Menyikapi Global Marijuana March Indonesia

Hari Sabtu, 3 Mei 2014 Lingkar Ganja Nusantara (LGN) mengadakan aksi damai Global Marijuana March (GMM) di 7 kota Indonesia. Kota-kota itu adalahBanda Aceh, Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Palu dan Balikpapan. Aksi damai yang selalu rutin dilakukan setiap Sabtu pertama di bulan Mei ini sudah yang ke 5 kalinya. Namun aksi damai kali ini berbeda dari yang sebelumnya karena serempak dilakukan di 7 titik kota yang berbeda.P1220825 - Copy

Aksi damai GMM tidak hanya dilaksanakan di Indonesia saja. Tahun ini lebih dari 143 kota di 33 negara dunia menggelar aksi serupa. Benua Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, Eropa, Asia dan Oseania. Mereka semua akan bersatu dalam menyuarakan satu inspirasi yaitu “Legalisasi Ganja,” demikian keterangan yang disampaikan Ketua Lingkar Ganja Nusantara melalui siaran press rilisnya yang diterima Jumat, 2 Mei 2014.

Sesuai informasi yang didapat, legalisasi ganja yang LGN maksud itu berbeda dengan legalisasi ganja yang sedang diusung dunia melalui Amerika dan sekutunya. Legalisasi ganja yang kami maksud LGN adalah adanya pembentukan UU Pengelolaan Ganja Republik Indonesia yang seirama dengan ajaran Pancasila. Dan argumen-argumen mereka ini dibangun atas dasar pengetahuan mengenai 3 manfaat utama pohon ganja.

Menurut mereka Ganja sebenarnya mempunyai tiga manfaat. Pertama manfaat medis. Sementara pada Undang-undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 menyatakan bahwa ganja tidak dapat digunakan untuk kepentingan medis. Hasil riset yang mereka rangkum dalam Buku Hikayat Pohon Ganja menjadi bukti yang belum terbantahkan sampai saat ini. Begitu secara intinya menurut pendapat mereka.

Secara ilmiah, mereka telah membuktikan bahwa ganja mampu mengobati epilepsi, diabetes, kanker, migrain, kram menstruasi, multiple scelorosis, dan berbagai penyakit lainnya.

Bukan hanya sebatas teori, mereka juga telah menemukan budaya pengobatan diabetes menggunakan rebusan akar ganja di Aceh. Komunitas mereka ini sudah berhasil memproduksi minyak ganja dan terbukti mampu mengobati epilepsi bayi berusia 5 bulan. Menurut pengakuan mereka juga melihat sendiri bagaimana ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) meningkat kualitas hidupnya dengan konsumsi rutin ganja. Itu baru sedikit dari sekian banyak pasien mereka yang telah merasakan khasiat Ganja Aceh.

Manfaat selanjutnya yang kedua yaitu di bidang industri pertanian. Undang-undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 menyatakan bahwa menanam ganja adalah tindakan kriminal. Sebagai ganjarannya akan dikenakan hukuman pidana penjara minimal 4 tahun. Seperti selalu mereka tekankan dalam Buku Hikayat Pohon Ganja yang mereka miliki, bahwa telah menunjukkan puluhan ribu produk olahan yang dapat dibuat dengan menggunakan pohon ganja. Dari kebutuhan sandang, pangan, papan hingga energi terbarukan dapat diproduksinya.

Selain itu, industri pertanian ganja juga dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan alam. Sebagai contoh, Kalimantan tidak perlu menebang pohon hutan untuk membuat kertas. Hasil bubur kertas 1 hektar ladang ganja setara dengan 4 hektar pohon hutan. Selain itu, pohon ganja juga dapat mengembalikan kesuburan tanah akibat penanaman kelapa sawit maupun bekas penggalian tambang. Namun, selama UU Narkotika tersebut masih ada, menurut pandangan mereka itu bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa menanam ganja untuk kebutuhan industri pertanian.

Yang terakhir ketiga adanya manfaat rekreasi. Rekreasi bagaimana yang dimaksud? Komunitas LGN meminta kesempatan untuk meluruskan dulu pengertian dengan apa yang dimaksud rekreasi ganja.

Sebagian besar pengguna ganja di Indonesia mengonsumsi ganja bukan untuk mabuk, seperti orang mengonsumsi alkohol. Tapi mereka mengonsumsi ganja untuk relaksasi atau rekreasi diri. Dan perlu digarisbawahi, mereka adalah warga negara Indonesia yang juga berkarya, berkeluarga, bekerja, bersekolah dan hidup sebagaimana warga negara lainnya. Memenjarakannya, menurut mereka justru sama saja dengan memasukkan mereka dalam kehancuran hidup.

Pengguna ganja semacam itu jelas tidak membutuhkan rehabilitasi medis ataupun sosial. Mereka membutuhkan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka sama dengan warga negara lainnya yang suka mengonsumsi kopi untuk bekerja atau nasi untuk sumber energi. Kenyataan ini diputarbalik oleh UU Narkotika No. 35 Tahun 2009 yang mengatakan bahwa segala bentuk penggunaan ganja adalah penyalahgunaan. Ironinya, dalam pandangan komunitas LGN ini, katanya UU tersebut tidak pernah menjelaskan mengenai pembenargunaan ganja.

Pengetahuan mengenai 3 manfaat utama pohon ganja ini menjadi modal awal mereka untuk mengamandemen UU Narkotika No.35 Tahun 2009. Akan tetapi, pengetahuan tidak akan berbunyi apabila tidak diperjuangkan. Seperti kata-kata Bung Karno ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 29 April 1963, “Janganlah engkau menghirup pengetahuan hanya untuk pengetahuan. Hiruplah pengetahuan untuk berjuang, berjuang untuk tanah airmu, untuk bangsamu, untuk perikemanusiaan!” Demikian keterangan mereka.

