Muslimah Malas: Bentuk Penjajahan Setelah Merdeka

Melalui informasi pesan singkat serta berbagai pesan di jejaring social media aku tahu kalau beberapa temanku pada hari peringatan kemerdekaan bangsa kemarin, tanggal 17 Agustus banyak yang tidak mengikuti jalannya upacara bendera. Hari libur tanggal merah bertepatan dengan hari Senin itu lebih banyak digunakan untuk bersantai di rumah.

Ngapain upacara bendera segala, gak penting kali. Hari ini kan libur, hak sendiri dong mau dipakai buat apa. Daripada panas-panasan di lapangan, kan mending ngadem di rumah sambil bbman. Gak ikut upacara juga kan gak ada masalah, upacara bendera dari dulu gitu-gitu aja, lihat di tv saja juga bisa, sama saja kan? Aduh, aku kan ada anak, repot ah, mending di rumah saja.

Ya… Berbagai alasan dan pendapat teman-teman yang sampai kepadaku memang beragam kemarin itu.

Dan sejujurnya, aku sangat ingin menangis dengan kondisi pemikiran seperti itu…

POS TKI. Salah satu pelayanan terhadap TKI di Singapura

POS TKI. Salah satu pelayanan terhadap TKI di Singapura

Limabelas tahun lalu, tepatnya 17 Agustus tahun 2000 aku memperingati perayaan kemerdekaan bangsa ini dengan tetes air mata dan jeritan kepedihan yang sangat menusuk hati. Bagaimana tidak, ketika teman-teman berangkat satu PT (penampungan) pada ceria bisa liburan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI yang ke- 55, sementara aku hanya bisa termangu menghadapi cucian sebanyak 2 koper penuh. Oleh-oleh majikan dari Amerika untukku berupa pakaian kotor milik keluarga majikan yang baru pulang liburan musim panas .

Bagaimana tidak sedih, saat aku mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan dari stasiun radio Key FM yang terpancar dari Pulau Batam, aku justru tengah mengerahkan tenaga mati-matian, memeras pakaian keluarga majikan sebanyak tiga ember super besar. Semua itu diperas dengan tangan! Ya, majikanku melarang aku mencuci pakaiannya menggunakan mesin cuci, meski untuk mengeringkan saja sekalipun. Alasannya biar hemat listrik.

Tetes air dari perasan demi perasan tangan mungilku bercampur dengan tetesan air mata. Disaat teman-teman dan seluruh warga Negara Indonesia merasakan kegembiraan, aku justru tengah merasakan betapa pedihnya penjajahan bernama majikan. Aku harus terus berjuang memeras cucian sekering mungkin supaya bisa selesai sebelum jam delapan karena lewat dari itu sudah menanti pekerjaan lainnya yang juga harus segera diselesaikan.

Pakaian tidak boleh sembarangan memerasnya, karena jika masih ada air yang menetes, maka tetangga di bawah flat rumah majikan akan complain lagi. Jemuran sesungguhnya yang hanya menampung lima potong pakaian itu tentu memaksaku harus menjemur baju di jendela-jendela rumah majikan yang otomatis di bawah dan atasnya juga bertepatan dengan jendela kamar tetangga flat. Jika ada air menetes, tentu kamar tetangga flat dan apa yang ada di dalamnya akan kena basah juga.

Diaspora

Selama dua tahun aku memaksakan diri bekerja di majikan itu, dua kali peringatan tujuh belas Agustus juga aku merasakan bagaimana sulitnya membendung air mata karena perih dan sedih. Perih dan sedih betapa sakitnya hati ini merasakan kesulitan untuk sekedar menyaksikan jalannya upacara mendera secara langsung. Hidup terkurung kuasa penjajah bernama majikan.

Nasibku saat itu menjadi buruh migrant Indonesia (BMI) di Singapura yang demikian terkekang menjadi pelecut diri ini untuk sebisa mungkin menghormati jalannya upacara pengiibaran bendera selagi mempunyai waktu dan kesempatan.

Beruntung bagi kita yang tinggal di tanah air. Tidak perlu susah payah berjuang sekedar ingin menyaksikan dan mengikuti jalannya uacara pengibaran bendera merah putih saat peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Andai kita tahu bagaimana rasanya patriotisme itu bisa timbul justru saat kita berada jauh dari tanah air. Bukan hanya seperti aku yang merantau karena jadi TKI, tetapi juga mereka yang memang tinggal dan bermukim di luar negeri dengan berbagai alasan seperti karena ikatan pekerjaan, sekolah, perkawinan, orang “terlarang pulang” dan lain sebagainya.

Saat mengikuti acara Kongres Diaspora ke 3 dari tanggal 12-14 Agustus 2015 kemarin di Hotel Bidakara Jakarta, aku banyak mendapat kisah yang sangat menyentuh dan menyentil hati akan rasa patriotisme para warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Ikrar Kongres Diaspora. Salah satu bukti kecil kecintaan WNI yang tinggal di luar negeri untuk tetap bisa berbakti kepada tanah air

Ikrar Kongres Diaspora. Salah satu bukti kecil kecintaan WNI yang tinggal di luar negeri untuk tetap bisa berbakti kepada tanah air

Di Negara Peru, ada seorang keluarga berkewarganegaraan Indonesia. Satu keluarga terdiri dari suami, istri dan dua orang anak yang masih kecil. Mereka mengeluhkan betapa sulitnya mengikuti uaca bendera peringatan kemerdekaan RI. Kenapa? Karena di kota dan negara itu hanya mereka satu keluarga yang orang Indonesia!

