Naik atau Tidak, Imbas BBM Sudah Membuat Operasional Kerja Naik

Senang saat melakukan pekerjaan, sesuai dengan kebiasaan atau hobi. Seperti pekerjaanku melancong, mendatangi beberapa tempat baru, yang terkadang sebelumnya belum pernah aku datangi. Sambil menyelam minum air, begitu pepatah bilang. Sambil bekerja, sambil jalan-jalan alias traveling, hihi!

Namun sudah dua dan mau ke tiga bulan ini, travelingku rada bermasalah. Aku bepergian tidak lagi dengan disertai hati yang damai, jiwa yang tenang, maupun pikiran yang bersih. Kenapa? Masalahnya selalu saja ada percekcokan dan tak jarang berujung pada pembatalan jadwal berangkat, dan atau aku cancel keberangkatan ke waktu lain.

Bagaimana tidak? Jika tarif yang sudah biasa aku bayar, saking biasanya aku sampai hafal berapa tarif dari satu daerah ke daerah lain jika aku sudah pernah mengunjunginya itu kini menjadi berubah naik dan tidak stabil lagi.

jika tarif sekitaran dua bulan lalu, tarif naik gara-gara mau memasuki bulan Ramadan dan masa mudik jelang lebaran, (itu sudah tradisi dan setiap tahun kenaikan stabil sekitar 5-10% besarnya) maka setelah masa tarif lebaran habis, bukannya turun dan stabil, ongkos malah kembali naik dan semakin tidak menentu!

Semua itu karena harga dan kelangkaan BBM. Sebagaimana yang marak diberitakan di media, kalau BBM bersubsidi dikurangi dan langka dijual, maka banyak warga yang berlomba mencari BBM murah itu. Karena langka, tak sedikit warga yang terpaksa membeli pertamax yang harganya cukup mencekik.

Namun imbasnya, ongkos kemana-mana jadi naik dan tidak stabil. Aku yang selama ini mencari sesuap nasi dan tambahan buat beli susu serta popok Fahmi dari kerja keras menjadi kuli (tinta) dari satu daerah ke daerah lain ikut kena imbasnya pula. Ongkos naik, otomatis aku harus cermat dalam bepergian.

Operasional ikut naik, secara tidak langsung menjadi tanggungjawabku kepada atasan. karenanya, aku tidak jarang adu mulut dan saling omel dengan kondektur atau tukang ojek hanya karena tarif yang melonjak tidak sesuai dengan tarif yang biasa.

Belum resmi naik, imbas BBM sudah melandaku. Apalagi nanti (misalnya) kalau benar-benar BBM naik, mungkin aku harus merenovasi operasional pekerjaanku juga?

Speak Your Mind

*