Mengejar Piknik

Minggu 27 September 2015 suami harus ke Bandung ada workshop yang diselenggarakan IGI (Ikatan Guru Indonesia). Aku segera mempersiapkan diri untuk ikut bersama Fahmi, anak kami. Bukan ikut acara workshopnya, melainkan ikut jalannya. Kami mau piknik ke Bandung!

Kami tinggal di pelosok Cianjur. Dengan jalan berbatu dan berubah menjadi kubangan jika musim hujan. Jarak ke kota Cianjur sekitar 3 jam kendaraan. Kampungku di perkebunan teh, sawah, dan sisanya perkebunan palawija.

Nebeng perjalanan sama suami yang sedang ada acara di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat pun, kami menganggapnya perjalanan piknik :) Kasian ya Fahmi... kapan ia bisa merasakan perjalanan piknik yang "sesungguhnya"...

Nebeng perjalanan sama suami yang sedang ada acara di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat pun, kami menganggapnya perjalanan piknik 🙂 Kasian ya Fahmi… kapan ia bisa merasakan perjalanan piknik yang “sesungguhnya”…

Suamiku bekerja sebagai guru honorer. Dengan penghasilan sangat minim maka ia harus bekerja “serabutan” demi bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Pagi suami berangkat menuju SMP sekitar satu jam dari rumah. Sampai dhuhur mengajar, tidak langsung pulang. Melainkan langsung ke Madrasah Aliyah (setingkat SMA) untuk kembali mengajar. Baru pulang sekitar jam lima sore. Begitu setiap hari rutinitasnya, dari Senin sampai Sabtu. Full.

Kebersamaan keluarga kecil kami terbilang sedikit. Jelang magrib sampai isya, suami juga tidak di rumah. Ia di mesjid menemani anak-anak mengaji. Karenanya intensitas pertemuan kami sangat kurang. Hari Minggu baru kami bisa berkumpul. Itu pun kalau suami tidak ada acara.

Karenanya saat suami ada acara yang cukup jauh, aku memaksakan untuk ikut. Suami kadang merasa keberatan karena kasihan anak masih kecil. Tapi sisi lain ia senang hati mengajak aku dan Fahmi. Kami menganggap perjalanan ke luar kota seperti itu sebagai piknik. Lucu kan ya?

Jika orang lain mau piknik itu segala sesuatunya lebih dulu direncanakan, maka kami cukup dadakan. Jika bagi yang lain piknik itu melihat keindahan alam, ketenangan suasana, maka untuk kami adalah hal sebaliknya. Masalahnya ya karena faktor ekonomi dan kondisi kami. Itu aja.

Minggu bisa berangkat bersama-sama menaiki motor butut adalah hal yang sangat jarang kami lakukan. Selama perjalanan Fahmi yang sebentar lagi berusia 3 tahun berceloteh mengomentari atau bertanya tentang yang dilihatnya. Saat itu aku dan suami dengan sabar meladeninya. Sungguh suasana seperti itu sangat sulit kami dapat.

Anak senang saja dibawa perjalanan jauh meski kena angin, hujan, panas dan macet. Hal itu jarang dilewati bersama. Makanya selama perjalanan itu kami menikmatinya saja bersama :) Ini gaya "Piknik kami yang nyeleneh, mungkin"

Anak senang saja dibawa perjalanan jauh meski kena angin, hujan, panas dan macet. Hal itu jarang dilewati bersama. Makanya selama perjalanan itu kami menikmatinya saja bersama 🙂 Ini gaya “Piknik kami yang nyeleneh, mungkin”

Keindahan kebun teh tidak aneh bagi kami yang sehari-hari berada diantara hamparannya. Mendapati suasana hening, tenang, Fahmi seolah sudah bosan, hari-hari dari pagi sampai malam kebanyakan hanya bermain sendiri. Kalaupun minta ditemani itu saat aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Fahmi baru girang dan banyak bertanya saat melihat antrian kendaraan yang terjebak kemacetan. Kami baru merasa berada di suasana yang berbeda manakala hiruk pikuk itu kami jumpai. Cukup nyeleneh, bukan?

Perjalanan panjang penuh resiko itu kami lakukan karena aku dan suami merasa kebersamaan (piknik) itu sangatlah penting. Khususnya demi kebaikan perkembangan Fahmi yang masih kecil. Tiba di Kantor Dinas Pendidikan Prov. Jawa Barat, suami langsung masuk ke aula Dikmen. Aku dan Fahmi menunggunya seharian penuh, sampai selesai.

