    • Semoga kedepannya gak terulang ya Mbak, hehe
      pastikan kita bertanya tentang informasi yang benar dan akurat kepada orang yang tepat 🙂

  5. The power of nanya jadi bisa jalan2 ke singapura, hongkong dan taiwan

  6. Wah berani backpakeran ke LN sndrian? Saya blm tentu berani nih..hrs lbh pede bertanya ya walopun dinnegara orang

  7. Saya belum berani jalan jauh sendirian euy

  8. Jadi inget awal-awal di Jakarta. Dari Kalisari ke Raar Auri, nangis di jalan, karena mau nyebrang gak bisa-bisa. Sangking rapetnya kendaraan lewat. Akhirnya setelah dua jam berdiri di pinggir jalan, ada satpam yang mendekati, dan menyeberangkan. Sialnya, setelah ada di seberang, Pak satpam sudah pergi lagi, diriku baru mikir untuk bertanya, arah Kalisari kemana. Alhasil diriku harus balik nyebrang lagi. Nyeseek…

  9. Saya udah keterima di Jakarta aja nggak boleh berangkat, karena keluarga takut saya jadi korban penipuan kalo tinggal sendiri di ibukota 🙁

Speak Your Mind

*