Memperpanjang Umur dengan Tulisan

Memperpanjang Umur dengan Tulisan

Iseng perhatikan teman-teman. Yang mudik, yang berkunjung ke sana ke mari, yang traveling ke berbagai lokasi wisata, semua bahagia dengan liburan lebarannya. Libur sampai update blog nya pun ikut libur. Apa karena saat liburan ini tidak ada undangan even berbayar yang diwajibkan menulis sehingga menulis pun ikut libur, ya?

Saya baru saja baca secara acak bukunya Salim A. Fillah yang berjudul “Abadilah Cinderajiwa”. Biasa sambil menemani Fahmi mau tidur, jadi bacanya tidak menyeluruh. Saat itu saya jadi ingat seorang teman, Kang Lucky yang sekarang tinggal di Bandung.

Hal menarik bagi saya dan ingin menuliskannya adalah kisah kami. Saya dan Kang Lucky belum pernah bertemu. Kang Lucky justru mengaku lebih dulu mengenal saya melalui tulisan-tulisan saya yang katanya dia dapat lagi dari Pak Fadjroel Rachman, seorang Dewan Pakar PP I A ITB I ILUNI UI yang tinggal di Jakarta.

“Nih tulisan orang Cianjur, lho!” Demikian kurang lebih kata Pak Fadjroel kepada Kang Lucky seperti diceritakan kepada saya. Kang Lucky sendiri memang berasal dari Cibeber Cianjur dan setelah lulus ITB bekerja dan berkeluarga di Bandung.

Sejak itu Kang Lucky mengenal saya. Sebaliknya saya juga menjadi tahu meski saya dan Kang Lucky belum pernah berjumpa. Hanya tulisan-tulisan yang saling mempertemukan kami satu sama lain dalam dunia maya.

Kembali ke buku Salim A. Fillah yang saya baca, ada bahasan Salim A. Fillah yang menuliskan tentang pentingnya sebuah tulisan dalam dakwah. Karena begitu pentingnya, Salim A. Fillah mengutip kisah Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah ketika terpenjara.

Satu permintaan Ibnu Taimiyah kepada murid-muridnya ketika di dalam penjara ialah “Tolong lemparkan arang-arang itu ke dalam. Sungguh aku ingin menulis. Sebab, beberapa hari ini, sultan telah melarang penjaga memberiku pena, kertas, dan tinta.” Demikian permintaan nya.

Duh! Segitunya ya. Luar biasa! Keterbatasan tidak membuat surut semangatnya untuk terus bisa menulis.

Salim A. Fillah menuliskan pada bukunya halaman 300, paragraph pertama baris terakhir. “Hari ini, dalam catalog hampir semua perpustakaan orang menjumpai nama Ibnu Taimiyah. Atau di toko buku. Ada. Selalu ada.”

Saya, kita, sebagai manusia zaman now tentunya belum mengenal Ibnu Taimiyah. Karena Ibnu Taimiyah memang hidup lebih dahulu daripada kita. Sekitar tahun 700an Hijriah. Koreksi ya kalau saya salah. Tapi semua mengakui, nama Ibnu Taimiyah seakan begitu akrab ditelinga kita, bukan? Kenapa ya?

Tidak lain karena karya-karya Ibnu Taimiyah yang berupa tulisan itu. Beliau menjadi seperti hidup dnegan semua karya tulisannya walau raganya telah tiada. Seperti orangnya ada saja berkarya padahal telah meninggalkan kita.

Dengan tulisan orang bisa dikenal oleh generasi selanjutnya. Walau itu seratus, bahkan ribuan tahun setelahnya. Dengan menulis, orang seperti Ibnu Taimiyah dapat dikenal oleh orang yang hidup ribuan tahun setelahnya. Orangnya boleh tiada tapi karya tulisnya tetap abdi dan selalu dijadikan ilmu.

Mungkin di situ maksud dari “Menulislah, niscaya umurmu akan panjang.” Melalui tulisan yang kita buat, kita akan dikenal oleh generasi selanjutnya dengan tulisan-tulisan kita itu.

Jika dalam penjara saja dengan segala keterbatasan arang bisa jadi alat menulis, malu rasanya saya gara-gara libur lebaran maka libur pula menghadiri even kegiatan menulisnya. Padahal jangankan kertas dan alat tulis, gadget serta koneksi internet pun hampir semua orang kini memilikinya.

Comments

  1. iya, dengan menulis kita akan selalu ada, selalu ada untuk mereka yang merindukan kita walaupun nanti ketiadaan kita di dunia ini

  2. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
    ― Pramoedya Ananta Toer

    Liat tulisan teh okti jadi teringat kata-kata kakak Pramoedya.., dan saya jadi terjewer karena baru punya 3 buku saja..

  3. Klo menulis melepas stres, membuat hidup jadi lebih bahagia, menyembuhkan, aku sudah membuktikan. Klo memperpanjang umur belum sih, Mbak… Tapi apa pun nanti hasilnya, terus menulis ya dan semoga kita diberi kesehatan selalu biar panjang umur

  4. Mba.. baca judulnya aja dah buat saya terpana.. bener banget ya mba dengan tulisan orang bisa dikenal oleh generasi selanjutnya. Seseorang boleh tiada tapi karya tulisnya tetap abdi dan selalu dijadikan ilmu. Yuk ah tetap semangat menulis

  5. Baca postingan ini teringat akan sastrawan besar Pramudya Ananta T yang mengatakan bahwa “menulis adalah keabadian., sepanjang ia tidak menulis ia akan hilang ditelan zaman.”

  6. yuk terus menulis! 🙂

  7. Dan tentu saja menulisnya harus tulisan yang bermanfaat supaya amalnya mengalir terus utk kebaikan ya teh…
    Soalnya tak jarang bnyk penulis tapi yang ditulis maaf, “sampah”… kalau gak salah tulisan2 itu jg akan dihisab nanti, jd mari bawa bekal yg baik2 #lagibener hehe

  8. uhuk! agak menohok nih teh buatku.. sedikit terlena dengan libur lebaran jadi sempet lama gak nulis.. dari jaman belum kenal blog, dulu aku sering nulis.. entah puisi atau naskah drama.. emang sih, rasanya tuh jadi tenang.. kadang ya lagi emosi pun seperti tercurah kemarahannya lewat tulisan.. kelar nulis, hilang emosinya, magic! ❤️

  9. selain memperpanjang usia , nulis juga bikin kita sehat, nambah teman dan juga smart. palagi kalo bisa ngeluarin ide buat kebagian orang lain

  10. Dengan menulis kita bisa mengurangi stress, menjadi ladang berbagi informasi dan silaturahmi juga sih krn kita juga jadi banyk punya kenalan teman meskipun dunia maya

  11. Elisa Koraag says:

    Saya cuma meyakini, tulisan Kita akan menjadi jejak keberadaan Kita. Menulis karena Saya ingin menulis.Terima kasih untuk tulisan ya Okti.

Speak Your Mind

*