Apa tidak jenuh?

Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, khususnya untuk kenyamanan Fahmi. Dari makanan kesukaannya, mainan yang disukainya, sampai bantal selimut bobo siangnya. Masih pagi aku ajak Fahmi berkeliling gedung yang sangat luas. Bangunan bertangga cukup asing bagi Fahmi (di kampung tidak ada, hehe!) dia suka dan ingin mencobanya bolak balik.

Aku bawa Fahmi menyapa petugas satpam. Sekalian aku bilang kalau sampai sore aku dan anak akan berada di sekitar gedung menunggu suami. Para satpam pun mengiyakan. Malah memberikan bantuan apa yang diperlukan Fahmi. Termasuk memberikan informasi lokasi mesjid, toko, dan memberitahukan arena bermain yang berada di belakang gedung.

Bersama bola di sebuah halaman parkir gedung yang sangat bagus sudah membuat anak merasa berada di dunia lain. Apalagi kalau "benar-benar piknik" ke lokasi wisata yang sesungguhnya ya. Duh, maafkan orangtuamu ini, Nak...

Bersama bola di sebuah halaman parkir gedung yang sangat bagus sudah membuat anak merasa berada di dunia lain. Apalagi kalau “benar-benar piknik” ke lokasi wisata yang sesungguhnya ya. Duh, maafkan orangtuamu ini, Nak…

Fahmi senang bermain ayunan, perosotan yang ada di Taman Bermain itu. Kebetulan kosong karena Minggu. Fahmi bermain menikmati permainan yang di kampung belum pernah dijumpainya. Saat aku tanya mau sekolah TK tidak? Nanti di TK juga ada permainan serupa. Dengan semangat Fahmi menjawab: “Mau, Bu!”

Menjelang bobo siang aku membawa bantal dan selimut. Setelah makan, mencuci tangan dan kakinya. Aku temani Fahmi tidur di tempat solat perempuan. Hingga dhuhur datang, ayahnya keluar beristirahat. Saat Fahmi bangun, sebelum masuk aula Dikmen melanjutkan workshopnya sempat bermain bola dulu di lapangan parkir yang kosong.

Kami tetap diam di mesjid. Membaca/melihat buku bergambar, main mainannya dan sesekali jalan di halaman sambil memperhatikan pesawat terbang yang tampak sangat besar karena terbang masih rendah. Fahmi tampak asyik-asyik saja. Tidak bosan, tidak rewel. Paling minta digendong saat jumpa orang asing yang tidak kuperkenalkan siapa.

Piknik sangat murah meriah dan tidak aneh. Jauh-jauh perjalanan lima jam hanya buat main perosotan? Apa di kampung tidak ada?

Piknik sangat murah meriah dan tidak aneh. Jauh-jauh perjalanan lima jam hanya buat main perosotan? Apa di kampung tidak ada?

Sampai ashar, aku mulai berkemas-kemas semua perbekalan anak. Jam empat saat suami selesai acara aku dan Fahmi juga harus sudah siap. Ada beberapa ibu-ibu peserta workshop yang bilang kok anaknya pinter ya, mau nungguin ayahnya dengan sabar. Hihi… mereka tidak tahu kalau kami menikmati suasana baru yang sebenarnya kami anggap sedang piknik.

Setelah selesai acara kami segera naik sepeda motor untuk mamulai perjalanan pulang. Tidak bisa mampir ke mana-mana dulu meski di Bandung banyak lokasi wisata yang sangat terkenal. Setelah mengejar piknik kali ini kami mengejar waktu. Berusaha untuk sampai di kampung paling tidak tengah malam. Agar suami bisa istirahat walau sebentar, sebelum senin paginya harus sudah siap kembali sekolah untuk mengikuti jalannya upacara.

Tidak bisa tidak masuk sekolah meski baru saja sampai dari perjalanan luar kota menggunakan sepeda motor yang sangat melelahkan. Karena kalau tidak masuk, honor suami yang hanya beberapa ribu perjam nya itu akan dipotong pihak sekolah. Begitulah nasib honorer di daerah.

Perjalanan nebeng karena suami ada acara –yang kami sebut piknik ini—hanya kami lakukan pada kota terdekat dari Cianjur saja, seperti Sukabumi, Bogor dan Bandung. Selain dari itu biasanya kami tidak berani memakai sepeda motor. Pilihannya suami naik kendaraan umum, aku dan Fahmi terpaksa tidak ikut (piknik).

