Menghadapi Permintaan Ngeyel Anak: Kapan Saat Dipenuhi dan Kapan Diabaikan?

Menghadapi Permintaan Ngeyel Anak: Kapan Saat Dipenuhi dan Kapan Diabaikan?

gounelle

Anak kecil selalu minta ini, minta itu meski tidak tahu yang dimintanya bermanfaat atau mudarat. Sebagai orang tua, bagaimana menyikapinya? Memenuhinya supaya anak diam dan tidak rewel? Atau menolaknya dengan tegas sehingga anak takut dan tidak berani lagi meminta?

Seperti itu kejadian yang kami alami ketika beberapa hari ini anak rewel karena sakit. Fahmi yang biasanya ceria, bisa main sendiri dan anteng kini berubah jadi manja, mudah menangis dan banyak permintaan yang ‘aneh-aneh’ sehingga kami rada bingung mau mengabulkannya atau menolaknya? Jika dipenuhi, takutnya jadi kebiasaan. Kami pun tahu apa yang diminta Fahmi tidak begitu berguna dan hanya sesaat.

Jika tidak kami penuhi permintaannya, dengan kondisinya yang sedang sakit, rasanya ya kok kasihan juga. Emak mulai labil… Dan seperti tahu situasi, Fahmi jadi semakin rewel semakin banyak minta ini minta itu ketika satu permintaannya tidak kami penuhi.

Ayah serta Ibu pernah mengalami hal demikian? Lalu bagaimana solusinya?

Anak usia balita sedang masa-masanya mengasah karakter yang ada dalam dirinya, baik karakter bersifat baik atau tidak baik. Selain itu kemampuan untuk belajar dan keahlian anak dalam menghadapi masalah pun sedang diasah. Keahlian anak disini maksudnya kemampuan si anak dalam memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan yang muncul di benaknya dalam kegiatan yang dilakukan nya sehari-hari. Kemampuan atau keterampilannya ini didapat anak melalui pelajaran, latihan, atau pengalaman langsung yang dirasakannya sendiri.

Jika anak meminta sesuatu dengan ngeyel disertai rengekan, tangisan atau muka ngambek (atau bahkan sebagian anak ada yang disertai tindakan lain) ini termasuk pada life skills atau kemampuan anak yang berkaitan dengan pemahaman emosi. Menurut keterangan seorang psikolog yang pernah saya baca tapi saya lupa namanya, mapkan saya sebagai orang tua pada saat itulah kita harus mempunyai ilmu tentang memahami emosi anak dan pengelolaannya.

Sama seperti ulah Fahmi, pagi tadi menangis keras karena permintaannya tidak kami turuti ketika minta makan es krim padahal ia sedang demam, dan belum sarapan sama sekali.

Respon kami sebagai orang tua pastinya ingin yang terbaik untuk perkembangan serta karakter baiknya. Menyayangi anak, apakah berarti sebagai orang tua kita harus menuruti semua keinginan anak?

Jika ada orang tua menuruti apa saja permintaan anak, dengan alasan asal anak diam dan tidak rewel, tidak bikin malu apalagi jika sedang banyak orang, maka ketahuilah jika tindakan tersebut sesungguhnya tidak mendidik anak supaya belajar mengelola keinginannya. Namun tindakan orang tua juga tidak benar jika langsung memarahi anak dengan ancaman supaya anak diam sehingga anak takut. Karena sikap itu justru malah membuat anak tidak akan mempunyai kesempatan untuk belajar bagaimana mengekspresikan perasaan serta emosinya. Alih-alih berkarakter baik, bisa-bisa anak akan takut, minder, malu dan mungkin berani memberontak.

Sebagai ayah dan ibu yang terdekat dengan anak, orangtua perlu dengan bijak memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mengungkap emosionalnya. Seperti rasa kecewa melalui tangisan, rasa senang dengan tertawa, atau ekspresi lainnya. Tetapi sebagai orang tua yang baik kita tidak selalu harus memberi apa yang diinginkan anak jika itu memang bukan kebutuhan anak.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua jika anak ngeyel minta dipenuhi permintaannya?

Cara terbaik jika anak ‘ngotot’ minta dituruti permintaannya yang erat kaitannya dengan life skills ialah berkomunikasi secara lembut dan intensif. Ya, meski terkesan mudah, namun pada kenyataannya hal itu sulit untuk kami praktikkan. Memberi penjelasan kepada Fahmi dengan bahasa sederhana kenapa permintaanya tidak kami penuhi tidak jarang malah berbuntut tangisan serta raungan. Bagi saya anak menangis tidak masalah, namun beda lagi dengan ayahnya, yang merasa risih jika mendengar anak nangis, apalagi jika diketahui tetangga atau orang lain. Saat itulah komitmen sebagai orang tua di depan anak dipertaruhkan.

Benar, berkomunikasi dengan lemah lembut pada anak hal itu memang harus dilakukan sejak dini, saat anak mulai berani belajar meminta dan secara konsisten terus-menerus kita orang tua melaksanakannya. Jika anak terbiasa sejak kecil, maka pengaturan emosionalnya terus akan terasah dan semakin besar anak akan faham mana yang boleh dan mana yang tidak.

