Menyongsong Komunitas ASEAN 2015 TKI (Purna) Siap Berintegrasi Usaha Kerakyatan

Ruangan sudah gaduh saat aku masuk. Aku memilih mengamati sejenak sebelum menyapa. Rupanya mereka sedang membahas topik yang aku sodorkan semalam: Menyongsong Komunitas ASEAN 2015.

“Aku gak ngerti apa itu Komunitas ASEAN 2015. Yang pasti waktunya masih sekitar 2 tahun ke depan, kan ya? Babu kaya aku ini sing penting bisa finish kontrak dulu ben bisa bayar hutang, lah! Abis itu baru mikir lainnya. Termasuk Komunitas ASEAN 2015 itu.” Pendapat Nunung dari Singapura itu yang pertama aku lihat.

“Sejak jaman sekolah, bukannya kita sudah diajarkan tentang ASEAN? Sudah sejak tahun 1967 dong kita jadi bagian dari komunitasnya? Aku harap Komunitas ASEAN 2015 ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kerjasama antara negara di wilayah Asia Tenggara khususnya, menjadi kekuatan utuh dalam menghadapi negara maju lainnya.” Tulis Mas Dwi yang tinggal mengadu nasib di Malaysia.

Lain lagi komentar Putri yang sedang mengais rezeki di negeri gajah putih, Thailand. Dia lebih optimis dengan mengandalkan pengalamannya kerja di beberapa negara tetangga sekeluarnya dari sekolah tingkat pertamanya hingga kini usianya menginjak kepala tiga untuk menyongsong kedatangan Komunitas ASEAN 2015 ini.

“Kita juga sudah menjadi bagian dari Komunitas ASEAN, lho! Meski status kita cuma TKI. Jangan salah, lebih banyak TKI yang online dan melek informasi terkini bagian dari Komunitas Blogger ASEAN daripada jutaan rakyat Indonesia di kampung sana yang jangankan bisa menguasai teknologi, waktu untuk cari nafkahnya saja selalu dirasa tidak cukup.”

“Kualitas pekerja Indonesia di negeri tetangga banyak yang lebih mumpuni meski secara kasar berstatus (maaf) hanya sebagai pembantu. Ini lebih baik daripada orang Indonesia di pedesaan sana yang banyak masih terisolir,” lanjut Putri.

Aku terus membaca beberapa komentar lain di ruang inbox sebuah jejaring sosial itu. Pendapat mereka beragam dan sangat menarik. Ruang kirim pesan secara ramai-ramai dan atau group di jejaring sosial itu kami jadikan ruang diskusi khusus. Terdiri dari sekian banyak teman blogger yang pernah tinggal dan atau masih kerja di luar negeri. Melalui chating itu kami berkomunikasi. Termasuk saling tukar informasi.

Semalam, di beberapa ruang diskusi dan group komunitas yang aku ikuti aku posting mengenai Komunitas ASEAN 2015. Aku share kepada teman-temanku yang berada di perantauan mengenai Komunitas ASEAN 2015 berikut dengan 3 pilarnya dalam bidang politik, ekonomi dan sosial (ASEAN Political-Security Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (APSC)).

Hasilnya, seperti pendapat Nunung, Mas Dwi, dan Putri di atas. Juga pendapat teman-temanku lainnya yang mayoritas pernah dan atau sedang bekerja di luar negeri. Dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki rata-rata siap menyongsong adanya Komunitas ASEAN 2015.

Meski hanya sebagai pekerja buruh, kuli kasar di negara orang, tapi kami bisa terbantu dengan kecanggihan teknologi di negara tempat kami bekerja. Justru dengan jalan menjadi buruh migran di negeri orang, wawasan, keterampilan dan intelektualitas kami semakin bertambah. Pengalaman kerja, interaksi dengan gaya hidup orang-orang dengan teknologi lebih maju di negara lain sudah menjadi modal besar yang kami miliki dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015.

Andai aku tidak bekerja ke Singapura, Hongkong dan Taiwan, mungkin aku tak akan tahu lebih dulu apa itu internet dibanding temanku yang hanya diam di kampung. Andai kami tak merantau, jangankan bisa mengakses internet dan tahu soal Komunitas ASEAN yang tengah gencar disosialisasikan, kebeli perangkat (gadget)nya saja mungkin tidak.

