Menggali Sejarah Etnise Tionghoa di Kota Tauco

Menggali Sejarah Etnise Tionghoa di Kota Tauco

Menggali Sejarah

?

?

Hari Minggu kemarin adalah hari kelima belas dalam hitungan tahun baru Tionghoa. Istilah populernya adalah perayaan Cap Go Meh atau perayaan hari ke lima belas di bulan pertama. Di televisi, banyak diberitakan berbagai perayaan, seperti di Jakarta yang meriah perayaan terpusat di daerah Glodok.

Kami bukan warga Jakarta. Pun bukan berasal dari etnis Chinese. Tapi kami juga mau tahu lebih banyak dong tentang perayaan Cap Go Meh, dan perayaan-perayaan lainnya yang menjadi hari besar bagi orang Tionghoa? Di jaman yang sudah terbuka seperti saat ini, lalu bagaimana kami warga Cianjur bisa dengan mudah mengakses dan mendapatkan informasinya?

?

?

Saya pribadi sudah tidak asing dengan perayaan hari besar etnis Chinese. Selama belasan tahun tinggal dengan majikan yang beretnis Chinese, bukan hanya melihat dan menyaksikan, tetapi sekaligus jadi pelaku dalam perayaan hari besar yang salah satunya kini jadi hari libur nasional di tanah air ini. Tapi bagaimana dengan suami serta putra kami? Sungguh! suami selama ini minim informasi kecuali hanya melihat sekilas dari pemberitaan di TV. Sementara untuk Fahmi, putra kami, tahun baru Imlek dan perayaannya yang cukup meriah tahun ini adalah jadi kali pertama Imlek yang diketahuinya.

Fahmi banyak bertanya khususnya mengenai sesembahan, lilin yang menyala dan barongsai. Ya, ketiga hal itu yang mungkin sangat menarik perhatiannya sehingga menimbulkan banyak pertanyaan yang diajukan kepada kami, orang tuanya.

?

?

Lalu kami harus jawab apa?

?

?

Ini titik awal yang membuat aku dan suami berburu informasi mengenai perayaan hari besar Imlek dan seputarnya khususnya yang berada di Kabupaten Cianjur. Hal ini pula yang sejatinya membuka mata hati serta menambah pengetahuan kami tentang ternyata betapa minimnya sarana, prasarana dan hal-hal lain terkait etnis Chinese. Padahal, notabene di kota Cianjur orang Chinese itu banyak lho! Lalu apa yang membuat seperti ini? Bukankah sudah beberapa kali ganti presiden sehingga kebebasan merayakan hari besar bagi etnis Chinese ini tidak lagi ditutup-tutupi?

Terdorong oleh pertanyaan anak, sekaligus kepenasaran kami mengenai informasi detail etnise Chinese di Kabupaten Cianjur maka penelusuran abal-abal pun kami lakukan. Dimulai menjelang kemeriahan Perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2567 yang berpusat di Vihara Hok Tek Bio atau Vihara Bhumi Pharsjia, yang beralamat di Jalan Mangunsarkoro Nomor 60-62 Cianjur.

?

?

Saat kami mendatanginya, Vihara ini sungguh sangat jauh berbeda kondisinya dibanding tahun kemarin. Sejak adanya relokasi pedagang asongan serta kali lima di sepanjang jalan raya di kota Cianjur ke Pasar Induk Pasir Hayam, pedagang tas dan kawan-kawannya yang sebelumnya dagangannya menutupi seluruh bagian depan Vihara (kecuali pintu masuk) ikut pindah. Ini yang membuat Vihara jadi terlihat secara keseluruhan dari seberang jalan sekalipun. Pangling!

