Melindungi Hutan dengan HCS Approach Toolkit

Melindungi Hutan dengan HCS Approach Toolkit 

 

 

Cuaca ekstrim –hujan panas berganti sesuka hati– dan seretnya air bersih di beberapa tempat jadi menu berita pembuka bulan Ramadhan. Menyadari dampak tidak baik itu High Carbon Stock (HCS) Approach, meluncurkan HCS Approach Toolkit Versi 2.0. Apa sih toolkit ini dan bagaimana cara menerapkan praktek ‘Non-Deforestasi’ nya?

Awal Ramadhan dibumbui ribut-ribut soal air PAM yang tidak lancar mengalir. Bukan hanya di perumahan tempat kami tinggal di Karang Tengah Cianjur, tapi saudara di Surabaya juga mengeluhkan permasalahan yang sama. Air seret, saat mengalir harus bergiliran dan karena itu aktivitas sehari-hari jadi tidak leluasa. Hidup di Indonesia yang dikelilingi perairan kok ya warganya masih saja kesulitan mendapat air ya?

Sebenarnya tidak perlu bertanya kalau kita sadar dan melihat betapa hutan di sepanjang bumi khatulistiwa ini sudah mulai menghilang berganti oleh hamparan beton, lahan usaha dan hunian manusia. Sejak sekolah dasar kita sudah diterangkan jika penebangan pohon di hutan dilakukan secara berlebihan maka dampaknya akan berakibat kepada kerusakan lingkungan.

Contoh nyata akibat dari penebangan pohon yang tidak disertai penanaman kembali yaitu susahnya menghirup udara segar, rusaknya habitat hutan itu sendiri dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hutan yang ditebang habis akan mengalami pengikisan sehingga penyerapan air berkurang dan tanah menjadi tandus. Kering.

Pengrusakan pohon di hutan secara besar-besaran dan terus-menerus mengakibatkan kepunahan spesies tertentu, perubahan iklim, dan habisnya cadangan air tanah. Jadi saat air PAM seret seharusnya warga tidak perlu ramai bertanya kenapa, karena masalah atau penyebabnya sudah jelas. Hutan sebagai cadangan air sudah rusak.

Padahal begitu banyak kebutuhan manusia yang berasal dari olahan hasil hutan, seperti kayu yang diolah menjadi kertas, tisyu, dan lain-lain, dedaunan, bahkan serat dan kandungan mineralnya. Lalu apa kita harus menghentikan semua itu supaya hutan sebagai paru-paru dunia tetap terjaga?

Ya tidak juga sih. Segala sesuatu akan berdampak jika berlebihan. Begitu juga dengan pengolahan hutan. Hutan akan terjaga kelestarian serta fungsinya kalau dipergunakan sebaik-baiknya sesuai dengan takaran dan kemampuan. Gugur satu tumbuh seribu, saat menebang satu pohon di hutan, cobalah menanam lebih banyak sebagai penggantinya. Tidak harus menanam di hutan besar, paling tidak lakukan dari hal terkecil dan termudah yang bisa kita lakukan. Menanam di pekarangan, halaman dan atau kebun sendiri.

Menanam pohon di kebun sebagai upaya peremajaan hutan lokal

Dan 3 Mei 2017 lalu lahir HCS Approach Toolkit yaitu sebuah metodologi untuk menerapkan praktek non-deforestasi (anti perusakan hutan). Jadi manusia tetap bisa memanfaatkan hutan dengan tidak menyebabkan kerusakan karena toolkit ini berguna untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis.

 

HIGH CARBON STOCK (HCS) APPROACH & PELUNCURAN TOOLKIT VERSI 2.0

Tidak ada kata terlambat karena waktu terus berjalan. Sebagai sumber energi terbarukan, hutan yang sudah sakit masih bisa kita obati, rawat dan perbaharui sehingga fungsi dan keberadaaannya bisa normal kembali. Metode HCS Approach Toolkit lahir untuk melindungi hutan alam. Tidak hanya itu, metodologi ini juga dapat mengidentifikasi wilayah dan daerah hutan mana saja yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara baik dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Lahirnya metodologi hebat ini berkat kepedulian dan kerjasama perusahaan industri dan organisasi non pemerintah alias lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli akan lingkungan khususnya kondisi hutan. Terbentuklah HCS Approach Steering Group yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia. Beranggotakan 9 anggota executive yaitu perusahaan Asia Pulp & Paper, Forest Peoples Programme, Golden Agri-Resources, Greenpeace, Rainforest Action Network, TFT, Unilever, Wilmar International Ltd., dan WWF.

