Meninggal Harus Punya Bekal Harga Kuburan Mahal!

Meninggal Harus Punya Bekal Harga Kuburan Mahal!

Bekal

Satu kuburan untuk yang beragama Islam, harganya sembilan belas juta. Kalau non muslim, sekitar 30 juta rupiah!

Tertegun mendapati keterangan itu pada suatu malam saat tidak sengaja menyaksikan liputan di sebuah televisi yang sedang membahas seputar tanah pemakaman masa kini.

Di pemakaman kelas internasional San Diego Hill yang berada di Karawang, diinformasikan seperti itu. Satu lahan pemakaman untuk muslim berkisar Rp. 19 juta. Akan terbilang lebih murah kalau sekaligus buking untuk sepuluh orang. Bisa buat suami, istri, anak, mantu dan juga besan. Jika buking jatuhnya bisa lebih bawah dari harga perorangan.

Begitu juga untuk non muslim. Harga persatuan sekitar Rp. 30 juta. Kalau buking bisa lebih murah. Untuk non muslim, ada tempat khusus yang bisa dibilang pemakaman spesial, dimana lokasi pemakaman berada di bukit paling atas. Sesuai kepercayaan salah satu kepercayaan non muslim, dimana konon katanya tempat yang tinggi akan lebih dekat dengan syurga. Maka posisi makam di bukit yang memang tinggi jadi punya nilai jual tersendiri. Berharga sekitar Rp.600 juta ke atas.

Ada lagi pemakaman khusus muslim, Al Azhar, yang berada di Bekasi. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi para famili jika akan berziarah, patokan harga juga berkisah belasan juta untuk satu “kavling” lahan kuburan.

Menarik nafas mengetahui informasi itu. Semoga orang yang meninggal di kota sana mempunyai bekal yang cukup. Bukan hanya bekal amala ibadah untuk dibawa ke akhirat, tapi juga bekal biaya untuk membeli tanah kuburan. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan turunan selanjutnya tidak bisa menemukan dimana batu nisan almarhum/almarhumah berada. Sesuatu yang tidak ingin terjadi pada kita, bukan?

Rasanya bersyukur sekali kami tinggal di kampung. Meski jauh dari segala sarana dan prasarana kota, alhamdulillah keluarga besar dari Ibu di Cianjur ini masih memiliki lahan yang dipergunakan sebagai makam keluarga. Bersyukur, teramat bersyukur kini setelah mengetahui kalau mereka yang tinggal di kota, mau dikubur saja harus membeli lahan yang harganya tidak mungkin bisa kami penuhi.

Tanggal 13 Januari kemarin nenek tercinta, ibu dari ibu saya meninggal dunia di rumah anak perempuan paling besarnya. Tanpa banyak lagi diskusi, paman, sebagai satu-satunya anak lelaki langsung menggali kuburan di dekat rumahnya. Ya, lahan di belakang sawah itu memang dibuat sebagai makam keluarga besar kami. Di areal pemakaman itu sudah lebih dulu ada makam ayahku, kakekku, serta sanak famili lainnya.

Tak terbayangkan jika kami tinggal di kota. Berapa uang yang harus kami keluarkan hanya untuk memakamkan orang tercinta? Padahal jangankan belasan sampai puluhan juta, justru nenek, kakek dan ayahku meninggal itu syariatnya karena terlambat tertolong untuk berobat. Ya, saat sakit karena tidak ada uang untuk biaya berobat akhirnya sakit semakin parah hingga tak bisa tertolong lagi.

Bicara soal kematian, termasuk penguburan memang bukan lagi urusan yang meninggal, tetapi adalah kewajiban ahli waris dan orang-orang yang masih ada di sekitarnya. Terlepas di kota atau di desa, yang meninggal tidak akan bisa menawar mau bagaimana nantinya. Hanya jika bisa mempersiapkan, kita sebagai ahli waris dan atau orang yang masih hidup, sebaiknya mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin.

Jangan sampai kehilangan batu nisa seperti kami dialami oleh siapapun. Ya, kami kehilangan makam adik saya tercinta di Bandung. Mungkin bercermin pada kejadian seperti itu maka pemakaman umum San Diego dan atau A Azhar banyak dijadikan rujukan buat orang kota. Supaya aman dan mendapat jaminan. Karena seperti yang kami alami, menguburkan di pemakaman unum, beberapa saat kami tinggalkan saja, saat hendak berziarah lagi eh, tiba-tiba batu nisan dan makamnya sudah hilang, entah kemana.

Mungkin dibongkar dan dibuatkan makam baru, atau apalah, kami tidak tahu. Yang pasti semoga ulasan ini bisa diambil hikmah serta manfaatnya oleh kita semua.

Comments

  1. di tempat saya selalu ada sumbangan khusus kematian se-RT. Nilainya lumayan untuk memfasilitasi pengeluaran kematian ini. Dan bersyukur, hidup sebagai muslim yang nggak perlu banyak anggaran bekal kematian apalagi punya kepercayaan, tapi yang di Al Azhar itu hanrnya fantastis juga ya. Enak emang hidup di kampung.

Speak Your Mind

*