Kini Kelenteng ini bisa dilihat dari jauh, setelah pedagang kaki lima yang menghalanginya direlokasi ke Pasar Induk Pasir Hayam

Kini Kelenteng ini bisa dilihat dari jauh, setelah pedagang kaki lima yang menghalanginya direlokasi ke Pasar Induk Pasir Hayam

Masuk ke bagian dalam Vihara, memotret hal-hal unik dan bagus sebagai sumber pengetahuan nanti, kami berjumpa dengan Bapak Yan-yan yang sedang bertugas menjaga Vihara bersama beberapa orang temannya. Entah siapa nama Chinese Pak Yan-yan ini, lupa tidak sempat tanya. Yang pasti kami banyak bertanya kepada beliau dan banyak informasi yang kami dapat seputar etnise Tionghoa khususnya di Cianjur. Dari penuturan Pak Yan-yan diketahui kalau Vihara Hok Tek Bio atau Vihara Bhumi Pharsjia ini sudah berdiri sejak tahun 1880! Wow! satu abad lebih ternyata usia bangunan ini ya.

?

?

Bangga dan berbahagialah warga Chinese di Cianjur khususnya, penduduk Cianjur keseluruhan pada umumnya, bahwasanya memiliki tempat ibadah yang usianya melebihi usia kemerdekaan bangsa, pun melebihi usia tokoh proklamator sekalipun! Ini bukan hanya bangunan sebagai tempat pemujaan atau ibadah, tetapi sekaligus sebagai bangunan bersejarah yang tertua di Cianjur.

Kelenteng terbesar di Cianjur ini berdiri sejak 1880 lho!

Kelenteng terbesar di Cianjur ini berdiri sejak 1880 lho!

Di Vihara Hok Tek Bio atau Kelenteng Bhumi Pharsjia Cianjur terdapat Patung Dewa Hok Tek Cheng Sin yang merupakan benda tertua di Kelenteng ini. Hem… sebagai warga Canjur, jadi makin penasaran dan ingin terus menelusuri literasi sejarah tentang budaya Tionghoa di Cianjur ini.

Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada masa Orba sempat membuat sebagian masyarakat Tionghoa kehilangan identitas budayanya. Kegiatan budaya yang diawasi ketat hingga pelarangan menggunakan nama Tionghoa membuat generasi mudanya saat ini kurang paham akan tradisi leluhur mereka. Pantas jika hal ini membuat regenerasi penerus tradisi khususnya di Cianjur menjadi semakin minim.

Kelenteng Bhumi Parsijia Cianjur

Kelenteng Bhumi Parsijia Cianjur

Minimnya literasi sejarah yang menceritakan eksistensi masyarakat Tionghoa, terutama di Kabupaten Cianjur membuat kita harus berinisiatif terus mencari tahu. Selain melalui buku-buku, rajin searching kabar terbaru di internet juga mendatangi langsung Kelenteng untuk langsung bertanya dan berinteraksi dengan para pengurusnya.

Tempat yang bisa dijadikan sumber informasi lain terkait etnise Chinese di Cianjur adalah Pemakaman Tionghoa yang berada di Desa Sirnagalih kecamatan Cilaku atau lebih terkenal dengan nama tempatnya Pasir Hayam, Jebrod. Di Pemakaman Tionghoa ini ketahui ada batu nisan yang bertuliskan “Masa Pemerintahan Kaisar Guang Xu Dinasti Qing” dalam tulisan bahasa Mandarin. Ini menyatakan dengan jelas kalau sejak tahun 1800 di Cianjur sudah ada beberapa etnis Tionghoa.

Bangunan kuno sejak awal abad 19 ini berada di Pusat Kota Cianjur

Bangunan kuno sejak awal abad 19 ini berada di Pusat Kota Cianjur

Di pemakaman yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Cianjur terdapat tiga bukit utama yang dijadikan sebagai area pemakaman. Makam Cina ini kebanyakan berukuran besar dengan arsitektur megah khas Cina. Dengan usia makam tertua yang dibuat sekitar tahun 1920-an.

Karena usia Kelenteng sudah sangat tua diketahui banyak ornamen bangunan asli Kelenteng yang sudah ada sejak 1800-an itu kini sudah tidak ada. Barang-barang tersebut, di antaranya papan kebesaran kelenteng, lukisan Dewa di tembok, tugu pembangunan Kelenteng, dan beberapa ornamen lainnya.

Vihara di Cianjur ini terbuka untuk umum, lho!

Vihara di Cianjur ini terbuka untuk umum, lho!