Amandemen UU Narkotika No. 35 tahun 2009 hanyalah pintu masuk LGN untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah betapa terasingnya kita dengan janji dan cita-cita proklamasi. Kita sudah terlalu lama menjadi bangsa yang kehilangan jati dirinya. Lihat saja UU Narkotika, bukannya bersumber pada Pancasila melainkan bersumber pada Konvensi Tunggal Narkotika PBB tahun 1961.

Event Global Marijuana March Indonesia

Melalui aksi damai GMM di 7 kota ini, mereka berharap bisa meneguhkan semangat perjuangan LGN untuk mengembalikan bangsa Indonesia menemui jati dirinya.

Mereka ingin merajut kembali memori kolektif bangsa kita yang dalam pemikiran mereka itu telah begitu dalam tertimbun gempita kehidupan duniawi yang ditawarkan kaum-kaum materialis. Mereka ingin menyampaikan semangat keseimbangan antara dunia-akhirat, antara manusia-Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka katanya mengajak kita untuk kembali pada Pancasila menuju Indonesia Raya.

Melalui Global Marijuana March 2014 Indonesia ini mereka dengan gencar mengundang rekan-rekan wartawan untuk meliput aksi damai Global Marijuana March yang sesuai rencana diadakan serentak Sabtu, 3 Mei 2014 di kota-kota yang telah siap sedia yaitu:
Aceh. GMM dilaksanakan dengan rute perjalanan dari Uye Coffee ke Blangpadang lalu lanjut ke Gedung Walikota. Waktu berlangsung mulai pukul 15.00 dan selesai pukul 18.00.

Balikpapan dengan rute GMM dari Pantai Monpera menuju Lapangan Merdeka dari pukul tiga sore sampai sebelum maghrib.
Adapun GMM di Jakarta aksi diadakan dimuai dari Istana Presiden, lanjut ke Mahkamah Konstitusi dan lanjut ke Bundaran HI mulai pukul 15-18.00WIB.

GMM di kota Bandung berlangsung dari Gedung Sate menuju Balai Kota, dilanjut ke Polres Kota Besar Bandung dan kembali lagi Gedung Sate dimulai pukul 14.00 hingga selesai pukul 17.00 WIB.

Surabaya lokasi gmm di UNAIR menuju ke RSUD Dr. Soetomo, lanjut ke Kantor Walikota dan berakhir di Taman Apsari dari pukul 15.00 sampai 18.00 WIB.

Kota Makassar dipusatkan di Pot Rotterdam – Monumen Mandala dari pukul 15.00 sampai 17.00 WITA. Sementara di Palu rute GMM dari Lapangan Vatulemo ke Taman GOR Palu lanjut ke RSUD UNDATA dan berakhir di Anjungan Nusantara, mulai pukul 15.00 –sampai19.30 WITA.

Aksi damai ini mereka lakukan sebagai bagian dari hari global mendukung legalisasi ganja, peran serta mereka untuk memberikan dukungan terhadap keinginan untuk dilegalisasikannya ganja.
Menyikapi aksi dan sikap mereka ini memang tidak bisa asal bicara.

Terlepas dari pohon ganja itu sama-sama ciptaan Tuhan yang perlu dijaga, atau dari segi kegunaan ganja yang sudah mereka paparkan di awal tadi, tapi tetap menurutku pribadi pemikiran seperti itu kembali perlu diluruskan.

Jika saja di luar negeri ada yang melegalkan ganja, maka lain ladang lain pula belalangnya. Kondisi negara luar dengan Indonesia tentu pula berbeda, termasuk tingkat pemikiran warga negaranya, tingkat pendidikannya dan nilai adat istiadat serta kebudayaan yang jadi penunjang.

Kita tidak bisa menyama ratakan kalau setiap orang bisa menggunakan ganja (dan atau apapun) secara sesuai takaran atau seperlunya jika dibebaskan begitu saja. Air, listrik dan atau makanan saja, yang jelas-jelas sudah legal masih banyak yang memakai atau menggunakannya di luar kebutuhan. Itu oleh orang yang normal dan atau sadar. Lalu bagaimana jadinya dengan pemakaian ganja yang sudah bisa dipastikan pemakainya “fly” semua? Apa mereka masih bisa menggunakan daya nalar dan atau daya pikir? Siapa yang bisa menjamin? Siapa yang akan bertanggung jawab kalau saja sopir dan masinis dan atau pilot memakai ganja lalu menimbulkan kecelakaan?

Pemerintah tentu saja sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang. Melalui riset, poling, pemelitian, dan sebagainya. Sebagai warga negara, ataupun yang mengaku generasi muda yang kritis, kenapa tidak kritis pada hal lain saja yang lebih positif nyata dan tidak mengundang kontroversi serta resiko? Kenapa harus beraksi memperjuangkan kelegalan ganja sementara masih banyak hal lain yang nyata sudah legal (dan itu perlu aksi nyata juga) tetapi kita biarkan?

Sebenarnya memperjuangkan ambisi pribadi atau memang ikut-ikutan? Wallahu’alam… (0l)

Trackbacks

  1. […] Live dengan Aman dan NyamanAman dan Nyaman Mencukur dengan Philips AquaTouch ShaverI Love Your Mom !Menyikapi Global Marijuana March Indonesia var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37464667-1'], ['_trackPageview']); (function() […]

Speak Your Mind

*