Pergaulan positif dari teman-teman Philipina, Vietnam dan Thailand yang sudah lebih familiar dalam mengoperasikan gadget canggih dan berselancar di dunia maya dalam bisnis sampingannya membuat aku dan teman-teman bisa belajar dan mengenal apa itu blog, jejaring sosial, dan media lainnya. Jadi saat ada sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 ini sudah dengan mudah kami bisa saling berbagi dan tukar informasi.

Terlebih Komunitas Blogger ASEAN sangat terbuka dan memberikan kontribusi sangat baik dalam hal penyampaian informasi terkait Komunitas ASEAN 2015. Melalui media sosial, para blogger yang notabene para tenaga kerja di negara anggota ASEAN maupun non anggota ASEAN dapat dengan mudah menyebarluaskan informasi mengenai Komunitas ASEAN 2015 ke khalayak umum.

Sebagai mantan TKW dan tinggal jauh di luar kota namun aku merasa bangga dan menanti-nantikan adanya Komunitas ASEAN 2015. Meski ngeblog masih musiman, bisa dihitung dengan jari namun semangat mensosialisasikan Komunitas ASEAN 2015 sangat tinggi. Meski berada di berbagai daerah terjauh, aku selalu up-date informasi kepada mereka. Saling terhubung dengan kecanggihan telekomunikasi menuju Komunitas ASEAN 2015.

Menyongsong Komunitas ASEAN 2015 kami khususnya para mantan TKI yang tergabung dalam komunitas TKI Purna mempersiapkannya dengan memperkuat usaha kecil menengah yang padat karya. Berbagai pelatihan wirausaha kerakyatan terus digalakan. Sesama TKI Purna saling membantu sama lain dalam memajukan perusahaan perekonomian daerah. Kedepannya diharapkan bisa menunjang terciptanya perekonomian Indonesia dan seluruh negara anggota ASEAN sebagai pasar tunggal berbasis produksi yang memiliki iklim ekonomi kompetitif, pembangunan ekonomi merata, dan berintegrasi dengan perekonomian global.

Seandainya dampak perdagangan bebas berimbas bagi pengusaha Indonesia, diharapkan para pelaku usaha kerakyatan yang terdiri dari mantan-mantan TKI ini sudah bisa memperkirakan jauh sebelumnya hingga bisa lebih dini mencari jalan penyelesaian.

Sesungguhnya, merekalah rakyat Indonesia yang rata-rata (maaf) pendidikan rendah, haus informasi serta wawasan, tapi justru mereka para TKI Purna yang sejatinya akan memajukan perekonomian Indonesia mulai dari lingkungan terkecil dan menyerap tenaga kerja daerah.

Menyangkut tenaga kerja yang bebas para buruh migran yang masih di luar negeri maupun yang sudah kembali ke tanah air menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat peranan guna memastikan kawasan yang stabil, aman dan damai sebagai prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan perwujudan Komunitas ASEAN 2015.

Jika jumlah pengusaha di Indonesia meningkat tentu pula dapat meningkatkan nilai ekspor. Dipastikan akan banyak barang dan jasa negara ASEAN yang akan memajukan perekonomian pasar Indonesia. Jika Indonesia mampu berkontribusi menjadi pasar tunggal dan basis produksi ASEAN, bisa dipastikan bahwa investasi di Indonesia turut meningkat. Karenanya berharap, akan banyak mantan TKI yang menjadi wirausaha untuk berkontribusi dalam perekonomian Indonesia.

Mayoritas orang ingin mempunyai pekerjaan bagus. Tak menutup kemungkinan jika sebelumnya kita yang mencari pekerjaan ke luar negeri, suatu saat nanti mereka dari luar negeri para ekspatriat dari negara-negara ASEAN mencari lapangan kerja di Indonesia.

Saat persaingan dunia kerja semakin tinggi, sejak masih bekerja di luar negeri para buruh sudah mempersiapkan diri untuk menjadi angkatan kerja atau sumber daya manusia yang kompeten. Belajar bahasa, berusaha mempunyai keahlian, keterampilan dan sebagainya sudah dimulai sejak akan berangkat kerja ke luar negeri. Tidak menunggu nanti saat Indonesia sudah menjadi bagian dari Komunitas ASEAN 2015.

Comments

  1. Terimakasih sudah terdaftar šŸ™‚
    Semoga acaranya sukses… Amin.

Speak Your Mind

*