Mengarang Membawa Nikmat 

Mengarang Membawa Nikmat

Beberapa puluh tahun lalu paling suka kalau masuk sekolah setelah libur panjang. Yang dinanti adalah pelajaran Bahasa Indonesia dimana ada sub materi yang isinya mengarang. Siswa diharuskan mengarang kisah pengalaman saat liburan. Aih suka banget deh!

Entahlah jika sebagian murid merasa malas atau bete kalau disuruh mengarang, saya mah malah suka sendiri. Tidak jarang kalau teman-teman diam saja melamun karena merasa bingung mau nulis apa, sementara saya terus ngagudrud dan tiba-tiba kertas yang disediakan sudah penuh bolak balik. Sementara apa yang ingin saya sampaikan dalam karangan itu belum kelar semua. Maju ke depan dan minta kertas tambahan sering saya lakukan. Itulah “ciri khas” saya dengan pelajaran mengarang. Baik saat SD, SMP maupun SMA (meski versi karangannya lain) dalam soal menulis karangan atau prosa saya merasa suka tertantang.

Nilai di atas rata-rata untuk mengarang selalu saya dapatkan. Meski tetap saya minta bimbingan dan koreksi dari guru-guru Bahasa Indonesia kala itu.

Tidak akan lupa Bu Nani, Bu Emi, Bu Nina dan Pak Dikdik saat SD di Bandung, Pak Hendi dan Bu Suntini ketika SMP di Tasikmalaya dan Pak Anwar serta Bu Uus di SMA Sukanagara, Cianjur.

Berbekal kebiasaan mengarang eh menulis itu, ketika saya bekerja di luar negeri (sebagai TKW) pun tidak pernah saya lupakan. Saya malah banyak kesempatan untuk menulis dan mengirimkannya kepada media cetak. Sampai saya jadi kontributor beberapa media cetak sekaligus.

Berkah dari menulis dan terus mengasah kemampuan, belajar sana sini baik offline maupun online demi bisa mengikuti arus dan perkembangan zaman dari status kontributor saya naik pangkat dibayar jadi Pegawai Tetap. Duh sujud sukur saya atas semua karunia dan kenikmatan ini.

Disaat yang lain harus menyertakan ijazah sarjana untuk dapat bekerja sebagai jurnalis, bermodalkan kemampuan dan pengalaman saya bisa melewati syarat terberat itu.

Mantan TKW jadi jurnalis, adalah sebuah perjalanan hidup yang jadi mukjizat bagi saya. Bisa menerima gaji per bulan, dapat tunjangan dan asuransi ketenagakerjaan selayaknya bekerja di perusahaan sebagaimana umumnya itu sebuah hal yang seolah tidak mungkin saya capai.

Kerja keras dan komitmen yang selama ini saya tanam sejak menjadi TKW di Singapura, Hong Kong dan Taiwan membuahkan hasil dipercaya oleh majikan menjadi bagian penggerak perusahaannya.

Saya jadi mikir, kalau saja saya tidak suka menulis, tidak mengasah terus kemampuan dan terus belajar belum tentu pekerjaan dan karir ini bisa saya capai.

Dampaknya kepada kehidupan tentu saja nyata adanya. Saya perempuan desa menikah dengan guru honorer yang mendapat gaji 150 ribu per bulan bisa apa kalau tidak dapat penghasilan tambahan dari hasil menulis ini. Pun sekarang ketika suami sudah punya gaji tetap saya tetap bisa membantu perekonomian keluarga dan keluarga saya. Ibu yang menjadi tanggungan saya alhamdulillah bisa saya penuhi kebutuhannya.

Hasil dari karir dan pekerjaan sendiri memang beda rasanya dibanding menerima dari suami. Meski untuk membiayai ibu saya suami saya pun tidak pernah hitung-hitungan.

Kalau sudah begini, nikmat mana lagi yang harus saya dustakan? Saya hanya terus berdoa dan bersyukur atas kebaikan majikan yang memberikan saya pekerjaan ini. Misalkan saya kena PHK sekalipun kini saya tidak merasa bingung lagi. Kenikmatan selama 10 tahun terakhir ini sudah melebihi segalanya.

 

Comments

  1. Saya juga paling senang kalau pelajaran Bahasa Indonesia diberi tugas mengarang bebas kita bisa menuliskan apa saja yang ada dikepala kita

  2. Inspiring mbaa. Semoga saya juga bisa terus menulis.

  3. sekrang masih jadi kontributor mana Teh? Aku udah jarang kirim ke media Hongkong lagi hehehe

  4. Salut ! 🙂

    Can’t speak more teh okti ^^
    Inspiring banget tulisan ini.. Jadi kayak ketampar karna akhir akhir ini lebih “Jarang” mengarang lagi buat konten di blog. HIhi

  5. Kerennnn banget teh, jadi menginspirasi banget tulisannya. Saya malah nggak pede kalo mau mengarang hehehe

  6. Hhahaaa..aku ga suka pelajaran Bahas Indonesia teh, dulu mah ga bisa mengarang, eh sekarang malah sering mengarang cerita jadi blogger hahhaa…

  7. Aku juga suka kalo disuruh mengarang. Kertas selembar rasanya selalu kurang. Adaaaa aja yang pengen diceritain..

  8. Keren uey. Memang ya, kalau diasah terus lama-lama pasti jadi serbaguna.

  9. Saya juga suka pelajaran Bahasa Indonesia diminta mengarang. Lbh suka lagi kalau ujian essay ketimbang pilihan, sehingga apa yg saya pikirkan nyampe semua ke penguji 😀

  10. Tabarakallahu teteeh…
    Aku selalu suka tulisan teteh yang menginspirasi.

    Semoga makin banyak karya dan in syaa Allah hasil tidak akan mengkhianati kerja keras yaa, teh…

  11. Hihi, aku juga suka sub pelajaran Bahasa Indonesia yang ini, Teh. Mengarang. Maka aku akan mengarang bebas sebebas-bebasnya, hingga tak terasa menghabiskan beberapa halaman buku. Haha. Dan selalu dapat nilai 9 atau 10. Tergantung gurunya. Atau saking panjangnya ga dibaca lagi, langsung kasih nilai aja, entahlah. Haha.

    Bener banget Teh Okti, menulis dan terus menulis, mengarang dan terus mengarang itu, mengantarkan kita ke sini, jadi saling mengenal, jadi blogger dan bisa menuangkan kisah kehidupan maupun pembelajaran yang semoga bermanfaat bagi para pembaca kita ya. 🙂

    Keep writing, do posting, Teh. Semangat!

  12. Inspiratf bgt Teh, waktu kuliah S1 kemaren aku juga jdi salah satu kontributor salah satu media cetak di bengkulu dan hasilnya lumayan utk uang jajan hehe

Speak Your Mind

*