Melirik Kesegaran Pasar Tradisional

Melirik Kesegaran Pasar Tradisional

WP_20150804_06_21_29_Pro

Selepas subuh, kami bertiga segera mengenakan jaket dan bersiap berangkat. Tidak terasa sudah menginjak hari pasar lagi. Itu artinya hari belanja untukku dan warga Kecamatan Pagelaran tempat kami tinggal di bagian selatan Kabupaten Cianjur ini.

Kenapa harus sudah bersiap di pagi buta? Karena pasar terletak di “kota kecamatan” dan pasar di kecamatan kami tidak setiap hari ada, melainkan di hari-hari tertentu saja. Karenanya bisa dipastikan orang yang akan berbelanja ke pasar bakalan banyak berjubel. Bisa saja kami datang agak siang, namun jangan menyesal jika apa yang akan kami beli sudah habis, ludes diborong orang.

Pedagang di pasar tradisional rata-rata sudah pada sepuh. Tapi mereka semangat untuk terus berdagang demi kelangsungan hidup keluarga

Pedagang di pasar tradisional rata-rata sudah pada sepuh. Tapi mereka semangat untuk terus berdagang demi kelangsungan hidup keluarga

Tidak hanya ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja ke pasar untuk kebuthan keluarga sehari-hari, namun juga para pengusaha warung kecil yang akan mengecer lagi barang dagangannya di kampung-kampung tempat mereka tinggal. Karenanya waktu hari pasar adalah hari dimana sebenar-benarnya pertemuan antara penjual dan pembeli.

Jangan dikira pasar tradisional yang dimaksud adalah pasar yang tertata rapi, terletak di jalur nyaman, atau memiliki kelengkapan fasilitas umum sebagaimana namanya pasar tradisional yang berada di kota besar, yang peresmiannya dibuka oleh bupati, walikota, menteri dan atau bahkan presiden. Pasar tradisional kecamatan kami adalah pasar yang terdiri dari lapak-lapak pribadi para pedagang yang kebanyakan terbuat dari balai-balai bambu.

Musim kemarau ini pete sudah susah dicari. Tapi di pasar tradisional masih bisa ditemui. mari dipilih...

Musim kemarau ini pete sudah susah dicari. Tapi di pasar tradisional masih bisa ditemui. mari dipilih…

Tidak ada tata kelola ruang yang memisahkan mana pasar basah, mana pasar kering, mana pasar pakaian dan atau makanan jadi. Yang ada semua bersatu. Sesama pedagang berlomba mendapatkan lapak demi bisa menjalankan usaha jual belinya.

Uniknya, di pasar tradisional ini masih bisa menjumpai bahan-bahan makanan yang benar-benar tradisional. Dan sejujurnya, ini yang aku suka sekali. Di pasar tradisional ini dengan mudah aku bisa mendapatkan sayuran segar non pestisida, karena penjualnya mengambilnya langsung dari kebun di pekarangan rumah atau ladang mereka.

Menunggu pembeli, Kakek ini semoga dagangannya yang tak seberapa banyak cepat laris

Menunggu pembeli, Kakek ini semoga dagangannya yang tak seberapa banyak cepat laris

Masih di pasar tradisional ini aku dengan mudah bisa mendapatkan sayuran atau bahan makanan yang bisa dibilang langka. Bahan yang sudah sulit ditemukan di pasar modern. Jika orang sudah tidak tahu apa itu “rendeu” atau daun “putat” maka di pasar ini dengan mudah masih bisa mendapatkannya. Tapi yaitu tadi, jangan kesiangan karena siang sedikit, bisa keburu habis dibeli orang.

Lucunya, kalau bahan yang dikategorikan langka masih bisa ditemukan di pasar tradisional ini, justru kalau daging sapi atau daging kambing tidak ada yang jual di pasar tradisional ini. Selain harga mahal mungkin juga karena daya beli masyarakat terbilang rendah. Penjual daging sapi dan atau kambing biasanya ada saja kalau menjelang hari besar seperti lebaran. Itu pun pedagang lokal, yang mana menyembelih sapi di tempat, lalu menjualnya langsung kepada pembeli.

pembeli bisa dengan bebas memilih sayuran yang diinginkan, termasuk menimbang sendiri berapa banyak yang akan dibeli. Sekilo... dua kilo..?

pembeli bisa dengan bebas memilih sayuran yang diinginkan, termasuk menimbang sendiri berapa banyak yang akan dibeli. Sekilo… dua kilo..?

Beberapa hari lalu aku iseng masak jantung pisang dari pekarangan rumah. Karena suami bilang enak, maka aku berencana mau kembali membuatnya. Iseng pula di pasar tradisional aku mencari jantung pisang. Lah… ternyata ada! Jantung pisang raja bulu yang ukuran besarnya tiga kali lipat dari jantung pisang yang aku masak kemarin, dijual seharga sepuluh ribu rupiah saja untuk 3 buah! Murah bingit!

Harga sayur mayur di pasar tradisional terbilang stabil. Tomat dan bawang daun segar aku beli empat ribu per kilo. Sayur-sayuran lain seperti terong, jagung, sawi, dengan kondisi bagus dan segar masing-masing enam ribu perkilo. Melinjo seperempat kilo tiga ribu rupiah dan cabe rawit kecil atau lombok lima ribu untuk satu ons. Untuk buah-buahan seperti jeruk manis, sudah sama rata harga sepuluh ribu per kilonya. Untuk menu makan selama tiga hari, tidak lebih dari seratus ribu menghabiskan dana belanja.

Sawah yang baru saja panen, menghampar di belakang pasar. Sungai Cijampang pun mengalir jernih

Sawah yang baru saja panen, menghampar di belakang pasar. Sungai Cijampang pun mengalir jernih

Selain suhu pagi hari yang membuat suasana pasar tradisional terasa segar, juga yang membuatku merasa segar adalah hamparan sawah dan sungai Cijampang yang mengalir di belakang lokasi pasar. Hamparan menghijau sangat indah dipandang mata. Kini musim kemarau, yang tampak pemandangan belakang pasar tradisional hanya bentangan warna coklat yang tak kalah memikat.

Sampah menjadi lantai pijakan, melapisi tanah pasar tradisional

Sampah menjadi lantai pijakan, melapisi tanah pasar tradisional

mau beli pakaian, beli sayuran atau kebutuhan lain, tempatnya masih disitu juga.

mau beli pakaian, beli sayuran atau kebutuhan lain, tempatnya masih disitu juga.

Hanya bagi yang tidak terbiasa masuk ke pasar tradisional kecamatan kami, mungkin akan merasa tidak nyaman karena jalan sempit, tidak rata dan masih beralaskan tanah merah. Sekarang saat musim kemarau seperti tidak menjadi masalah. Tapi kalau musim hujan datang, jangan dikira kalau masuk bersih, keluar seperti habis membajak sawah karena kaki dipastikan penuh dengan lumpur basah.

Hahaha… masih tertantang untuk melirik kesegaran pasar tradisional ini?

sayuran segar, hasil berburu di pasar tradisional

sayuran segar, hasil berburu di pasar tradisional

Speak Your Mind

*