Ditambah anggota non executive diantaranya perusahaan Asian Agri, BASF, Conservation International, Daemeter, EcoNusantara, Forest Heroes, Golden Veroleum (Liberia) Inc., Mighty, Musim Mas, National Wildlife Federation, New Britain Palm Oil Ltd., Proforest, P&G, Rainforest Alliance dan Union of Concerned Scientists.

Beberapa member HCSA

Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group menjelaskan bahwa pengrusakan hutan (deforestasi) secara pembabatan maupun pembakaran demi keuntungan manusia sebenarnya cara itu sudah ketinggalan jaman. Karena sekarang HCS Steering Group telah meluncurkan metode praktis dan terbukti kuat secara ilmiah. Metode mutakhir dimana manusia bisa mengambil manfaat hutan dengan tidak merusaknya (Non Deforestasi)

Adapun toolkit yang dimaksud bisa dilihat  dan diunduh di sini

 

HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini berisi modul untuk mensosialisasikan dan menerapkan praktek pengelolaan hutan dengan cara tidak merusaknya secara sistematis dan sejalan dengan metode pelestarian hutan lainnya. Toolkit ini terbagi menjadi 7 modul.

Dalam Toolkit dijelaskan langkah pertama membuat HCS Forest Map yang memerlukan empat modul pendukung. Modul pertama adalah pendahuluan mengenai HCS Approach itu sendiri dan modul kedua berisi edukasi Team HCS Approach terkait sosialisasi dengan penduduk setempat. Modul ketiga tentang pengintegrasian HSC Approach dengan penelitian areal lahan dan penduduk setempat dengan penilaian HCV (High Coservation Values). Modul keempat berisi pembagian lahan hutan berdasarkan vegetasinya. Pada bagian ini Team sudah mendapatkan HCS Forest Area dengan keterangan ukuran dan hubungan antar HCS Forest yang akurat.

Langkah kedua Membuat Analisa HCS Forest Patch yang dikerjakan berdasar modul 5-7. Saat memetakan lahan konservasi dan penggunaan lahan diperlukan analisa HCS Forest Patch, merekrut komunitas terkait dan mengontrol kualitas HSC Approach. Dalam pelaksanaannya mengambil manfaat dari hutan dipergunakan skala prioritas.

Pembagian wilayah hutan berdasarkan modul toolkit

Jadi saat hutan ditebang dan diambil hasilnya, jika terencana dan diperhitungkan besar kemungkinan hasilnya akan lebih baik dan tidak merusak kondisi hutan itu sendiri. HCS Approach Toolkit merupakan sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Sebagai masarakat kecil saya sangat mengapresiasi upaya dari HCS Approach ini. Meski hasilnya mungkin belum bisa saya dan kita rasakan saat ini, tapi paling tidak ada harapan untuk anak-cucu kita kelak. Tidak bisa instan dalam memulihkan hutan yang sudah sakit, tetapi dengan adanya kepedulian dan upaya ini, setidaknya rakyat kecil memiliki harapan dan ikut mendokan, semoga program metodologi ini berjalan lancar dan sukses.

Ayo dukung pengembalian kelestarian hutan kita melalui metodologi  HCS Approach Toolkit Versi 2.0 dengan melakukan hal paling kecil yang kita bisa. Seperti mendoakan yang terbaik semoga programnya berjalan lancar, tidak membuang sampah sembarangan dan ikut menanam pohon setidaknya bunga di pekarangan untuk penghijauan. Dan jangan lupa share informasi ini supaya lebih banyak manfaatnya. Paling tidak mengajarkan kepada anak bagaimana dampak kalau hutan rusak dan bagaimana cara termudah ikut menjaga serta melestarikannya.
Sumber foto dan materi:

