Ngeblog Versus Buku Catatan Hidup

Ngeblog VS Buku Catatan Kehidupan

1433254505825[1]

Malam ini, muslim tengah mengagungkan malam nisfu syaban, dimana malam penilaian buku catatan harian perilaku kita selama satu tahun ditutup untuk dipertanggungjawabkan.

Aku hanya bisa merenung, bagaimana nilai yang tercatat dalam bukuku? Apakah memuaskan atau justru mengkhawatirkan?

Buku catatan dunia maya diupayakan untuk terus diisi. Rasanya begitu gelisah jika beberapa hari saja tidak update publish tulisan. Sementara buku catatan amalan dunia kedua kita kelak, apakah pernah pernah kita pikirkan?

Para penulis dan blogger, ramai ramai membuat tulisan dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Menjadi kebanggaan jika bisa upload cover buku dan mensharenya di wall jejaring sosial. Pernahkah terpikir untuk berlomba lomba memperbaiki “tulisan” kita sehari hari supaya buku catatan hakiki dunia kedua kita kelak bisa lolos sensor para malaikat amal baik dan bisa terbit oleh Sang Maha Penerbit?

Dua buku catatan yang satu fungsi, tapi menjadi tersisih manakala yang satu sangat diagung-agungkan sementara yang satu lagi begitu saja dilupakan.

Aku harus segera merubah pola pikir. Bukan takut tidak bisa upload tulisan ke dalam blog, melainkan takut jika tulisan yang aku upload menyalahi ketentuan. Alih alih bisa menuntun pembaca ke jalan yang diridhoi Nya, yang ada justru aku dibuat lena dengan segala kesemuan serta janji janji abu abunya.

Speak Your Mind

*