Masyarakat Ekonomi Asean dan Ibu-ibu Pelosok

Masyarakat Ekonomi Asean dan Ibu-ibu Pelosok

Screenshot_2016-03-28-15-56-48-1

Setiap pagi, tangis Mumu selalu terdengar. Meski rumah neneknya berada di belakang rumah kami namun suaranya tak bisa terhalangi kebun, empang dan tembok pembatas kebun sekalipun. Sambil memeluk anak sendiri saya selalu merasakan bagaimana jika saya menjadi Mumu, menjadi neneknya yang dititipi untuk merawat Mumu termasuk menjadi ibu Mumu yang katanya bekerja ke luar negeri sejak Mumu usia satu bulan. 

Setiap pagi urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya. Bekerja di ladang ada buktinya, sepetak, sehektar atau selesai semua dan mendapat upah. Lah bekerja di rumah dari bangun tidur sampai tidur dan bangun lagi terus menerus seakan tiada ujungnya.

Di sebagian daerah yang masih jauh dari hiruk pikuk perkotaan, bahkan tugas ibu rumah tangga tidak lagi dilakukan oleh seorang istri atau ibu dari anak-anak dari sebuh keluarga, melainkan dilakukan oleh sang suami alias kepala rumah tangga. Tidak menutup kemungkinan juga tugas ibu itu ujungnya dibebankan kepada ibu, dan atauvibu mertua alias neneknya anak-anak.

Kemana istri atau ibu rumah tangganya? Mereka mencari nafkah. Bukan berangkat pagi pulang sore, melainkan berangkat tahun ini, pulangnya dua tahun kedepan dan atau lebih. Bahkan ada yang tidak pulang sama sekali atau pulang tinggal nama. Begitu mereka menjadi tenaga kerja wanita (TKW) mati-matian demi menafkahi anak dan suami beserta keluarga. Perekonomian lemah yang mendorong mereka berbuat demikian. 

Setahun, lima tahun, hingga puluhan tahun fenomena seperti itu terus terjadi. Semakin berkembang hingga banyak daerah berjuluk Kampung TKW, Kampung Arab dan atau Kampung Timur Tengah gara-gara sebagian besar penduduknýa bekerja ke luar negeri. Hingga moratorium diterapkan dan penerapan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) bergulir begitu saja.

Perekonomian semakin sulit. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan karena minim keterampilan. Pendidikan rendah jadi salah satu kendala untuk diterima kerja. Sementara anak tetap harus makan, biaya hidup terus berjalan. Lah suami? Ikut tidak bisa berbuat apa karena sekian lama terbiasa ongkang kaki, menerima kiriman uang dari sang istri di luar negeri.

Penghasilan dari lahan sawah/kebun tidak punya karena sudah dijual untuk biaya berangkat jadi TKI semula. Tidak bisa balik modal karena hasil keringat istri yang dikirim menguap entah kemana. Habis untuk kebutuhan konsumtif sesaat. Kalaupun rumah sudah berbentuk gedong alias rumah bata, tidak seperti yang dibayangkan istri saat mengirimkan uangnya. Akhirnya gengsi yang menggunung menghadapi apa yang terjadi. Bekerja rendahan malu, kerja yang menghasilkan upah besar pun tidak ada. Tidak ada jalan keluar meski Mumu tak henti-hentinya menangis setiap pagi karena lapar, mau jajan atau mungkin korban pertengkaran orang dewasa.

Sementara di luar sana, di perkotaan yang katanya mencari pekerjaan itu mudah dan karenanya kota jadi tujuan warga pelosok, orang sedang ramai membincangkan persaingan tenaga kerja. Para pekerja pabrik banyak yang diputus hubungan kerja karena mesin telah mengantikannya. Yang lebih menyakitkan hati mereka saat posisi pekerjaan yang selama ini banyak menopang kelanjutan hidup keluarga ditukar oleh orang asing yang katanya lebih pintar, lebih cakap, lebih profesional dan punya sertifikasi.
Kita orang daerah semakin terpojok dan gigit jari.

Tidak ada yang bisa menolong kalau urusannya sudah berkaitan dengan ketetapan pemerintah. Tinggal kembali kepada diri sendiri mau memulainya dari mana. Kalau saya saat merasa cukup waktu merantau di negeri orang dan pulang kampung adalah rasa malu dan gengsi yang lebih dahulu dikesampingkan. Termasuk usaha apa yang akan dijalankan sepulangnya bekerja dari luar negeri.

Persaingan akan selalu ada. Ibu-ibu mantan TKI di daerah tidak usah malu saat peluang usaha harus dimulai dari nol. Kesempatan mengikuti pelatihan yang dilakukan pemerintah atau organisasi sebaiknya dilakukan semaksimal mungkin. Jika sudah terampil dan mahir membuat apapun bisa dijadikan lahan usaha rumahan. Bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan tugas selaku istri, ibu dan bagian dari keluarga besar. Seiring kemajuan jaman meski posisi di rumah namun dengan kecanggihan teknologi usaha berdagang toh ternyata bisa menjangkau seluruh penjuru dunia.

Biarlah orang di kota pusing memikirkan pekerjaan yang diserobot orang. Kita di kampung sibuk saja dengan berbagai peningkatan usaha kecil sendiri. Besar kecil pendapatan tergantung dari bagaimana kita memenej usaha yang kita kelola. Urusan antar negara biarlah para wakil rakyat yang menanganinya. Kita fokus saja pada profesi dan status kita sendiri sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai warga negara yang baik.

Jadilah istri yang mampu menciptakan segala kecanggihan teknologi menjadi peluang usaha. Jadilah ibu yang menjadi madrasah untuk anak disekitarnya. Yang mengantarkan anak daerah mampu bersaing di kota dengan cara persaingan sehat tentunya. Jadi diri sendiri yang mampu menyulap segala kekurangan menjadi kelebihan. Menyadari setiap orang punya kelebihan dan kekurangan maka dari celah itu peluang usaha bisa diciptakan.

Comments

  1. Dengan menjadi blogger, kita bisa menyemarakkan MEA dan mengharumkan Indonesia ya mba..

  2. Orang pelosok juga banyak yang tangguh karena ditempa oleh keadaan yang memerlukan kerja keras dan disiplin tinggi.
    Salam hangat dari Jombang

  3. Nggak perlu malu supaya nggak diserobot, MEA, ya, Teh.

  4. Saya pun yg kerja tetep pengin punya usaha sendiri lho Teh. Sungguh pasar bebas saat ini membutuhkan usaha luar biasa dari kita semua ya agar bisa bertahan hidup.

  5. Semoga dgn adanya perdagangan bebas sekarang ini bikin kita tambah kreatif dan maju ya

  6. Pasar bebas bisa menjadi peluang ya asal kita mau meningkatkan diri, yang berada di pelosok juga selalu bisa bertahan dalam kondisi apapun.

  7. Teh Okti, saya setuju banget dengan pendapat tinggal dari diri kita sendiri mau mulai dari mana. Buang jauh-jauh deh yang namanya gengsi dan malu 🙂

Speak Your Mind

*