Percaya atau tidak, satu keluarga ini pun kemudian mereka memasang bendera di halaman rumah mereka. Mereka berempat melakukan upacara bendera seolah upacara bendera resmi seperti yang dilakukan kita di tanah air. Sang istri mengerek bendera bersama suami sementara anak-anak dengan khidmat menghormatinya. Mereka berempat pula yang menjadi paduan suaranya, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR. Supratman. Luar biasa bukan…?

Bersama Presiden Diaspora Network Global 2013-2015 M. Al Arief. Dari Pak Arief banyak tergali bagaimana kisah patriotisme WNI di luar negeri yang mendengarnya saja membuat merinding dan menitikkan air mata!

Bersama Presiden Diaspora Network Global 2013-2015 M. Al Arief. Dari Pak Arief banyak tergali bagaimana kisah patriotisme WNI di luar negeri yang mendengarnya saja membuat merinding dan menitikkan air mata!

Masih banyak kisah heroik dan patriotisme yang sangat tinggi dari para diaspora yang mereka kisahkan di acara kongres yang secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu. Intinya mereka sangat sangat sangat kesulitan untuk merasakan kebebasan untuk sekedar “hanya” melaksanakan upacara bendera sebagai salah satu tanda kecintaan diri kepada tanah air dan bangsa. Lalu apakah kita tidak malu saat kesempatan itu ada, tapi kita justru sibuk mencari alasan dengan berbagai dalih? Tidakkah kita sadar kalau sesungguhnya saat itu kita tengah ditikam oleh penjajah berjenis rupa sebuah kemalasan?

Kita telah 70 tahun merdeka. Terlepas dari sejauh mana kemampuan pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya, tapi paling tidak lakukan apa yang bias kita dan mampu untuk menghormati para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan ini. Enyahkan rasa malas yang bercokol dalam hati sebelum berkarat dan membudaya. Contoh kecil saat raga kita benar-benar sudah tidak berdaya pun, kirimlah doa serta solawat untuk para arwah pejuang yang telah memberikan hadiah kemerdekaan kepada kita.

Kita yang tinggal di tanah air seharusnya bercermin kepada mereka yang tinggal di luar negeri dan sangat kesulitan untuk sekedar melaksanakan upacara bendera (Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri)

Kita yang tinggal di tanah air seharusnya bercermin kepada mereka yang tinggal di luar negeri dan sangat kesulitan untuk sekedar melaksanakan upacara bendera (Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri)

Merdeka bukan hanya terlepas dari penjajah bangsa asing, namun lebih kepada kemampuan kita sejauh mana bisa mandiri. Apakah kita mampu melakukan, memikirkan, dan merasakan bagaimana proses pencapaian mereka yang berada dalam kondisi serba sulit sementara hatinya menjerit dan meronta ingin berbuat sesuatu untuk membuktikan rasa patriotismenya?

Sebagai perempuan, sebagai seorang ibu, khususnya sebagai seorang muslimah tentu kita dituntut untuk bias berpikir tenang, logis dan positif saat berbagai permasalahan hidup datang menguji. Termasuk dalam kompetisi hidup dan persaingan di berbagai hal di era jaman serba modern dan canggih ini. Di sini peran seorang muslimah khususnya, baru bisa dikatakan sebagai jiwa yang merdeka bilamana mampu mengambil keputusan dengan tepat disertai rasa percaya diri, tanggung jawab dan tidak bergantung kepada orang lain.

Bersama sebagian kecil peserta diaspora. Coba tebak, aku yang manaaaahhh? :)

Bersama sebagian kecil peserta diaspora. Coba tebak, aku yang manaaaahhh? 🙂

Semoga di perayaan kemerdekaan tahun depan dan selanjutnya Allah SWT masih memberikan kita usia sehingga kita masih bisa terus memperbaiki diri dan membuktikan sejauh mana rasa cinta kita terhadap tanah air.

Masih ada kesempatan untuk menularkan semangat patriotisme kepada orang lain, khususnya kepada orang terdekat kita lebih dulu, seperti suami, anak-anak dan anggota keluarga besar kita sebelum mencapai orang lain di luar sana. Insya Allah. Merdeka!

#bloggermuslimah
#gerakanmenujusholehah

Blogger Muslimah

Tulisan ini diikutsertakan BW Spesial Blogger Muslimah

Comments

  1. Nyesek bacanyaaa … kemalasan memang biang kerok semua hal yang bikin orang tidak beranjak dari area nyamannya. Berjuang terus, Neng. Saya bangga denganmu ….

  2. Malas itu memang penyakit parah y mbak, dlm kasus ini, bs mengundang yg namanya cuek, tak terlalu peduli dg bangsa ini…

  3. Assalaamualaikum. Senang bisa berkunjung lagi kesini. Semoga terus semangat ya Okti 🙂 Merdeka!

  4. Luar biasa, Mbak. Perjuangan yang inspiring …

  5. Assalamu ‘alaikum Mbak Okti,apa kabar? Maaf baru BW ke mari 🙂

    Jauh dari negara, saya yakin membuat kecintaan dan kebanggaan kpd Indonesia semakin menguat. Sayang sekali kalo kita yang di dalam sini terus tidak berusaha memaknai rasa kebangsaan itu.

  6. Masyaa Allah…

    Hiks…
    Berkaca-kaca, Mba, aku bacanya

Speak Your Mind

*