Mental Versus Fisik Saat Pendakian

Mental Versus Fisik Saat Pendakian

Dalam perjalanan pendakian menuju Gunung Sindoro kami berjumpa rombongan pendaki lain yang akan naik ke Gunung Prau.

Yang bikin beda, rombongan ini terdiri dari emak-emak sepuh eh ibu-ibu sudah lewat usia cantik maksudnya yang dilihat dari penampilan dan pembicaraan mereka, meski sudah lanjut tapi mereka punya semangat tinggi untuk sampai di puncak.

Dari pengakuan mereka, tinggi dan medan treking tidak jadi masalah selama mental mereka tetap ada. Soal fisik tidak jadi hambatan. Pelan pelan asal kelakon eh alon alon asal kelakon gitu.

Naik gunung itu bukan cuma menaklukkan puncak, tetapi lebih kepada menaklukkan rasa ego dan ambisi. Saat kebanyakan pendaki pemula berlomba untuk saling cepat sampai ke puncak, kelak ketika sudah berhasil mendaki beberapa gunung, mereka akan mendapat pelajaran yang sesunguhnya tentang tujuan dari mendaki itu sendiri.

Tapi lucunya ketika mereka bicara soal gula rendah kalori, makanan pantangan bagi perempuan yang sudah lewat usia cantik dan kebiasaan hidup sehat menurut ukuran mereka lah kok saat kendaraan mampir di pom bensin dengan leluasanya mereka duduk lesehahan sambil minum minum kopi.

Ujungnya saya tahu kopi instan itu juga dibawa oleh salah satu dari mereka yang mau ke naik Prau itu. Ealah… Bisa-bisanya ya… Tapi sebodo amat lah. Toh urusan mereka juga.

Hanya yang jadi persoalan kami, ketika mereka “menguasai” seat yang disediakan panitia. Intinya kami yang memang kecil kecil harus mengalah terhadap mereka buibu sosialita yang ukurannya jumbo-jumbo alias ibu rumah tangga sejahtera.

Akhirnya rombongan saya yang mengalah harus duduk di belakang dengan umpel-umpelan. Bayangin jok 4 masa disuruh untuk duduk 5 orang? Sementara mereka di depan dan jok ke dua santai bertiga bertiga. Padahal pasti kami bayar sama juga kan. Nah itu aja yang bikin dongkol nya. Berhadapan sama super emak emang begitu kebanyakannya. Harus seterong perasaan alias kuat mental.

Oke gitu aja setoran tulisan kali ini. Saya buat setelah sampai di pos 3 dan sudah buat tenda.

Comments

  1. Serunya masa kecil fahmi….jadi pingin naik gunung bareng fahmi….seha terus ya fahmi…

  2. wah hebat, teh. btw anaknya umur brp itu, teh? pingin muncak lg tp anak msh batita…

    • tetehokti says:

      Usia 4 tahun sekarang.
      Fahmi juga sejak batita kok mulai dibawa naik nya. Usia 3 tahun dia langsung kami bawa ke puncak tertinggi di Jawa Tengah šŸ™‚

      yuk kapan2 kita naik bareng šŸ™‚

Speak Your Mind

*