Ada kemungkinan barang-barang itu hilang ketika renovasi tahun 1999, dan sebagian lagi seperti lukisan Dewa itu karena dilarang oleh pemerintah pada masa Orba. Beruntung benda kuno yang paling tua adalah Patung Dewa Hok Tek Cheng Sin yang sudah ada sejak awal-awal pembangunan Kelenteng masih ada sampai sekarang.

Masih informasi dari Pak Yan-yan yang tidak mau dirinya dipublikasi ini berbagai peninggalan bersejarah dari masa kolonial Belanda yang dibangun oleh warga keturunan Cina banyak tersebar di Cianjur, terutama di wilayah kota. Hingga kini, masih ada sebutan Jalan Shanghai di Jl. Moh. Ali yang bersimpangan dengan Jl. Mangun Sarkoro. Gedung Wisma Karya yang digunakan sebagai gedung olah raga tenis meja oleh KONI Cianjur juga merupakan salah satu bangunan peninggalan warga Tionghoa.

?

?

Ditengarai kehadiran etnise Tionghoa di Cianjur dimulai sekitar awal abad ke-19. Hal ini ditandai oleh didirikannya Kampung Cina di Cianjur berdasarkan besluit tanggal 9 Juni 1810. Pada saat itu Kabupaten Cianjur dipimpin oleh Raden Noh atau Raden Wiranagara, yang lebih dikenal dengan gelar Raden Adipati Wira Tanu Datar VI.

Pendirian Kampung Cina di Cianjur, waktunya bersamaan dengan pendirian kampung Cina di tempat lain yang ada di wilayah Priangan. Ciri lainnya adalah obyek bersejarah peninggalan warga Chinese di Cianjur baik berupa arsitektur, makanan, maupun tradisi Cina yang masih ada.

Akhirnya Fahmi senang bisa melihat lilin super besar di Kelenteng Bhumi Parsijia

Akhirnya Fahmi senang bisa melihat lilin super besar di Kelenteng Bhumi Parsijia

Arsitektur khas yang banyak ditemukan yaitu puncak atap yang berbentuk pelana kuda dengan ornamentasi khas Cina. Bangunan dengan arsitektur semacam ini masih dapat dilihat di Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. Siti jenab, Jl. Suroso, Jl. Barisan Banteng, Jl. Taifur Yusuf, Jl. Sinar dan arsitektur serupa ditemukan pula di sekitar pasar Warungkondang.

Sebagai pendongkrak perekonomian dari masa kolonial Belanda, warga keturunan Tionghoa di Cianjur memiliki usaha dagang. Beberapa diantaranya tetap bertahan seperti bidang kuliner. Terdapat tiga jenis penganan yang cukup dominan dan khas di kota Cianjur.

Pertama kali seumur hidup menemukan lilin yang besarnya melebihi tubuh Fahmi!

Pertama kali seumur hidup menemukan lilin yang besarnya melebihi tubuh Fahmi!

Siapa tidak kenal dengan makanan tauco. Makanan ini berawal dari resep warga Tionghoa yang datang ke Cianjur pada masa kolonial. Hingga sekarang, jenis makanan ini tetap bertahan dan mampu berkembang, bahkan telah diakui sebagai makanan khas kabupaten Cianjur. Produk tauco Cianjur resep warga Tionghoa yang eksis hingga sekarang di antaranya Tauco Cap Meong.

Ada juga manisan buah yang sama telah dinobatkan sebagai makanan khas Cianjur. Warga Cianjur juga sudah pasti mengenal olahan roti dari pabrik roti Tan Keng Cu. Mengenai olahan ini bila ditelusuri sejarahnya, awalnya diproduksi untuk memenuhi permintaan penduduk Eropa di Cianjur. Sekarang siapa saja bisa mencicipi produksi roti Tan Keng Cu yang terus pesat mengalami perkembangan.

?

?

Wuih, ternyata banyak juga kisah seputar etnise Tionghoa di Cianjur ini ya. Meski Kelenteng hanya ada satu, eh, dua dech, karena masih ada satu lagi kelenteng ladi di Cianjur yaitu Kelenteng Tridharma tepatnya berada di Gang Duren. Namun saat kami mengunjunginya kelenteng ini tertutup dan sepi.