Situs HCS Approach

Akun Twitter HCS Approach (@Highcarbonstock)

Akun Youtube (High Carbon Stock Approach)

Comments

  1. Masyaallah.. Betul banget. Tdk ada kata terlambat. Ayo kita obati.. Alhamdulillah tahun ini gada asap pembakaran hutan lagi ya

    • tetehokti says:

      Semoga semakin banyak perusahaan perkebunan misalnya sawit yg peduli dan menggunakan metode ini maka kerusakan hutan bisa diminimalisir ya 🙂

  2. Terima kasih mba sudah mau berbagi informasi dan ilmunya. Saya baru tahu lho program ini. Bagus programnya dan semoga kita pun semakin bisa melestarikan hutan untuk kelangsungan hidup anak cucu kita nanti juga

  3. hutan kita memang banyak yg sudah rusak…memang harus ada yg peduli y mbak…untuk anak cucu kita

    • tetehokti says:

      Kalau masih mau tinggal di bumi memang jadi tanggung jawab penghuninya hehehe
      Sayangnya yang sadar akan hal itu yg masih kalah sedikit

  4. Syukurlah ada HCS Approach toolkit, mudah-mudahan tidak ada lagi pengrusakan hutan yang dapat merugikan keberlangsungan hidup manusia.

  5. Aaahhh, aku suka hutan, seneng banget kalo jalan2 ke sana rasanya segar. Hayu atuh gathering lagi ke Tahura eeh..

    Semoga program ini berjalan dengan lancar ya Teh, biar hutannya kelak bisa dinikmati anak, cucu, cicit kitaa …

    • tetehokti says:

      Iya Teh, kami juga sebagai orang gunung alias urang leuweung sangat senang dengan adanya program ini. Setidaknya ada harapan untuk generasi yang akan datang. Penyelamatan hutan sama dengan penyelamatan bumi kita 🙂

  6. Semoga semua perusahaan paham akan pentingnya perlindungan alam khususnya hutan ya mbak. Ini jg demi masa depan perusahaan itu sendiri TFS

    • tetehokti says:

      Iya Mbak salut sama perusahaan yang tidak hanya memikirkan keuntungan tapi juga keselamatan alam nya… kita dukung ya 🙂

  7. Tidak ada kata terlambat karena waktu terus berjalan. Sebagai sumber energi terbarukan, hutan yang sudah sakit masih bisa kita obati, rawat dan perbaharui sehingga fungsi dan keberadaaannya bisa normal kembali. <– Setuju banget, Teh. Tulisan yang menggugah, menginspirasi. Semoga program ini berjalan lancar, dengan dukungan semua pihak, ya!

  8. Baru tahu aku teh, ada pelindungan hutan oleh HCS Approach ini.
    Tentunya mendukung banget aku, dengan yang dilakukan HCS.
    Semoga semua pihak yang melindungi dan melestarikan hutan selalu diberi kelancarannya.

  9. Informasi yg bermanfaat sekali.kadang org menganggap remeh arti pemting hutan bagi kehidupan. Semoga program ini membawa dampak yg besar

  10. Betul mbak tidak ada kata terlambat, kalau kita menanam sekarang, anak cucu kita akan mendapatkan manfaatnya.

  11. Saya pun mengapresiasi kehadiran HCS approach toolkit ini. Karena sangat berharap hutan tetap bisa dimanfaatkan tapi tanpa terganggu dan terusik kelestariannya ya. Tentunya dengan dukungan banyak pihak demi anak cucu kita ya Teh. Salam kenal

  12. Semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan, semakin lama juga kita memperpanjang usia hidup hutanseperti metodo di bumi ini. Semoga dengan dukungan adanya metode HCS spt diatas, dapat diterapkan / di implementasikan sbg mana mestinya. Shg mereka makhluk hidup yang tinggal di dalamnya dapat hidup damai dan akan terus lestari selama, lama, lama, lama lamanya 😀

  13. Semoga dengan kehadiran teknologi terbaru ini, hutan bisa leatari

  14. deddyhuang.com says:

    sekarang udah banyak hutan ditebang guna kepentingan perusahaan, padahal kalau hutan lebat ya suhu pun jadi adem.

Speak Your Mind

*