Semoga apa yang kami alami bisa menjadi inspirasi bagi ayah dan ibu sekalian.

Salam dari kami Keluarga Petualang 🙂

Comments

  1. Tak semua permintaan anak harus dituruti ya, kadang harus ditolak juga demi kebaikan. Cuma yang agak risi itu jika anak merengek menangis di depan umum, jadi serba salah ya. Mestinya nggak boleh kok dituruti, kalo nggak dituruti bisa jadi pusat perhatian semua org krn nangis nggak berhenti2. Kan jadi malu ortunya niih

  2. aku blom punya anak mbak, api aku sering liat ponakanku yang ngotot minta beikan apa yang diinginkan apalagi mau minta barang yang mirip punya temannya kadang lucu juga, kalau nggak diturutin malam tidurnya sampe mengigau 🙂

  3. biasanya emang jadi senjata ya bagi anak utk meminta sesuatu di saat dia sakit, mgkn insting mereka jg kali ya bilang klo sakit permintaan akan dikabulkan, apalagi klo kita nanya mau apa, duuh aduuhh biasanya ada aja yg muncul 😀

  4. Saya tidak selalu mengabulkan permintaan anak. Lihat2 sikon juga sih. Paling anak akan ngambek tp tdk lama. Kalo anak ngambek saya diamkan sj. Lama2 dia yg akan baik baikin saya wong apa2 masih butuh bantuan ortu kok hahaha…. *kejam* tapi saya punya satu kelemahan yaitu pas anak sakit. Wis pokoknya kalo anak lg sakit rasanya seluruh dunia pun akan saya berikan asal bs mengembalikan keceriaannya hihi…

    • tetehokti says:

      Nah, saat sakit ini kok anak kayanya malah makin manja aja ya?
      kaya tahu situasi dan memanfaatkannya, gitu,hihi!

  5. Memang harus tahan rengekan dan tangisan ya mbaak…kuat2in hati -_-. Untung anak saya udah bisa dibilangin kalo dia minta sesuatu, tapi saya ga mau kasih. Misal, Alif: “Ibu aku mau coklat telur”. Ibu: “ngga ya, kamu kan kemarin dikasih biskuit coklat sama tante intan. dihabisin dulu yg itu.” Lalu walopun berat hati, si anak kecil terpaksa mengangguk. *lalu dompet ibu pun terselamatkan* :))

  6. Iya bangeeeet. Apalagi kalau anaknya dua, dan dua-duanya merengek-rengek minta sesuatu. Rasanya pengen nyumpel kuping pakai kapas *lah, curcol Buk XD.

    Tapi bener kok Teh, asal kita konsisten, lama-lama anak akan ngerti juga. Yang penting tahaaan denger suara rengekan dan tangisan darinya 🙂

  7. Kominikasi emang kunci untuk menyelesaikan permasalajan yah Mbak…
    Sip disimpan sarannya nanti klo udah punya anak heheh

  8. Nah ini yang sedang terjadi di rumah kami Teh. Anak sering ngeyel minta ini itu saya juga sedang belajar sabar tapi kadang banyak nggak tahannya. Huhu.

  9. Mba contoh memberi teguran yang halus itu seperti apa misalnya? anak saya usia 18 bulan sekarang kan saya mau masa sapih kalau nggak dikasi nyusu langsung ngamuk dan saya pun ga tegaan 🙁

    • tetehokti says:

      Menggunakan bahasa yang dimengerti anak, terangkan apa yang boleh dan tidak boleh. Apa yang baik dam tidak baik. Sebagai peraga, bisa bandingkan dengan mainan kesukaannya, kalau rusak gimana, kalau marah gimana, dan sebagainya, yang sesuai dengan kondisi si anak. Lama lama kalau terbiasa anak akan mengerti dan ngerti Mbak…

      Nyapih itu kan untuk kebaikan anak juga. Coba cari cara supaya anak bisa berpaling dari ASI, ke makanan lain. Tega itu wajar, semua ibu pasti ada rasa sama. Namun kebaikan anak kelak pasti bisa mengalahkannya. Terus dicoba, berusaha dan jangan lupa berdoa

  10. Ngomongin soal parenting memang ga ada habisnya ya. Untuk saat ini sih gua belum bisa ngomong banyak karena belom punya anak hahaha, tapi ya sepanjang pengalaman gua jadi guru, tarik ulur sama anak tuh memang tidak mudah, dan sampe sekarang gua masih belum bisa dibilang mahir dalam hal yg satu ini. Menjadi seorang pengajar itu mudah, tetapi menjadi seorang pendidik itu sulit…

  11. aku sampai sekarang masih jadi orangtua yang sering gak konsisten. kadang kalau lagi “waras” aku bisa menghadapi semua tangis dan rengekan tanpa menaikkan nada bicara. tapi kalau kondisi sedang gak oke, sering terlampau tegas, dan baru sadar pas anaknya bilang “ibu, kok ibu marah?” huhuhu. padahal sebenernya gak marah.

    tapi pada akhirnya aku jelaskan kenapa aku begitu, kenapa dia tidak seharusnya merengek, kenapa dia tidak boleh menangis untuk satu hal yang memang tidak perlu ditangisi, juga tentang kenapa gak semua keinginannya bisa kami penuhi.

Speak Your Mind

*