Seperti diceritakan sebelumnya, kalau Fahmi lebih tertarik kepada lilin yang menyala. Maka saat kami berkunjung ke Vihara Bhumi Pharsjia, perhatiannya tidak lepas dari lilin-lilin raksasa yang berjejer dan menyala. Karena itu Pak Yan-yan bilang Vihara ini dijaga 24 jam nonstop dengan sistem pergantian ship demi bisa menjaga keamanan karena nyala lilin super besar itu harus tetap terus menyala sepanjang 24 jam per hari. Puluhan lilin merah yang dinyalakan dan lampion yang bergelantungan di sekitar vihara ikut memeriahkan perayaan sebagai simbol budaya Tionghoa sejak zaman dulu.

?

?

Menurut kalender Cina sebagaimana dituturkan Pak Yan-yan tahun baru Imlek di tahun 2016 ini disebut sebagai tahun Monyet Api. Banyak keturunan Tionghoa berdatangan mayoritas mengenakan baju warna merah untuk melakukan ibadah membakar dupa, sembahyang Tiko dan meminta kepada leluhur di Vihara tersebut sejak mulai pukul 24.00 WIB, dimana menurut mereka saat itulah bertepatan pada pergantian hari memasuki Imlek.

Saat yang lain datang ke Vihara mengenakan pakaian berwarna merah, aku mah beda sendiri, maaf biru saja, hehe!

Saat yang lain datang ke Vihara mengenakan pakaian berwarna merah, aku mah beda sendiri, maaf biru saja, hehe!

Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh di Kelenteng Bhumi Pharsija memiliki rangkaian acara ritual lainnya seperti, Sembayang Wan Fuk, Sin Beng Naik, Ganti Jubah Kongco, Kebaktian menyabut tahun baru Imlek, Sin Beng Turun, Ti Kong Sejit, kebaktian malam Cia Gwee Cap Go, dan terakhir ditutup Cap Go Meh yang pada umumnya dirayakan setiap 15 hari setelah Tahun Baru Imlek atau bertepatan tanggal 22 Februari 2016. Namun bagi Vihara Bhumi Pharsjia perayaan Chap Go Meh dirayakan pada Kamis tanggal 25 Februari 2016. Pak Yan-yan bilang akan ada acara arak-arakan dan atraksi barongsai pada malam hari.

Vihara Tridharma di Gang Duren, Kelenteng kedua di Cianjur

Vihara Tridharma di Gang Duren, Kelenteng kedua di Cianjur

Saat kami hendak berkunjung, Kelenteng ini tertutup. Semoga lain hari bisa kembali dan masuk untuk menggali banyak informasi

Saat kami hendak berkunjung, Kelenteng ini tertutup. Semoga lain hari bisa kembali dan masuk untuk menggali banyak informasi

“Waktu atraksi barongsainya setelah isya, sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah agama lain,” lanjut Pak Yan-yan.

Ih, jadi tidak sabar nih ingin menyaksikan perayaan barongsai di Kelenteng Bhumi Pharsjia Cianjur. Tunggu kabar selanjutnya dari kami ya…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Telisik Imlek Blog Competition JakartaCorners yang di Sponsori oleh Batiqa Hotels.

Telisik Imlek

Comments

  1. aku sering ke kelenteng,
    secara gitu ada garis keturunan hehehe,

    • Hihi… Aku sekarang tidak Mak. Ini baru pertama kali. Kalo saat di luar negeri aku malah sehari tiga kali pay pay di kelenteng. Mewakili majikan, hahaha…

  2. Selalu suka membaca artikel yang mengandung nilai sejarahnya. Khususnya sejarah Cina di tanah air.
    Sukses dengan lombanya 😀

  3. Terimakasih sudah berpartisipasi, Good luck yaaaa….

  4. ternyata cianjur juga memiliki vihara yang sangat bagus dan sangat tua tapi terawat sekali

    • Okti Li says:

      Benar Mas Salman…
      Saya juga baru tahu berkat “TelisikImlek” ini….
      Terimakasih sudah singgah.

Speak Your Mind

*