Suatu saat kami ingin membawamu liburan ke Bogor, Nak. Merasakan piknik yang sebenarnya. Banyak binatang yang belum kamu lihat langsung di Taman Safari, Bogor salah satunya...

Suatu saat kami ingin membawamu liburan ke Bogor, Nak. Merasakan piknik yang sebenarnya. Banyak binatang yang belum kamu lihat langsung di Taman Safari, Bogor salah satunya…

Kata piknik atau tamasya menjadi sebuah kata yang mewah bagi saya dan keluarga. Piknik identik dengan main, jalan-jalan, berbekal uang dan atau makanan yang cukup sampai penginapan yang memadai. Piknik harus menjadi sebuah acara yang menyenangkan dan membawa kebaikan. Piknik itu kebahagiaan tidak terkira.

Sepertinya sangat menyenangkan jika aku dan keluarga kecilku bisa liburan di Bogor. Fahmi sangat suka melihat binatang. Kalau tidak pas libur panjang, sepertinya aku harus menyarankan suami ambil cuti untuk bisa piknik ke Taman Safari di Bogor.

Setelah seharian kubawa mengejar piknik yang cukup aneh, kini saatnya berburu waktu untuk pulang, Nak...

Setelah seharian kubawa mengejar piknik yang cukup aneh, kini saatnya berburu waktu untuk pulang, Nak…

Karena kondisi kami tidak memungkinkan, maka piknik dalam dunia kami ruang lingkupnya lebih meluas lagi. Berangkat ke Bandung untuk urusan pekerjaan, buat kami itu sudah termasuk piknik. Mengadakan perjalanan jauh, apalagi ke luar kota bersama-sama, meski niatnya karena memenuhi undangan atau memang ada urusan, tapi kami tetap menganggapnya perjalanan piknik. (ol)

Lomba Blog Piknik itu Penting

Comments

  1. Teh,, kapan” kita piknik bareng yuk! kita bikin acara seseru mungkin.. Rencana saya juga mau ajak istri dan anak saya piknik di cibodas, sekedar untuk kemping ceria saja

    • Ayuk, Kang…
      setuju 🙂
      kalo bisa waktunya pas libur panjang ya 🙂

      hore… Fahmi, semoga kesampaian nih ngajak kamu piknik yang “sesungguhnya”, hahaha…

  2. piknik itu walaupun sederhana, tapi bisa kumpul sekeluarga itu emang menyenangkan mbak. Apalagi kalo anggota keluarganya saling sibuk dengan urusan masing-masing :DDD

    • iya, waktu bersama yang terasa sangat mahal itu yang membuat soal pikniknya gak masalah yang penting saat-saat bersama dan interaksi satu sama lainnya ya Mbak 🙂

      Makasih sudah mampir 🙂

  3. Dede Supriatna says:

    Duh…

  4. *

    Email *

    Website

    4 × = 8

    Comment

  5. Saya juga sering ngikut suami kerja, bareng anak-anak juga. Malah asik loh, kami semua enjoy. Apalagi suami, seneng banget dia bisa ngasih tahu pekerjaannya tanpa perlu bercerita, cukup kami lihat aja, hihii

    • Kalo perjalanannya nyaman iya pasti asyik ya Bunda 🙂
      semoga besok jalan ke kampung kami segera diaspal mulus, semoga suami segera bekerja tetap sehingga bisa menikmati perjalanan nyaman seperti bunda Hidayah dan anak-anaknya 🙂

  6. Waah sambil menyelam minum air yaa..Sambil ngantar ayah workshop bisa sekalian piknik ya Nak…

    • Hehe, iya Bunda… meski capek, tapi kami buat asyik2 saja 🙂
      kedepannya moga suami segera bisa menjadi pegawai tetap sehingga bisa mempunyai banyak waktu luang untuk piknik bersama keluarga 🙂

      amin…

  7. Ceritanya seru. Terimakasih sudah berpartisipasi dalam lomba. Maaf, pengumuman ditunda tgl 20 Oktober 2015. Goodluck.

  8. Sekali mendayung, dua tujuan tercapai. Mendampingi suami plus piknik

  9. piknik, asik dengan caranya sendiri 🙂

Speak Your Mind

*